Sudah Siap Menyambut Earth Hour 2012??

SAHABAT HIJAU seantero Indonesia! Yukk, rapatkan barisan dan bersiap sambut EARTH HOUR 2012: “INI AKSIKU, MANA AKSIMU?”
Sabtu/ 31 Maret 2012, Pk. 20.30-21.30 waktu lokal masing-masing

Berikut beberapa hal yang HARUS kita lakukan:
1) Matikan lampu dan alat-alat listrik yang TIDAK DIPERLUKAN

2) Sign-up di www.wwf.or.id/earthhour
–> Target kita 1juta sign-up tahun ini. Ini penting untuk menghitung kuantitas keterlibatan Indonesia dalam EH kali ini.

3) Ramaikan sosial media mu dengan follow @EHindonesia dan hashtag #iniaksiku dan #earthhour

4) LIKE fanpage Earth Hour Indonesia di http://www.facebook.com/EHIndonesia

5) Sebarkan info ini ke teman-teman lainnya!

Berikut beberapa hal LEBIH untuk kita lakukan untuk memberi dampak lebih:
1) Approach RT/RW/Lurah/Camat/Walikota/bahkan Gubernur kalian untuk dukung EarthHour dengan memberikan surat himbauan kepada WARGA + GEDUNG-GEDUNG PEMERINTAHAN untuk ikut serta mematikan lampu

2) Approach gedung-gedung/sektor BISNIS di sekitar kamu untuk ikut mematikan lampu. Hanya 1 jam, dan itu hari Sabtu. Seharusnya bisaa!

3) Approach SEKOLAH/UNIVERSITAS kamu untuk ikut mematikan lampu. Bahkan kalau bisa, buat sekolah/universitas kamu jadi salah satu pusat kegiatan di lingkungan kamu dengan membuat suatu AKSI KAMPUS (cek youtube EH tahun-tahun lalu untuk lihat aksi kampus seperti apa saja yang sudah dilakukan teman-teman kita lainnya)

4) Approach MEDIA untuk ikut menyuarakan pentingnya partisipasi kita dalam EH!

Informasi lebih lanjut, cek:
www.wwf.or.id/earthhour
https://www.facebook.com/EHIndonesia
@EHindonesia

SPREAD THE NEWS ya, kawan2!
Happy earthhour-ing!! 😀

Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Terinspirasi lagu Chrisye tentang Surga dan Neraka yang kira2 sepenggal liriknya begini: ‘Jika Surga dan Neraka tak pernah ada, masihkah kau bersujud kepada-Nya?’, aku sedikit tergelitik mengingat pembicaraan dengan seorang teman.

A: Gw belom siap mati. Gw takut masuk neraka. Gw belom banyak berbuat baik.

B: Kenapa harus takut masuk neraka? Emang lo tau rasanya surga ama neraka kayak apa?

A: Kan itu tertulis di Alkitab.

B: Alkitab kan tulisan manusia.

A: Tapi gw mah percaya. Kalo gitu, ngapain lo berbuat baik?

B: Lah? Jadi berbuat baik cuma supaya masuk surga?

A: Sekarang gw tanya, buat apa lo berbuat baik?

B: Gw berbuat baik biar gw juga diperlakukan baik sama orang. Hukum ‘siapa yang menabur, dia yang akan menuai’ itu yang lebih gw percaya.

Kira2 begitu inti pembicaraannya. Ini bukan pembicaraan si realis dan si religius, hanya pembicaraan dua manusia random yang mencuat gara-gara musibah kecelakaan yang menimpa 9 orang pejalan kaki di Tugu Tani.

Kalau kamu sendiri? Buat apa kamu berbuat baik? Sekarang, jika Surga dan Neraka nggak ada, kamu masih mau berbuat baik?

*berkaca* 🙂

Posted with WordPress for BlackBerry.

2 tahun lalu

Hari ini, 18 Januari 2 tahun lalu.

Di dalam perjalanan sepulang dari kegiatan kampus, aku menelepon Papi ke Handphone-nya. Berkali-kali. Tidak ada jawaban. Mungkin di-silent, pikirku. Aku coba hubungi ke rumah. Berkali-kali. Berharap ia dengar dan mengangkatnya. Tidak ada jawaban juga. Aku mulai khawatir. Kondisi Papi saat itu memang kurang baik, ditambah setelah Aldo balik ke Bandung untuk kuliah semester 2.

Mungkin Papi tidur, pikirku. Ini kan sudah malam. Mami pasti belum pulang.

Tapi biarpun begitu, perasaan was-was masih tetap bergelayutan memberati hatiku. Takut Papi kenapa-kenapa. Rasanya ingin cepat sampai rumah.

Setibanya di rumah, benar. Papi tertidur di kamarnya. Aku membangunkannya perlahan. Ia terbangun. Tersadar, tepatnya, karena saat itu aku mendapati Papi ternyata setengah tidak sadarkan diri.

Ia berusaha duduk di ranjang, namun tubuhnya lemah. Aku cemas dan menelepon Mami. Ia sedang dalam perjalanan. Papi berusaha beranjak dari tempat tidur untuk ke kamar kecil. Ia berjalan perlahan, berpegangan ke tembok. Aku memeganginya. Bahkan untuk buang air kecil sendiri pun saat ini Papi tidak bisa. Shock. Sepertinya tadi pagi tidak apa-apa.

Aku membantunya duduk di ruang tamu, menyuapinya dengan bubur kacang hijau yang tidak bisa ia habiskan. Matanya terpejam sesekali, namun ia berusaha untuk sadar dan mengunyah. Aku mengajaknya mengobrol. Apapun. Maksudnya untuk membuat ia tetap sadar dan makan. Ia menanggapi sesekali. Mengangguk, berusaha senyum, menjawab sambil bergumam. Akhirnya ia menyerah dan memutuskan untuk tidur.

Tak lama mami pulang. Ia kembali membangunkan Papi untuk makan. Sepertinya Mami berhasil membuat Papi menghabiskan makanannya.

Aku setengah tertidur ketika aku mendengar bunyi sesuatu terjatuh dan Mami berteriak. Spontan aku keluar kamar dan berlari ke kamar Papi. Papi terjatuh dari tempat tidur. Keningnya terluka terkena undakan di lantai, kepalanya bocor, darah membasahi lantai banyak sekali.

Aku dan Mami berusaha mengangkat Papi ke tempat tidur. Kami panik luar biasa. Papi setengah sadar dan sepertinya sudah tidak merasakan sakit meskipunn keningnya bolong dan darah mengucur deras.

Aku terus mengajak Papi berbicara sambil menahan tangis. Papi menyahuti sambil setengah bergumam. Mami keluar rumah, meminta satpam memanggilkan taksi untuk membawa Papi ke Rumah Sakit terdekat.

Aku, Mami, dibantu Pak Satpam mengangkat Papi yang sudah dililit selimut ke dalam taksi. Sepanjang jalan kami mengajak Papi bicara dan berdoa agar dia tetap sadar. Jantungku rasanya berdetak kencang mengalahkan suara bicara kami. Ya Tuhan, jangan panggil Papi sekarang!!!!! Teriakku dalam hati.

13 Januari 2 tahun lalu.

Aku sedang di dalam angkot ketika Papi menelepon, “Cel, nanti ga usah nginep di Maribeth deh ya. Pulang aja. Mumpung Aldo di rumah, trus Mami jg lagi ga kerja. Biar ngumpul semua.”

“Yah, Papi. Cella udah janji mau bantuin Maribeth acara ultahnya.”

“Ya udah, terserah Cella deh. Nggak bisa dibilangin.”

“Kenapa sih harus Cella terus yg nyocokin jadwal sama mereka? Kenapa nggak Aldo? Kenapa kalo pas Cella di rumah, Aldo Papi suruh ga usah main??”

“Ya udah. Gapapa deh. Hati-hati ya. Daaaa..”

“Daaa…”

19 Januari 2 tahun lalu – tengah malam

Aku berdiri sendirian di depan Rumah Sakit yang kami datangi. Mereka bilang, Papi sudah tidak ada harapan lagi dan tidak menyanggupi merawat Papi. Dengan perasaan marah, kecewa, sedih, takut, aku dan Mami memutuskan membawa Papi ke Rumah Sakit lain yang lebih baik. Aku ingat kata2 Mami di dalam tadi, “Jangan sedih ya, Cel. Waktu itu juga semua dokter bilang Papi ga ada harapan, tapi ternyata Papi sembuh kan?” Kata-kata itu yang menjadi keyakinan dan kekuatanku malam itu. Namun entah mengapa, tetap ada perasaan ragu menyisip melalui sela-sela benteng pertahananku. Mungkin memang Papi tidak bisa bertahan lagi kali ini.

Aku menelepon Aldo sambil menunggu taksi. Aku memilih kata sebaik mungkin agar dia tidak terkejut aku meneleponnya tengah malam untuk mengabarkan Papi masuk Rumah Sakit. Tapi ternyata Aldo tetap panik. Ia memutuskan untuk pulang besok paginya, tapi aku menahannya dengan alasan yang hanya aku sendiri yang tahu: mungkin nanti Aldo butuh pulang lebih lama kalau memang Papi benar-benar tidak kuat lagi. Jadi lebih baik ia menyimpan jatah bolosnya dulu sekarang.

Mengantar Papi ke Rumah Sakit malam itu merupakan sebuah perjalanan paling panjang dalam hidupku. Meskipun jarak sesungguhnya tidak sampai setengah jam dari rumah, tapi sepertinya memakan waktu seumur hidup untuk sampai ke tempat itu. Segala macam pikiran berkecamuk di otak seperti berebut mendapat prioritas untuk dihiraukan.

Pintu taksi terbuka, gedung Rumah Sakit yang terang benderang menjadi latar belakang suasana saat itu. Ranjang pasien, berikut dengan beberapa orang perawat sudah siap. Mereka mengangkat Papi dan Papi segera dilarikan ke ICCU. Aku dan Mami mengurus administrasi dan segala sesuatunya.

Panik. Mami tidak bisa memutuskan apa-apa. Aku yang harus tetap ‘terjaga’. Saat itu aku bukan hanya harus memutuskan tindakan-tindakan apa saja yang boleh dan bisa diberikan kepada Papi, tapi juga harus memutuskan tindakan-tindakan apa saja yang boleh dan bisa diberikan kepada keluarga kami. Aku melihat Papi di ranjang ruang ICCU. Matanya terpejam dan di tubuhnya dipasangi alat-alat. Aku merasa, Papi berpamitan. Ia mempersiapkan segalanya selama setengah tahun, setelah ia keluar dari Rumah Sakit sebelum ini. Oh, tidak. Salah. Ia telah mempersiapkannya seumur hidupku. 21 tahun sudah cukup baginya.

19 Januari 2012 – tengah malam – jam yang sama seperti 2 tahun lalu

Sampai beberapa jam lalu aku masih berfikir bahwa pesan terakhir Papi padaku adalah: “Jangan boros-boros ah”, tapi ternyata tanpa disadari, pesan terakhir Papi sudah tertanam di alam bawah sadarku: “Mumpung Aldo di rumah dan Mami ga kerja, ngumpul di rumah yuk.”

Saat ini, waktu-waktu bersama keluarga merupakan waktu yang sangat berharga buatku. Tak ternilai harganya. Karena kamu tidak akan tahu sampai berapa lama lagi waktu itu tersisa. Tidak akan ada yang mengira. Jadi, selagi masih sempat, manfaatkanlah 🙂

Posted with WordPress for BlackBerry.

Buatku, Indonesia MASIH Belum Merdeka

Maaf.

Buatku, Indonesia masih belum merdeka.
Jangan marah dulu.
Aku masih mendapati saudara-saudaraku kelaparan, tidur di kolong jembatan, di bantaran kali, atau di pinggir rel kereta dan tidak memiliki penghidupan yang layak.
Aku masih menemukan adik-adikku yang belum bisa memperoleh pendidikan, belum bisa membaca dan menulis.
Aku masih melihat kaum elit politik yang menginginkan mobil baru, meributkan bangunan baru, mempersoalkan gaji, sementara rakyat susah makan.
Aku masih membaca berita tentang para koruptor yang bebas dari jerat hukum dan dengan leluasa melancong keliling dunia.
Aku masih menonton berita tentang aksi kejahatan dan terorisme di negeri sendiri.
Aku masih mendengar cerita teman-temanku yang tidak bisa beribadah karena tempat ibadahnya dirusak.
Aku masih merasakan adanya diskriminasi.

Tapi…
Buatku,suatu saat Indonesia akan merdeka.
Aku mendapati orang-orang yang peduli dengan nasib orang-orang miskin dan bergerak untuk menciptakan kemanusiaan yang adil dan beradab.
Aku menemukan para pendidik yang mendedikasikan hidupnya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Aku melihat sekumpulan masyarakat yang tidak menuntut adanya mobil baru, bangunan baru, atau gaji besar, namun memperhatikan soal kesejahteraan rakyat.
Aku membaca berita tentang para aktivis berjuang untuk menegakkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Aku menonton berita tentang relawan yang mencurahkan waktu dan tenaganya untuk membantu korban bencana dan terorisme.
Aku mendengar cerita teman-teman tentang indahnya keberagaman antarumat beragama di tempat mereka atas dasar Ketuhanan Yang Maha Esa.
Aku merasa keberadaanku diakui di Indonesia sebagai Warga Negara Indonesia Keturunan Tionghoa karena adanya persatuan Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika.


Dirgahayu Indonesiaku.

17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2011.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Pemuda se-Asia Pasifik Akan Bahas Isu Lingkungan

“Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengumpulkan anak-anak muda dari negara-negara di Asia Pasifik dalam menyusun rencana sebuah aksi lingkungan yang kemudian akan diimplementasikan di negara masing-masing. “

 

Kamis, 4 Agustus 2011

Bandung (ANTARA News)-Sejumlah pemuda dari negara-negara Asia Pasifik akan membahas isu lingkungan dalam “Asia Pacific Youth Assembly (APYA) on Global Environmental Issues 2011/Majelis Pemuda Asia Pasifik dalam Isu Lingkungan Global 2011”, di Jakarta, September mendatang.

“Hingga saat ini sudah ada 30 pemuda berasal dari 9 negara di Asia Pasific yang sudah terpilih sebagai delegasi negara mereka,” ungkap Ketua Sekretariat LSPR “Climate Change Champions Community” (4C), Lidwina Marcella, ketika dihubungi lewat surat elektronik, Kamis.

Kegiatan berskala internasional ini diselenggarakan oleh The London School of Public Relation (LSPR) Jakarta yang akan diikuti sejumlah negara di Asia Pasifik, di antaranya Australia dan negara-negara di Asia Tenggara dan Asia Timur.

Tema yang diusung merupakan tema lingkungan yang melibatkan aksi para pemuda dalam membuat perubahan gaya hidup.

Menurut Lidwina, tujuan kegiatan ini adalah untuk mengumpulkan anak-anak muda dari negara-negara di Asia Pasifik dalam menyusun rencana sebuah aksi lingkungan yang kemudian akan diimplementasikan di negara masing-masing.

Para pemuda tersebut, lanjut Lidwina, akan berdiskusi dalam menentukan tindakan nyata yang bisa menjadi solusi bagi masalah perubahan iklim. Salah satunya dengan cara melakukan perubahan gaya hidup.

“Aksi tersebut harus sederhana, memiliki pengaruh yang bisa diukur, mampu mengajak orang banyak untuk berpartisipasi, dan juga mampu mengajak media,” terangnya.

APYA on Global Environmental Issues 2011 berisikan sejumlah rangkaian kegiatan yang akan berlangsung pada 6-10 September mendatang di Jakarta.

Rangkaian kegiatan tersebut, di antaranya seminar, kunjungan ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII), FGD (Focus Group Discussion/diskusi kelompok terfokus).

Seminar akan dibagi ke dalam 3 tema besar, yaitu Kepemimpinan dan Lingkungan, Inisiatif Pemuda, dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

“Pembicara yang akan dihadirkan dalam seminar tersebut adalah alumni-alumni British Council Global Changemaker, WWF Indonesia, dan Kementerian Lingkungan Hidup,” lanjut Lidwina.

Pada tanggal 10 September juga akan digelar pameran bertajuk “Green Carnival” yang akan menampilkan kesenian budaya Indonesia dan negara-negara Asia Pasifik.

“Akan ada juga pertunjukan film tentang lingkungan dari klub film, Movies Explorer Club ,” tutup Lidwina.

Editor: Ella Syafputri

 

sumber: http://www.antaranews.com/berita/270155/pemuda-se-asia-pasifik-akan-bahas-isu-lingkungan

My Questions About ‘Feelings’

Here are my thoughts before I go to sleep. Well, I can’t sleep, though. That is why these thoughtful yet unanswered questions come up in my mind. You can freely change the ‘him’ into ‘her’ or ‘he’ into ‘she’ if you have spare time to read it and question yourself.

So the basic question is: When you said you love someone, what exactly do you feel?

1. Will you cry when he cries? Or maybe you just feel sad about it and tell something to please him?

2. Will you laugh when he laughs? Or maybe you just smile?

3. Do you listen every single word he tells you? Or maybe you just hear him talking and you’re trying to figure out what should you tell next?

4. Do you really care about his concerns?

5. Will you change your habit just because of him?

6. Are you worried about him when he’s out of your reach?

7. Do you miss him every time and what you wish to do is just with him every single moment?

8. More specifically: do you miss his lips when he’s smiling, his eyes when he’s staring at you, his arms when he’s holding you, his everything? Do you ever wish you are with him right now?

9. Have you ever wished you will always be with him? No one can split you, not even God, u think.

10. Are you unconsciously smiling when you’re thinking of him?

11. Are you hoping that every time your phone’s ringing it’s him who is calling or texting?

12. Have you ever wished that you are the one he’s looking for when he has a trouble or even just when he needs someone to talk to?

13. Are you really considering his thoughts, his feelings, and everything?

14. Are you trying to make him comfortable with you for being you?

15. Have you ever hold to show your sadness or disappointment of something and pretended to be as happy as you can just to make him smile because he has been through something bad today?

16. Do you think that you’re a Dynamic Duo? You’re meant to be together? You’re a best couple you can be.

17. Do you tell him everything even if it will make him upset?

18. Is it him who is the first person who come up in your mind every time you’re sad or when you’re happy? He’s the one who you want to share your feelings with.

19. Have you ever imagined that he’s your ‘the one’ and wished that he will be your last?

20. Have you ever felt that you can get through every storm in life if you are with him? Nothing can separate you, not even your family, your religion, your race, or everything.

21. Will you still be with him whatever happens with him, even if he’s not handsome anymore, not funny anymore, not cute anymore, he becomes a grumpy man, he’s broke, he’s sick?

22. Is he your best friend whom you can go wild and crazy together, your best partner whom you can share everything, your big brother whom you can depend on, your father who is your role model, even your little brother whom you can pamper.

Well, I don’t need the answer. You can answer it by yourself. There are no good and bad answers. There are no rights and wrongs.I can’t analyse your feeling either. But the most important thing to ask is: who is ‘he’ or ‘she’ are you thinking of when you’re reading this post? And I appreciate if you may tell me who the person is. 🙂

Posted with WordPress for BlackBerry.

#3 My Libra Soul-Mate

I got a message from my best friend, Priti that told that she left a note in a yellow paper in my bag. I was walking on a busway bridge on my way home. I looked for the note and I found it. It brought tears in my eyes when I read it: “Pasti maksud sebenernya lo yg kecewa kan Cel, bukan ie? Padahal harusnya gw pulang bareng lo, tp gw malah milih ketemu cumi. Maaf ya gw nyebelin, tp gw yakin lo bs ngerti =)”

—–

We have been friends since we were in Junior High School. We shared almost 11 years of laughs and tears together. We also shared the same feeling to one guy in JHS. Ahaha.. Yeah, we liked that same guy, but she didn’t know about it until we finished JHS. We shared happiness, stories, ideas, dreams, silly things, doubts, sadness, almost everything. There’s nothing I didn’t tell her. She’s like my diary and also I am for her.

I can read her mind and she can read mine, too. I can imagine what she will do if she faces a certain situation or if she meets someone new and it was true. I sometimes can put myself in her shoes just because strangely we often faced the same circumstances, and so did she. We have been through things together since we were silly teenagers.

She is a Libra girl. We both like to read people characteristics base on their zodiac sign. If one of us likes a guy, the other will ask his zodiac sign before judge him. If we met someone new or get involve with someone, each of us will also ask his zodiac sign. Haha.. Silly and shallow, isn’t it? But this is one of many things that makes us compact.

We live miles away. I live in Jakarta and she lives in Jogjakarta. She before lived in Bandung after she graduated from Senior High School. We didn’t even go to the same SHS. We rarely met each other, but distance seems can’t separate us.

Love her is like nature for me. This is like when you love your own family. No one asked you to love them, but you just love them. That’s simple.

She asked me this noon, “If someone ask you, ‘do you love Priti’, what will be your answer?” — as a best friend of course.

I replied, “Yes, of course.”

“Nah! I do love you also. But I don’t know how to describe this feeling. Love for a best friend. It’s like I don’t know how to describe how I love my siblings. It just happened,” she said. “I can describe my feeling for a guy I love, but I can’t describe my feeling for my friends or my family,” she added.

For me, it is. I don’t know how to describe it either, but I can feel it. And I just want to tell her this. She just have to feel it.

I felt this feeling again when I read her note just now. I cried because what she wrote was almost true. I was a little disappointed with her, but I couldn’t mad at her. It was actually not because I can’t made at her, but it was because I didn’t want to. I am way too understand her until I can accept whatever reasons she gave to convince me. I was selfish and she was, too. We both sometimes feel like the world is only spinning for each of us. Sometime it’s only for me and sometime it’s only for her and at that time, it was only spinning for her. But I was totally understand. Is it weird if I said that I enjoyed the feeling? I was. I enjoyed every time she talked about her stories, her love-life. I even enjoyed her short-memory-syndrome. But I also enjoyed talking about myself, the way she listened to me even if I knew she will forget some not-too-important things for her which were maybe important to me.

We talked about almost everything, start from silly girl things, celebrities, gossips, foods, movies, musics, guys, love, religions, until we talked about God and universe. I’m a little bit dominant and she is a little bit passive. I can be a steer for her and she can be a break pedal for me. But we can exchange position.

We were sometimes argue each other, but it was me who were often criticism her. I didn’t always like her and she didn’t always like me either. But she was never ever mad at me. Never! Even if I did stupid things that made her laugh, even if I was so annoying that made her cry, even if I made wrong decision that made her worried, she just sat and watched me. She told me if only I was about to cross the line.

I sometimes felt that I was protesting and complaining about her this and that too much. But I did it because I wanted the best for her. I just wanted her to be happy.

How could you expect more from your best friend if you have her for half of your life? This is what I feel. Maybe God made a mistake when He created her. She should be my twin or my soul-sister. That was why He made up His mistake by making her my best friend, a sister whom I can choose.

So for you, Prit, this is what I feel about having you as a best friend and also a sister in my life. I maybe haven’t thanks to you enough to show how grateful I am. I have never ever regretted to choose you over ‘that same guy’. I chose the right option. You knew it.

One thing, you don’t have to describe your feeling about love to anyone. It’s a felling. What you need to do is just feel it! 🙂

I love you,
Cella

Posted with WordPress for BlackBerry.