Setelah Menikah, Aku Jadi Tau…

Setelah menikah, aku jadi tau…

Kenapa Mami dulu suka marah-marah ketika ia pulang dan menemukan piring-piring kotor di meja makan atau di cucian piring.
Karena ternyata Mami masih harus mencuci baju yang sudah setumpuk di ember, masih harus dijemur, dan besoknya disetrika, sampai tangganya pegal karena mengucek dan memeras pakaian, sampai tangan dan jari-jarinya kasar karena terlalu banyak kena detergen.

Kenapa Mami dulu suka marah-marah kalau mainan berserakan di lantai atau remah-remah biskuit berantakan di kasur.
Karena ternyata Mami harus membereskan tempat tidur yang penuh remah-remah biskuit, memunguti mainan-mainan di lantai, menata kembali mainan-mainan tersebut di tempat semula, mengelap meja, menyapu lantai, lalu mengepelnya, sampai tangannya kapalan karena menyapu, sampai pinggangnya pegal karena kelamaan berjongkok untuk mengepel, sampai pantatnya sakit kelamaan duduk ketika menyetrika.

Kenapa Mami dulu suka sedih kalau Papi bilang makanannya nggak enak atau kalau aku dan Aldo minta makan di luar.
Karena ternyata Mami sudah susah payah becek-becekan dan bau-bauan ke pasar, mencari bahan pangan yang paling murah namun berkualitas, nelpon Oma untuk menanyakan resep makanan yang kira-kira akan disukai suami dan anak-anaknya, lalu berjam-jam berdiri di dapur untuk memasak sampai rambutnya bau asap, sampai jarinya mungkin teriris pisau, sampai matanya perih karena mengiris bawang merah, sampai tangannya mungkin kena cipratan minyak panas, sampai bajunya kena kecap.

Kenapa Mami dulu suka marah-marah kalau anak-anaknya nggak bisa disuruh tidur.
Karena usahanya untuk membangunkan anak-anaknya untuk sekolah keesokan harinya berarti harus lebih keras.
Karena ternyata selain itu ia masih harus menyiapkan bekal untuk sarapan anak-anak dan suaminya sampai dia harus bangun paling pagi di antara semuanya.

Sebelum menikah, aku belum tau…

Betapa capeknya Mami setiap hari sampai sering minta anak-anaknya pijitin.
Betapa kesalnya Mami kalau anak-anaknya nolak kalau dimintain bantuan.
Betapa sedihnya Mami kalau anak-anaknya ngelawan kalau dibilangin.

Sebelum menikah, aku cuma tau…

Mami selalu bilang, “Nanti Cella tau sendiri kalau udah nikah.”

Sekarang, setelah menikah, aku jadi tau kalau pekerjaan Mami sangat berat. Kalau menjadi istri dan ibu rumah tangga itu pekerjaan yang berat. Salut kepada perempuan-perempuan di luar sana yang masih bisa membagi waktu antara menjadi ibu rumah tangga juga menjadi wanita karir.

Terima kasih kepada mesin cuci, kain pel berteknologi tinggi yang tidak perlu jongkok, dan tentunya para pengusaha laundry kiloan. They makes my life so much easier :))

Tribute to all women out there. You are the real super heroes!

Advertisements

Tuhan Memang Satu, Kita yang Tak Sama?

Sudah lama nggak menuangkan pikiran dan perasaan di blog. Ternyata setelah kemarin sempat ngobrol dengan salah satu sepupu yang kebetulan Ayahnya adalah seorang Pendeta, akhirnya tergugah lagi untuk menuangkannya dalam sebuah tulisan (yang mungkin akan cukup kontroversi) Hehehe…

Kami berbincang-bincang soal agama Islam dan Kristen, sebab awal mulanya saya mencontek salah satu kalimat dari lagu Peri Cintaku yang berisi, “Tuhan memang satu, kita yang tak sama.” Lalu dia berkata bahwa secara garis besar memang kelihatannya Tuhan kita sama, tapi sebenernya beda. Kemudian ia menjelaskan bahwa di dalam agama Islam disebutkan bahwa Yesus tidak disalib, mati, lalu bangkit lagi, melainkan Tuhan membuatnya terlihat seperti itu untuk mengelabui musuh-musuhnya. Di dalam Islam juga terdapat beberapa pendapat yang mengatakan bahwa salah seorang musuhnya diserupakan dengan Yesus, sedangkan Yesus sendiri diangkat langsung ke surga dan musuhnya yang diserupakan tadi adalah orang yang disalib.

Terlepas dari pada itu, saya berkata bahwa yang saya maksud dengan “Tuhan yang satu” adalah Allah Bapa, atau Allah SWT seperti yang disebutkan di dalam Islam.

Kemudian ia pun berkata lagi, kali ini dengan mengutip sebuah ayat Alkitab yang isinya kira-kira begini: “Barang siapa yang datang tanpa melalui Aku, tidak dapat masuk ke Kerajaan Allah.” ‘Aku’ yang dimaksud di sini adalah Yesus. OK. Saya sudah sangat sering mendengar kutipan ayat ini ketika berdiskusi tentang agama dengan beberapa orang (yang tentunya beragama Kristiani). Mungkin setelah membaca tulisan ini, saya akan dicap macam-macam. Sudah sering saya dicap ‘tidak kenal Tuhan’ dan lain-lain lantaran melontarkan pernyataan semacam ini.

 

Beginilah pernyataan saya mengenai Tuhan yang Satu.

 

Beberapa orang (hampir semua orang) yang berdiskusi dengan saya tentang ini biasanya akan selalu mengeluarkan kutipan ayat Alkitab tadi, namun mengapa mereka tidak mengutipnya secara lengkap?

“Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”” –Yohanes 14:6. Itulah kutipan yang benar dan lengkap dari Alkitab mengenai ayat yang mereka maksud tadi.

Beberapa orang (lagi-lagi hampir semua orang) yang berdiskusi dengan saya bersikeras bahwa mereka yang tidak percaya pada Yesus, tidak akan bisa masuk Surga, sementara yang percaya pada Yesus sudah ada jaminan masuk surga karena kita semua Anak-Anak Allah! Lalu surga cuma boleh diisi oleh yang beragama Kristen dan Katolik saja dong? Bagaimana dengan mereka yg beragama Buddha, Hindu, Kong Hu Chu, Shinto, atau bahkan aliran-aliran kepercayaan yang dianut oleh masyarakat adat di seluruh dunia yang tentunya tidak mengenal agama? Pertanyaan lain pun muncul lagi. Bagaimana dengan mereka yang percaya pada Yesus namun selama hidupnya selalu berbuat jahat? Mengatasnamakan Yesus untuk menipu orang, korupsi, terlebih lagi membunuh? Apakah mereka tetap bisa masuk surga?

Mereka biasanya akan berkata bahwa orang jahat yang bertobat pasti akan diampuni dosa-dosanya, karena di Kristen dan Katolik mengenal cara pengampunan dosa. Tidak bermaksud nyinyir, tapi kalau pemikiran dan kepercayaannya seperti ini, enak banget dong jadi Kristen dan Katolik? Habis berbuat dosa, kita mengaku dosa saja, dosanya ulang lagi dari nol (0) dan tetap punya peluang masuk surga.

Saya (yang masih sangat awam dan tidak tau apa-apa dengan ilmu teologi begini) merasa sesungguhnya kutipan ayat Alkitab tesebut sangat baik. Sayang sekali jika ditafsirkan untuk mengecap mana orang yang bisa masuk surga dan mana yang tidak bisa, mana orang yang baik dan mana yang tidak. Merasa seperti itu, saya lalu merenungkannya dan menemukan pencerahan terhadap ayat tersebut. Saya membedahnya menggunakan pendekatan silogisme yang pernah kita pelajari waktu SD di pelajaran Bahasa Indonesia. Mungkin masih ingat. Jika sudah lupa-lupa ingat, baiklah akan saya ingatkan sedikit.

Silogisme adalah proses berpikir yang bertolak dari satu atau lebih premis, yakni pernyataan-pernyataan yang mendahului kemudian ditarik suatu kesimpulan menurut prinsip-prinisip logis, perlawanan dan pendasaran yang mencukupi. Silogisme merupakan jenis deduksi yang banyak digunakan jika seseorang menyusun suatu argumentasi. Yang mau saya gunakan di sini adalah Silogisme Golongan. Pada silogisme jenis ini terdapat dua permis dan satu kesimpulan. Kedua premis tersebut terdiri dari premis umum dan premis khusus atau disebut juga premis mayor dan premis minor.

a. Premis umum menyatakan bahwa semua anggota golongan tertentu memiliki sifat atau hal tertentu.

b. Premis khusus menyatakan bahwa sesuatu atau seseorang adalah anggota dari golongan tertentu itu.

c. Kesimpulan menyatakan bahwa sesuatu atau seseorang itu.

 

Jika dirumuskan:

PU : A = B

PK : C = A

K : C = B

 

Keterangan:

PU = premis umum

PK = premis khusus

K = kesimpulan

 

Contoh silogisme golongan

PU: Semua unggas berkembang biak dengan cara bertelur.

PK: Ayam adalah unggas.

K : Ayam adalah petelur.

 

Nah, kalau dari ayat Alkitab tadi tertulis, “Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.””.

Di sana juga terdapat premis umum dan premis khusus.

Premis Umum: Aku-lah jalan dan kebenaran dan hidup.

Premis Khusus: Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Kesimpulan: Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui jalan kebenaran dan hidup.

 

Jalan kebenaran dan hidup yang dimaksud di sini tentunya adalah segala perbuatan yang baik dan yang benar dalam hidup.

Lagi-lagi, di sini saya tidak ingin berkata bahwa mereka salah dan saya benar. Semua orang tentu memiliki pemikiran sendiri terhadap agama dan kepercayaan yang dianutnya. Mereka mungkin boleh berkata saya tidak mengenal Tuhan karena saya berpikiran seperti ini. Tapi seperti yang pernah saya katakan kepada orang sebelumnya (yang mengatakan bahwa saya tidak mengenal Tuhan karena berpikiran seperti ini), saya lebih baik dicap oleh mereka sebagai orang tidak mengenal Tuhan daripada saya harus mengecap orang lain yang tidak mengenal Yesus sebagai orang yang tidak baik dan tidak pantas masuk surga. Apakah kita pernah menemukan sikap Yesus yang menunjukkan sifat ego, tidak bertoleransi, tidak mengasihi orang lain, dan mengecap orang lain?  Yesus adalah penyataan kasih Allah kepada umat manusia! Bahwa Yesus datang ke dunia bukan membawa agama (Kristen dan Katolik), melainkan perubahan sikap dan perilaku mengasihi sesama manusia.

Saya jadi ingat satu kejadian yang dicatat dalam Alkitab, saat sekelompok orang terkemuka mendatangi Yesus sambil menyeret seorang pelacur. Mereka ingin menjebak Yesus dengan bertanya, “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” Yesus berkata, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya, “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Yohanes 8:2-11)

Lalu, siapakah kita hingga berani mengecap orang lain jahat, bahkan sampai menghukum mereka, jika Yesus saja tidak melakukan hal tersebut kepada seorang pelacur?

 

Bahwa Tuhan datang ke dunia bukan membawa agama.  Agama adalah ciptaan manusia. Sudah lebih dari cukup Agama membawa manusia ke jurang perpecahan, kecurigaan, bahkan kematian.

Mencintai dengan Sempurna

1560606_10203203363304872_207687480_nAda orang bilang, “sesungguhnya cintailah orang yg tidak sempurna dengan sempurna”.

Papi adalah orang yg paling tidak sempurna bagiku. Dari kecil aku selalu berdoa supaya nanti nggak punya suami kayak Papi! Dia orang paling manja yg aku temui, orang paling posesif, paling suka ngeluh, pemarah! ‘Kalau ada istilah Drama King, Papi pasti dpt gelar itu’, pikirku waktu itu.

Namun ternyata, di balik kemanjaannya kepada keluarga, justru ia adalah orang yang paling peka kalau ada salah satu dari kami knp2. Ia akan jadi orang nomor satu yg mengurusi kami kalau kami sakit. Ia yang paling repot nyariin obat, ngompres kepala biar panas cepat turun, ingetin minum obat, nyuruh makan, dan masih banyak hal lain yang harusnya bisa kami lakukan kepadanya ketika ia sakit.

Di balik sikap posesifnya, ia adalah orang nomor satu yg bisa diandalkan. Ia akan melakukan apapun utk anak2 dan istrinya. Ia orang yang paling pertana nelponin kami kalau belum pulang dan paling terakhir mengantar kami kalau kami pergi. Aku tak pernah melihatnya pergi duluan kalau busku belum jalan, atau antar jemput sekolahku belum belok dari gang, atau aku belum hilang ditelan manusia-manusia di ruang check-in pesawat. Ia akan mencium, tapi lalu minta dicium.

Di balik keluhan2nya, ia adalah orang yang palinggggg sabar dan paliiingg tegar yang aku temui. Mungkin ia hanya lupa mengucap syukur. Tp ia berhasil melewatinya sampai akhir.

Ia adalah pemarah yang pemaaf. Ia pecinta yang terluka.

Papi bukan orang yang sempurna tetapi ia mencintai keluarganya dengan sempurna.Mami dan Papi

Hari ini 4 tahun kepergian Papi. 4 tahun lalu, di rumah sakit, Papi yg tdk pernah suka dgn perayaan Imlek tiba2 bertanya, “yah.. Papi masih sempet nggak ya ngerayain Imlek?”. Kami terdiam. Dalam hati mungkin kami tau, Papi nggak akan lama lagi. Imlek masih 7 hari lagi.

Hari ini Imlek, Pi. Selamat tahun baru. Maaf. Cella terlambat mencintaimu dgn sempurna.

Sincerely Yours

Dear You,

I don’t need to be told that I am pretty today.
That you love my lips when I am smiling.
That you love my eyes when I am laughing.
That you love dress or my hair or my shoes.
That you love the smell of my lotion.

Please tell me that everything is gonna be OK.
That I don’t need to worry about anything.
That it is OK for me to complain if I feel something is wrong.
That it is also OK for you to complain, not because you think I am a drama queen.
And the most important thing is I need to be told that you love me just because I am ME.

Thanks for being here and there for me.

Yours,
Me.

All I Want For Birthday are….

I always love March!!
First is because the whole month, my campus always hold an Environmental Month; Second is because it’s Earth Hour; But most of all is because of the 27th of March is my BIRTHDAY!!!

And tomorrow is already March the 1st! Just for FUN, I would like to write down some things that I want for my day, so you have 26 days to hunt the birthday presents that (just in case if) you want to give to me :p

Here are the things:
– I always love surprise but sometimes (well, mostly) I can smell it when some people already arranged the surprise for me. It’s hard to pretend that you don’t know a thing. I’m not a good actress, though. Hahaha.. That’s bad. I know 😦

– I don’t like cakes, but I like the chocolate ones!

– I’m a girly girl, but I don’t like if people give me dolls or flowers. It’s sweet, but it’s useless for me. I don’t sleep with dolls and I can’t eat flowers :p

– I love sweets, but I don’t like candies. I prefer chocolates.

I LOVE to read. I LOVE BOOKS, especially NOVELS. I will mention what novels I still don’t have and I want to buy:
» I already have all Harry Potter Series, but I still really want to collect all British Version (not the American ones)
» I love Enid Blyton so much! She’s my idol and inspiration since when I was a young girl. I’m still looking for Malory Towers series with the old cover (the blue ones) and also St. Claire series number 5 and 6 with the old cover as well
» I adore Paolo Coelho with his words and thoughts. I need to collect his books! English version is better
» I’m still waiting someone to give me all version of Chicken Soup 🙂
» Indonesian author that I adore is Dee Lestari. I have read all her novels. So this year I need to collect all Supernova novels!

– I also LOVES to watch DVDs, especially series, so I want to have the DVDs (I don’t care if it’s not original :p Me bad)
» I have already Gilmore Girls series until 4th Season
» I already watched all season of Charmed, but I want to collect the DVDs
» Ghost Whisperer and Desperate Housewives. I watched some seasons, but I want to collect them also :p
» Harry Potter. But for these, I want the original ones. Haha..

– I love everything about UK, so I would love to receive souvenirs from UK or maybe only UK stuff and merchandise you get from Indonesia would be nice xD

– I love to tweet and I’m getting tired with my blackberry, so I would love someone who will get me a Samsung S2 or a Galaxy Tab 7+ or maybe an ipad xD

Macbook Air!!!

– Round trip ticket to London or Montana! If someone give me this, I won’t forget him or her or them for the rest of my life, and I will be so much thankful and grateful to have him or her or them in my life, plus I will pray for him or her or them everyday and night, may all good things happen in their life and many happy returns! 🙂

That’s all.

I will open my arms to receive these things. Hope someone read this post and make them mine :p

Hahaha..

Thank you in advance!

Best,
Cea xD

Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Terinspirasi lagu Chrisye tentang Surga dan Neraka yang kira2 sepenggal liriknya begini: ‘Jika Surga dan Neraka tak pernah ada, masihkah kau bersujud kepada-Nya?’, aku sedikit tergelitik mengingat pembicaraan dengan seorang teman.

A: Gw belom siap mati. Gw takut masuk neraka. Gw belom banyak berbuat baik.

B: Kenapa harus takut masuk neraka? Emang lo tau rasanya surga ama neraka kayak apa?

A: Kan itu tertulis di Alkitab.

B: Alkitab kan tulisan manusia.

A: Tapi gw mah percaya. Kalo gitu, ngapain lo berbuat baik?

B: Lah? Jadi berbuat baik cuma supaya masuk surga?

A: Sekarang gw tanya, buat apa lo berbuat baik?

B: Gw berbuat baik biar gw juga diperlakukan baik sama orang. Hukum ‘siapa yang menabur, dia yang akan menuai’ itu yang lebih gw percaya.

Kira2 begitu inti pembicaraannya. Ini bukan pembicaraan si realis dan si religius, hanya pembicaraan dua manusia random yang mencuat gara-gara musibah kecelakaan yang menimpa 9 orang pejalan kaki di Tugu Tani.

Kalau kamu sendiri? Buat apa kamu berbuat baik? Sekarang, jika Surga dan Neraka nggak ada, kamu masih mau berbuat baik?

*berkaca* 🙂

Posted with WordPress for BlackBerry.

2 tahun lalu

Hari ini, 18 Januari 2 tahun lalu.

Di dalam perjalanan sepulang dari kegiatan kampus, aku menelepon Papi ke Handphone-nya. Berkali-kali. Tidak ada jawaban. Mungkin di-silent, pikirku. Aku coba hubungi ke rumah. Berkali-kali. Berharap ia dengar dan mengangkatnya. Tidak ada jawaban juga. Aku mulai khawatir. Kondisi Papi saat itu memang kurang baik, ditambah setelah Aldo balik ke Bandung untuk kuliah semester 2.

Mungkin Papi tidur, pikirku. Ini kan sudah malam. Mami pasti belum pulang.

Tapi biarpun begitu, perasaan was-was masih tetap bergelayutan memberati hatiku. Takut Papi kenapa-kenapa. Rasanya ingin cepat sampai rumah.

Setibanya di rumah, benar. Papi tertidur di kamarnya. Aku membangunkannya perlahan. Ia terbangun. Tersadar, tepatnya, karena saat itu aku mendapati Papi ternyata setengah tidak sadarkan diri.

Ia berusaha duduk di ranjang, namun tubuhnya lemah. Aku cemas dan menelepon Mami. Ia sedang dalam perjalanan. Papi berusaha beranjak dari tempat tidur untuk ke kamar kecil. Ia berjalan perlahan, berpegangan ke tembok. Aku memeganginya. Bahkan untuk buang air kecil sendiri pun saat ini Papi tidak bisa. Shock. Sepertinya tadi pagi tidak apa-apa.

Aku membantunya duduk di ruang tamu, menyuapinya dengan bubur kacang hijau yang tidak bisa ia habiskan. Matanya terpejam sesekali, namun ia berusaha untuk sadar dan mengunyah. Aku mengajaknya mengobrol. Apapun. Maksudnya untuk membuat ia tetap sadar dan makan. Ia menanggapi sesekali. Mengangguk, berusaha senyum, menjawab sambil bergumam. Akhirnya ia menyerah dan memutuskan untuk tidur.

Tak lama mami pulang. Ia kembali membangunkan Papi untuk makan. Sepertinya Mami berhasil membuat Papi menghabiskan makanannya.

Aku setengah tertidur ketika aku mendengar bunyi sesuatu terjatuh dan Mami berteriak. Spontan aku keluar kamar dan berlari ke kamar Papi. Papi terjatuh dari tempat tidur. Keningnya terluka terkena undakan di lantai, kepalanya bocor, darah membasahi lantai banyak sekali.

Aku dan Mami berusaha mengangkat Papi ke tempat tidur. Kami panik luar biasa. Papi setengah sadar dan sepertinya sudah tidak merasakan sakit meskipunn keningnya bolong dan darah mengucur deras.

Aku terus mengajak Papi berbicara sambil menahan tangis. Papi menyahuti sambil setengah bergumam. Mami keluar rumah, meminta satpam memanggilkan taksi untuk membawa Papi ke Rumah Sakit terdekat.

Aku, Mami, dibantu Pak Satpam mengangkat Papi yang sudah dililit selimut ke dalam taksi. Sepanjang jalan kami mengajak Papi bicara dan berdoa agar dia tetap sadar. Jantungku rasanya berdetak kencang mengalahkan suara bicara kami. Ya Tuhan, jangan panggil Papi sekarang!!!!! Teriakku dalam hati.

13 Januari 2 tahun lalu.

Aku sedang di dalam angkot ketika Papi menelepon, “Cel, nanti ga usah nginep di Maribeth deh ya. Pulang aja. Mumpung Aldo di rumah, trus Mami jg lagi ga kerja. Biar ngumpul semua.”

“Yah, Papi. Cella udah janji mau bantuin Maribeth acara ultahnya.”

“Ya udah, terserah Cella deh. Nggak bisa dibilangin.”

“Kenapa sih harus Cella terus yg nyocokin jadwal sama mereka? Kenapa nggak Aldo? Kenapa kalo pas Cella di rumah, Aldo Papi suruh ga usah main??”

“Ya udah. Gapapa deh. Hati-hati ya. Daaaa..”

“Daaa…”

19 Januari 2 tahun lalu – tengah malam

Aku berdiri sendirian di depan Rumah Sakit yang kami datangi. Mereka bilang, Papi sudah tidak ada harapan lagi dan tidak menyanggupi merawat Papi. Dengan perasaan marah, kecewa, sedih, takut, aku dan Mami memutuskan membawa Papi ke Rumah Sakit lain yang lebih baik. Aku ingat kata2 Mami di dalam tadi, “Jangan sedih ya, Cel. Waktu itu juga semua dokter bilang Papi ga ada harapan, tapi ternyata Papi sembuh kan?” Kata-kata itu yang menjadi keyakinan dan kekuatanku malam itu. Namun entah mengapa, tetap ada perasaan ragu menyisip melalui sela-sela benteng pertahananku. Mungkin memang Papi tidak bisa bertahan lagi kali ini.

Aku menelepon Aldo sambil menunggu taksi. Aku memilih kata sebaik mungkin agar dia tidak terkejut aku meneleponnya tengah malam untuk mengabarkan Papi masuk Rumah Sakit. Tapi ternyata Aldo tetap panik. Ia memutuskan untuk pulang besok paginya, tapi aku menahannya dengan alasan yang hanya aku sendiri yang tahu: mungkin nanti Aldo butuh pulang lebih lama kalau memang Papi benar-benar tidak kuat lagi. Jadi lebih baik ia menyimpan jatah bolosnya dulu sekarang.

Mengantar Papi ke Rumah Sakit malam itu merupakan sebuah perjalanan paling panjang dalam hidupku. Meskipun jarak sesungguhnya tidak sampai setengah jam dari rumah, tapi sepertinya memakan waktu seumur hidup untuk sampai ke tempat itu. Segala macam pikiran berkecamuk di otak seperti berebut mendapat prioritas untuk dihiraukan.

Pintu taksi terbuka, gedung Rumah Sakit yang terang benderang menjadi latar belakang suasana saat itu. Ranjang pasien, berikut dengan beberapa orang perawat sudah siap. Mereka mengangkat Papi dan Papi segera dilarikan ke ICCU. Aku dan Mami mengurus administrasi dan segala sesuatunya.

Panik. Mami tidak bisa memutuskan apa-apa. Aku yang harus tetap ‘terjaga’. Saat itu aku bukan hanya harus memutuskan tindakan-tindakan apa saja yang boleh dan bisa diberikan kepada Papi, tapi juga harus memutuskan tindakan-tindakan apa saja yang boleh dan bisa diberikan kepada keluarga kami. Aku melihat Papi di ranjang ruang ICCU. Matanya terpejam dan di tubuhnya dipasangi alat-alat. Aku merasa, Papi berpamitan. Ia mempersiapkan segalanya selama setengah tahun, setelah ia keluar dari Rumah Sakit sebelum ini. Oh, tidak. Salah. Ia telah mempersiapkannya seumur hidupku. 21 tahun sudah cukup baginya.

19 Januari 2012 – tengah malam – jam yang sama seperti 2 tahun lalu

Sampai beberapa jam lalu aku masih berfikir bahwa pesan terakhir Papi padaku adalah: “Jangan boros-boros ah”, tapi ternyata tanpa disadari, pesan terakhir Papi sudah tertanam di alam bawah sadarku: “Mumpung Aldo di rumah dan Mami ga kerja, ngumpul di rumah yuk.”

Saat ini, waktu-waktu bersama keluarga merupakan waktu yang sangat berharga buatku. Tak ternilai harganya. Karena kamu tidak akan tahu sampai berapa lama lagi waktu itu tersisa. Tidak akan ada yang mengira. Jadi, selagi masih sempat, manfaatkanlah 🙂

Posted with WordPress for BlackBerry.