Setelah Menikah, Aku Jadi Tau…

Setelah menikah, aku jadi tau…

Kenapa Mami dulu suka marah-marah ketika ia pulang dan menemukan piring-piring kotor di meja makan atau di cucian piring.
Karena ternyata Mami masih harus mencuci baju yang sudah setumpuk di ember, masih harus dijemur, dan besoknya disetrika, sampai tangganya pegal karena mengucek dan memeras pakaian, sampai tangan dan jari-jarinya kasar karena terlalu banyak kena detergen.

Kenapa Mami dulu suka marah-marah kalau mainan berserakan di lantai atau remah-remah biskuit berantakan di kasur.
Karena ternyata Mami harus membereskan tempat tidur yang penuh remah-remah biskuit, memunguti mainan-mainan di lantai, menata kembali mainan-mainan tersebut di tempat semula, mengelap meja, menyapu lantai, lalu mengepelnya, sampai tangannya kapalan karena menyapu, sampai pinggangnya pegal karena kelamaan berjongkok untuk mengepel, sampai pantatnya sakit kelamaan duduk ketika menyetrika.

Kenapa Mami dulu suka sedih kalau Papi bilang makanannya nggak enak atau kalau aku dan Aldo minta makan di luar.
Karena ternyata Mami sudah susah payah becek-becekan dan bau-bauan ke pasar, mencari bahan pangan yang paling murah namun berkualitas, nelpon Oma untuk menanyakan resep makanan yang kira-kira akan disukai suami dan anak-anaknya, lalu berjam-jam berdiri di dapur untuk memasak sampai rambutnya bau asap, sampai jarinya mungkin teriris pisau, sampai matanya perih karena mengiris bawang merah, sampai tangannya mungkin kena cipratan minyak panas, sampai bajunya kena kecap.

Kenapa Mami dulu suka marah-marah kalau anak-anaknya nggak bisa disuruh tidur.
Karena usahanya untuk membangunkan anak-anaknya untuk sekolah keesokan harinya berarti harus lebih keras.
Karena ternyata selain itu ia masih harus menyiapkan bekal untuk sarapan anak-anak dan suaminya sampai dia harus bangun paling pagi di antara semuanya.

Sebelum menikah, aku belum tau…

Betapa capeknya Mami setiap hari sampai sering minta anak-anaknya pijitin.
Betapa kesalnya Mami kalau anak-anaknya nolak kalau dimintain bantuan.
Betapa sedihnya Mami kalau anak-anaknya ngelawan kalau dibilangin.

Sebelum menikah, aku cuma tau…

Mami selalu bilang, “Nanti Cella tau sendiri kalau udah nikah.”

Sekarang, setelah menikah, aku jadi tau kalau pekerjaan Mami sangat berat. Kalau menjadi istri dan ibu rumah tangga itu pekerjaan yang berat. Salut kepada perempuan-perempuan di luar sana yang masih bisa membagi waktu antara menjadi ibu rumah tangga juga menjadi wanita karir.

Terima kasih kepada mesin cuci, kain pel berteknologi tinggi yang tidak perlu jongkok, dan tentunya para pengusaha laundry kiloan. They makes my life so much easier :))

Tribute to all women out there. You are the real super heroes!

Dear LSPR 4C, with all my heart, …

3 tahun lalu, tepatnya ketika sedang patah hati, aku lalu mencari-cari kesibukan di luar rumah. Mulai dari nongkrong-nongkrong nggak jelas di kampus sama temen, main ke mall, sampe ikut-ikutan daftar masuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) TV di kampus. Tujuannya bukan biar bisa nyembuhin ‘hati yang patah’, tapi untuk membuktikan kalau seorang Cea bisa jadi ‘seseorang’ suatu hari nanti.

Suatu hari, pengumuman kelolosan masuk UKM TV di kampus keluar dan ternyata aku nggak keterima. Makin patah hati. Rasanya aku bisa ngedit video, deh. Dan posisi yang dicari adalah editor! Kenapa gue nggak keterima? pikirku. Sedih dan kecewa. Ternyata Cea terlalu sombong. Cea bukan siapa-siapa.

Aku mengadu kepada salah seorang dosen di kampus yang memang sudah kuanggap sebagai mama sendiri. Ms. Candy. Ia seorang Filipina. Ia memotivasi aku agar tidak kecewa dan agar aku tidak menyerah. Ia bilang, “we can make a new club if you want and if you’re ready.” Club apa? Aku ga bisa apa-apa selain ngedit video.

Ms. Candy menceritakan tentang keterlibatannya di kegiatan-kegiatan lingkungan dan mengingatkanku kalau beberapa waktu sebelumnya aku pernah ‘dicemplungin’ olehnya untuk mengikuti konferensi lingkungan yang diadakan oleh salah satu universitas swasta di Jakarta. Sepertinya menarik! pikirku waktu itu.

Akhirnya aku mengumpulkan beberapa teman untuk membuat UKM yang nantinya akan bergerak di bidang lingkungan tersebut. Kebetulan ada beberapa yang mau, walaupun beberapa dari mereka pun terpaksa karena nggak enak sama aku. Karena begitu, maka secara de jure dan de facto aku ditunjuk menjadi President Club alias Ketua UKM dadakan. Dadakan disuruh bikin visi misi, dadakan disuruh presentasi, tapi semua mau nggak mau aku jalanin. Tapi aku sama sekali nggak ngerti soal lingkungan! Temen-temenku yang lain pun enggak. Gimana mau bikin visi dan misi? Gimana mau presentasi?

Ms. Candy selalu bilang, ‘You don’t have to understand everything about the environment. You don’t have to have a background in environmental science. You don’t have to be an environmentalist. As long as you want to change the world, you can change it start from little things. Start from your hand. So be part of it! Together we can make a big difference.’ Maka itulah yang menjadi visi misi LSPR 4C saat itu: bring the students together to start doing little things from our own hands because together we can make a big difference.

Saat itu bulan Januari 2009.
Ms. Candy, dosen yang merangkap sebagai ibuku di kampus itu memang orang yang sangat optimis. Dia menargetkan dalam satu bulan ke depan, UKM ini harus launching dan kami harus bikin satu bulan yang penuh kegiatan lingkungan yang dinamakan LSPR Environment Month.

Tapi nama UKMnya apa? Karena Dosenku sering aktif di kegiatan British Council, maka nama UKM ini pun diberikan oleh Direktur dari British Council Indonesia. LSPR Climate Change Champions Club yang kami singkat menjadi LSPR 4C.

Satu bulan? UKM baru mau bikin kegiatan selama 1 bulan dan persiapannya juga cuma 1 bulan??!! Gila! Sekarang kan musim liburan?! pikir orang-orang pastinya. Tapi kami ber-11 optimis kalau hal ini bisa terlaksana! Maka kami mengorbankan waktu liburan kami dengan tetap setiap hari ke kampus untuk ngerjain segala hal untuk Environment Month. Ada yang sibuk ngedesign materi publikasi, bikin Press Release, ngeprint-ngeprint, bikin pin sendiri, ngundang media, nelponin sponsor, bikin konsep acara dan rundown, buka perekrutan volunteer, dan lain-lain. Belum lagi kalaupun kami pulang ke rumah, kami tetap harus bekerja dari rumah via online. Semua kami jalankan dengan senang hati dan sukarela.

16 Februari 2009, resmilah LSPR 4C menjadi sebuah UKM baru di STIKOM LSPR dan selama bulan Februari kami mengadakan kegiatan-kegiatan lingkungan. Semenjak saat itu aku mulai menemukan keluarga baru di LSPR 4C. Jatuh cinta dengan anggota-anggotanya, jatuh cinta dengan kegiatan-kegiatannya, dan lain-lain.

Akan sangat panjang kalau aku menuliskan kegiatan-kegiatan yang telah LSPR 4C lakukan selama 3 tahun ini, jadi aku nggak akan menuliskan itu di sini, karena memang tujuan aku menulis ini bukan untuk itu. Aku menulis ini karena setelah 3 tahun bersama LSPR 4C, dari awal berdirinya dan menjadi President pertama, juga pernah menjadi volunteer karena sedang sibuk magang, sampai akhirnya sudah lulus dan diangkat menjadi staff karena LSPR 4C naik kelas menjadi sebuah divisi CSR di kampus, akhirnya tiba saatnya aku untuk pamitan.

Membuat sebuah komunitas atau klub merupakan hal yang mudah. Tinggal kumpulkan orang-orang dengan visi misi yang sama, maka jadilah. Yang sulit adalah mempertahankannya. Bagaimana menjaga agar orang-orang ini tetap bisa berjalan beriringan menuju satu tujuan, bagaimana membuat agar hubungan ini lebih dari sekadar hubungan profesional.

Selama 3 tahun, LSPR 4C telah membuktikan eksistensinya di dunia kemahasiswaan dan lingkungan. LSPR 4C sudah cukup dikenal dan memiliki hubungan yang baik dengan kampus-kampus dan komunitas-komunitas lain. Hal ini tetap harus dipertahankan, dijaga, dan dikembangkan. Bukan tugas yang mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin. Regenerasi harus terus terjadi. Perubahan itu penting, tapi harus terus lebih baik. LSPR 4C yang nanti aku lihat harus jauh lebih baik dari sekarang. LSPR 4C harus terus hidup dan bertahan dengan segala tantangan yang mereka hadapi, baik sekarang, maupun ke depannya.

Yang terpenting adalah bagiku, LSPR 4C bukan cuma sebuah klub, atau komunitas, atau pekerjaan, tapi merupakan sebuah keluarga. Layaknya sebuah keluarga, LSPR 4C akan terus menempati sebuah tempat khusus di hatiku. LSPR 4C akan saling mengingatkan. Dan layaknya sebuah keluarga, LSPR 4C harus seperti satu tubuh yang tidak akan saling menyakiti satu sama lain dengan sengaja. Akan saling membantu, bekerja sama, menutupi dan menyembuhkan luka.

Good luck, LSPR 4C untuk LSPR Environment Month yang keempat tahun ini.

I will always be proud of you, guys! You’re doing GREAT! Keep sharing and inspiring me. LSPR 4C is not my job. It’s a family. I quit my job, but I don’t quit my family.

Thank you for everything, for all good things and bad things (that are still good) that happened in my life this past 3 year. I’ve learned so many things from you. I grow up here. I built my character from here. I found new family here.

I love you. So much!

Remember, this is not a GOODBYE, dear. This is a NEW HELLO.

Hai!! Aku Cea. Mantan President LSPR 4C tahun 2009, akan menjadi mantan staff juga di LSPR 4C. Senang berkenalan dengan kalian 🙂

Posted with WordPress for BlackBerry.

2 tahun lalu

Hari ini, 18 Januari 2 tahun lalu.

Di dalam perjalanan sepulang dari kegiatan kampus, aku menelepon Papi ke Handphone-nya. Berkali-kali. Tidak ada jawaban. Mungkin di-silent, pikirku. Aku coba hubungi ke rumah. Berkali-kali. Berharap ia dengar dan mengangkatnya. Tidak ada jawaban juga. Aku mulai khawatir. Kondisi Papi saat itu memang kurang baik, ditambah setelah Aldo balik ke Bandung untuk kuliah semester 2.

Mungkin Papi tidur, pikirku. Ini kan sudah malam. Mami pasti belum pulang.

Tapi biarpun begitu, perasaan was-was masih tetap bergelayutan memberati hatiku. Takut Papi kenapa-kenapa. Rasanya ingin cepat sampai rumah.

Setibanya di rumah, benar. Papi tertidur di kamarnya. Aku membangunkannya perlahan. Ia terbangun. Tersadar, tepatnya, karena saat itu aku mendapati Papi ternyata setengah tidak sadarkan diri.

Ia berusaha duduk di ranjang, namun tubuhnya lemah. Aku cemas dan menelepon Mami. Ia sedang dalam perjalanan. Papi berusaha beranjak dari tempat tidur untuk ke kamar kecil. Ia berjalan perlahan, berpegangan ke tembok. Aku memeganginya. Bahkan untuk buang air kecil sendiri pun saat ini Papi tidak bisa. Shock. Sepertinya tadi pagi tidak apa-apa.

Aku membantunya duduk di ruang tamu, menyuapinya dengan bubur kacang hijau yang tidak bisa ia habiskan. Matanya terpejam sesekali, namun ia berusaha untuk sadar dan mengunyah. Aku mengajaknya mengobrol. Apapun. Maksudnya untuk membuat ia tetap sadar dan makan. Ia menanggapi sesekali. Mengangguk, berusaha senyum, menjawab sambil bergumam. Akhirnya ia menyerah dan memutuskan untuk tidur.

Tak lama mami pulang. Ia kembali membangunkan Papi untuk makan. Sepertinya Mami berhasil membuat Papi menghabiskan makanannya.

Aku setengah tertidur ketika aku mendengar bunyi sesuatu terjatuh dan Mami berteriak. Spontan aku keluar kamar dan berlari ke kamar Papi. Papi terjatuh dari tempat tidur. Keningnya terluka terkena undakan di lantai, kepalanya bocor, darah membasahi lantai banyak sekali.

Aku dan Mami berusaha mengangkat Papi ke tempat tidur. Kami panik luar biasa. Papi setengah sadar dan sepertinya sudah tidak merasakan sakit meskipunn keningnya bolong dan darah mengucur deras.

Aku terus mengajak Papi berbicara sambil menahan tangis. Papi menyahuti sambil setengah bergumam. Mami keluar rumah, meminta satpam memanggilkan taksi untuk membawa Papi ke Rumah Sakit terdekat.

Aku, Mami, dibantu Pak Satpam mengangkat Papi yang sudah dililit selimut ke dalam taksi. Sepanjang jalan kami mengajak Papi bicara dan berdoa agar dia tetap sadar. Jantungku rasanya berdetak kencang mengalahkan suara bicara kami. Ya Tuhan, jangan panggil Papi sekarang!!!!! Teriakku dalam hati.

13 Januari 2 tahun lalu.

Aku sedang di dalam angkot ketika Papi menelepon, “Cel, nanti ga usah nginep di Maribeth deh ya. Pulang aja. Mumpung Aldo di rumah, trus Mami jg lagi ga kerja. Biar ngumpul semua.”

“Yah, Papi. Cella udah janji mau bantuin Maribeth acara ultahnya.”

“Ya udah, terserah Cella deh. Nggak bisa dibilangin.”

“Kenapa sih harus Cella terus yg nyocokin jadwal sama mereka? Kenapa nggak Aldo? Kenapa kalo pas Cella di rumah, Aldo Papi suruh ga usah main??”

“Ya udah. Gapapa deh. Hati-hati ya. Daaaa..”

“Daaa…”

19 Januari 2 tahun lalu – tengah malam

Aku berdiri sendirian di depan Rumah Sakit yang kami datangi. Mereka bilang, Papi sudah tidak ada harapan lagi dan tidak menyanggupi merawat Papi. Dengan perasaan marah, kecewa, sedih, takut, aku dan Mami memutuskan membawa Papi ke Rumah Sakit lain yang lebih baik. Aku ingat kata2 Mami di dalam tadi, “Jangan sedih ya, Cel. Waktu itu juga semua dokter bilang Papi ga ada harapan, tapi ternyata Papi sembuh kan?” Kata-kata itu yang menjadi keyakinan dan kekuatanku malam itu. Namun entah mengapa, tetap ada perasaan ragu menyisip melalui sela-sela benteng pertahananku. Mungkin memang Papi tidak bisa bertahan lagi kali ini.

Aku menelepon Aldo sambil menunggu taksi. Aku memilih kata sebaik mungkin agar dia tidak terkejut aku meneleponnya tengah malam untuk mengabarkan Papi masuk Rumah Sakit. Tapi ternyata Aldo tetap panik. Ia memutuskan untuk pulang besok paginya, tapi aku menahannya dengan alasan yang hanya aku sendiri yang tahu: mungkin nanti Aldo butuh pulang lebih lama kalau memang Papi benar-benar tidak kuat lagi. Jadi lebih baik ia menyimpan jatah bolosnya dulu sekarang.

Mengantar Papi ke Rumah Sakit malam itu merupakan sebuah perjalanan paling panjang dalam hidupku. Meskipun jarak sesungguhnya tidak sampai setengah jam dari rumah, tapi sepertinya memakan waktu seumur hidup untuk sampai ke tempat itu. Segala macam pikiran berkecamuk di otak seperti berebut mendapat prioritas untuk dihiraukan.

Pintu taksi terbuka, gedung Rumah Sakit yang terang benderang menjadi latar belakang suasana saat itu. Ranjang pasien, berikut dengan beberapa orang perawat sudah siap. Mereka mengangkat Papi dan Papi segera dilarikan ke ICCU. Aku dan Mami mengurus administrasi dan segala sesuatunya.

Panik. Mami tidak bisa memutuskan apa-apa. Aku yang harus tetap ‘terjaga’. Saat itu aku bukan hanya harus memutuskan tindakan-tindakan apa saja yang boleh dan bisa diberikan kepada Papi, tapi juga harus memutuskan tindakan-tindakan apa saja yang boleh dan bisa diberikan kepada keluarga kami. Aku melihat Papi di ranjang ruang ICCU. Matanya terpejam dan di tubuhnya dipasangi alat-alat. Aku merasa, Papi berpamitan. Ia mempersiapkan segalanya selama setengah tahun, setelah ia keluar dari Rumah Sakit sebelum ini. Oh, tidak. Salah. Ia telah mempersiapkannya seumur hidupku. 21 tahun sudah cukup baginya.

19 Januari 2012 – tengah malam – jam yang sama seperti 2 tahun lalu

Sampai beberapa jam lalu aku masih berfikir bahwa pesan terakhir Papi padaku adalah: “Jangan boros-boros ah”, tapi ternyata tanpa disadari, pesan terakhir Papi sudah tertanam di alam bawah sadarku: “Mumpung Aldo di rumah dan Mami ga kerja, ngumpul di rumah yuk.”

Saat ini, waktu-waktu bersama keluarga merupakan waktu yang sangat berharga buatku. Tak ternilai harganya. Karena kamu tidak akan tahu sampai berapa lama lagi waktu itu tersisa. Tidak akan ada yang mengira. Jadi, selagi masih sempat, manfaatkanlah 🙂

Posted with WordPress for BlackBerry.

I MISSoula! — My Perfect Morning

“Cea, bangun, Ce!” Gracia knocked on my door almost every morning in Miller Hall, University of Montana, Missoula.

“Iya, Grace,” I answered her, still with my closed eyes. I stretched my body. I was still sleepy. I hadn’t enough sleep the day before because I chatted with my friends in Indonesia until late.

Ah! I had to prepare myself for classes this morning. I shouldn’t be late!

I opened my eyes slowly. I still wanna sleep. Please give me 10 minutes more to sleep.

I opened my window beside my bed, and the cold Missoula breeze blew into my room. I looked outside. I could see the red bricks wall from my dorm and university hall. I jumped from my bed, took on my towel and went get to the bathroom outside my room.

I met Lucy with her ponytail, brushing her teeth. I used the washtubs beside her and we chatted with mouths full of toothpaste. Then Nicky came in. She greeted us with her sleepy voice. She worn her pink pyjamas.

After I finished, I went back to my room. I opened my refrigerator to took my chocolate milk and corn flakes. Yes, for my breakfast!

I remembered, I had an appointment with my mom. We’ll had a video call through skype! Hurray! I turned on my laptop and signed in my skype. Yah! There she was. I called her. I missed her at that time. It was almost 9 pm in Indonesia. She was ready to sleep.

Too bad, we couldn’t chat longer. I had to get to class. Bye, mom! Good night, Indonesia. Good morning, Montana. I’m ready.

I heard people chattering outside. They were my friends. They were ready for class this morning. Yah! We would have Mr. Otto Koester for Leadership and Negotiation class. My favorite topic!

“Good morning!” We greeted each other with warm smile. I knew we were sleepy. I knew we didn’t have enough sleep last night. But we still enjoyed this morning. Of course! As we walked to our class in Native American Center, sunshine, fresh air, green view, cold morning breeze, birds’ sing were happy to welcome us, the Asian students in their state.

That was my perfect morning in Missoula.

A Late Birthday Gift

Mungkin saya bisa mengatakan kalau hari Sabtu, 28 Mei 2011 merupakan hari yang istimewa buat saya. Bukan saja karena hari itu saya akhirnya bisa menjalankan janji saya kepada diri saya sendiri untuk mengadakan syukuran di Panti Jompo, namun juga dikarenakan sebuah kisah kecil yang terselip di sela waktu di hari yang panjang itu.

Seorang teman memberi saya sebuah hadiah kecil yang katanya untuk hadiah ulang tahun. Meskipun terlambat, ia tetap memberi saya hadiah. Sebenarnya bukan hadiahnya yang menjadi istimewa, namun… perasaan yang timbul darinyalah yang menjadikannya istimewa.

Saskia Raishaputri Moestadjab. Seorang teman yang saya kenal baru sekitar setengah tahun lalu. Ia bilang pernah melihat saya di acara WWF. Jujur, saya tidak pernah menyadari hal itu. Namun memang setengah tahun belakangan ini kami berada dalam sebuah komunitas anak muda yang sama. Ia seorang gadis yang kelihatan tomboi, namun saya tau perasaannya sangat halus. Ia berdedikasi tinggi dan sangat bersemangat dalam hampir segala hal, namun tetap realistis menghadapi sesuatu. Ia santai walau kadang serius. Ia lucu meski kadang menyebalkan. Kami sering terlibat percakapan berdua dan ternyata sangat cocok. Ia sudah seperti seorang adik bagi saya.

Saskia lah yang menjadikan hari saya istimewa.

Setelah meeting KOPHI, saya memang harus buru-buru pergi karena harus mengantar teman dari Thailand untuk keliling Jakarta, namun sebelum ke toilet, Saskia berteriak, “Cici! Jangan pergi dulu. Gue serius!” Ia memang kadang memanggil saya ‘cici’ sebagai bercandaan. Maka saya pun menunggu ia keluar dari toilet.

Ia mengajak saya keluar dari tempat meeting yang kebetulan berada di restaurant dekat kampus. Ia membuka tas ranselnya da mengeluarkan sebuah buku hard cover berwarna coklat. Ia memberikannya kepada saya dan berkata dengan serius, “Maaf ya, Ce kalo gue ngasihnya telat. Tapi gue emang pengen ngasih ini ke lo buat hadiah ulang tahun lo.” Saya pun langsung terharu. Masih ada toh yang inget ultah saya hari gini? Ia lalu berkata lagi, kali ini dengan nada bercanda, “Ini gue beli pake uang gaji gue sendiri loh!” Entah itu benar atau tidak, tapi sudah sukses membuat mata saya berkaca-kaca dan memeluk dia.

Saya tidak pernah menyangka kalau sebuah hal kecil yang Saskia lakukan pada hari itu dapat mengubah hidup saya. Bukan berlebihan, tapi mulai saat itu saya semakin menyadari bahwa mungkin tidak perlu waktu khusus untuk memberikan sesuatu kepada orang lain. Walaupun ia berkata itu untuk hadiah ulang tahun saya, pada kenyataannya saat itu saya sedang tidak berulang tahun. Dan satu lagi pelajaran yang saya petik dari hadiah Saskia, yaitu bahwa sebuah hal yang bagi kita kecil, jika dilakukan dengan ketulusan hati dapat menyentuh hati orang lain dan mungkin membawa dampak besar dalam hidupnya.

 

Terima kasih, Saskia. 🙂

GOD is never too far!

“GOD is never too far,” begitu balasan teman saya di bbm ketika saya menceritakan kisah saya seharian itu.

Bernyanyi dan menari di depan orang sama sekali bukan hal yang akan saya lakukan di depan umum. Tidak sekalipun. Bahkan untuk dihukum pun, saya tidak akan memilih hukuman itu. Iya. Saya tidak suka tampil di depan orang. Paling tidak, bukan untuk bernyayi dan menari. Karena saya yakin kedua hal itu merupakan pilihan yang tepat jika saya ingin mempermalukan diri saya sendiri. Tapi hari ini lain. Saya bersedia mengunci sang ego rapat-rapat di lemari biar dia tidak malu disuruh menyanyi dan menari di depan teman-teman saya dan orang-orang lain di sana. Iya. Oma-oma dan Opa-opa.

—–

Mengadakan syukuran di sebuah Panti Jompo sudah menjadi angan-angan saya sejak tahun lalu. Tadinya terpikir untuk sekalian merayakan ultah bulan Maret. Tapi berhubung padatnya kerjaan kantor dan lain-lain, baru bisa terlaksana akhir bulan Mei ini. Lalu sang Suster di Panti Jompo bertanya, dalam rangka apa saya mengadakan acara di sana. Saya jawab, dalam rangka syukuran. Lalu ia kembali bertanya, syukuran apa. Lalu saya bilang, ya syukuran aja. Namun sepertinya sang Suster tidak puas dengan jawaban saya. Dan dalam hati saya bertanya, kenapa jika kita ingin melakukan sesuatu, orang lain selalu menanyakan maksud dan tujuan kita melakukan hal tersebut? Mengapa semua hal harus ada alasannya?

—–

Sejak pertama menyampaikan ide ini kepada seorang teman, ia begitu tertarik dan bersemangat untuk membantu, namun menjelang hari H, ternyata dia berhalangan dan tidak bisa hadir. “Tidak masalah sedikitpun, masih banyak teman lain yang akan hadir dan memeriahkan suasana. Bahkan ada seorang kakak penyanyi yang bersedia menyumbang lagu. Pasti akan sangat menyenangkan,” pikir saya saat itu. Saya pun mempersiapkan semuanya. Ternyata semua di luar rencana! Menjelang hari H, kakak penyanyi yang akan menyumbang lagu ternyata berhalangan hadir, beberapa teman yang lain juga berhalangan hadir. Sempat kecewa dan hampir putus asa. Bahkan sampai sempat berniat untuk mengurungkan rencana ke sana. Tapi sepertinya itu cuma niatan si ego. Ia kecewa.

Saya akhirnya menghibur sang ego dengan pikiran-pikiran baik, menyemangatinya dengan pernyataan bahwa sebuah niat baik yang walaupun dilakukan dengan sedikit orang, hasilnya akan tetap baik. Dan itu terbukti. Satu hari menjelang hari H, seorang dosen musik di kampus yang sudah saya anggap sebagai Papa sendiri bersedia mengisi acara bersama seorang teman sekantor saya, Nana. Lalu malam harinya, 2 teman yang baru saya kenal sekitar 1 bulan yang lalu bersedia hadir. Milton dan Puput. Semangat pun tumbuh. Ego senang lagi.

Suasana Panti Jompo Kasih Ayah Bunda di Tangerang menjadi sangat hidup dengan lagu-lagu dadakan yang dibawakan oleh Papa dan Nana. Tak hanya itu, kehadiran Milton menjadi sebuah berkat tersendiri. Ia ternyata bisa diandalkan untuk memimpin doa dan menyanyi!! Dalam hati pun saya berterima kasih pada Tuhan atas semua rencana-Nya. Saya lalu semakin percaya bahwa kalau niat baik yang walaupun hanya dilakukan oleh sedikit orang, hasilnya akan tetap baik. Oma Opa yang berada di sana terhibur. Mereka bernyanyi dan menari bersama kami. Iya. Menyanyi dan menari bersama saya. 😀 Semoga dengan begitu bisa dapat mengobati kesepian mereka selama ini. Semoga.

Ada seorang Opa yang buta dan berusia 94 tahun, ada seorang Oma yang sudah berusia 99 tahun dan masih bisa bicara, ada juga seorang Opa yang masih cukup sehat untuk mengajak –catat: mengajak– kami menari bersamanya, ada lagi seorang Opa yang harus cuci darah setiap minggu, ada 3 Opa yang duduk di kursi roda karena sudah tidak kuat berjalan, lalu ada seorang Oma yang sangat ramah meskipun giginya sudah ompong semua, juga seorang Oma yang terkena stroke sehingga tidak bisa menggerakkan anggota tubuh sebelah kanannya. Masih ada beberapa Oma dan Opa lain yang tidak bisa dijelaskan satu per satu di sini. Yang jelas, berhubungan dengan mereka membuat hatiku… tersentuh. Ya! Mereka yang terlupakan, atau sengaja dilupakan.

—–

Terima kasih kepada semua teman-teman yang bersedia hadir dan membantu hingga acara ini menjadi sukses. Terima kasih juga Mami yang udah bangun subuh-subuh untuk menyiapkan makan siang kami semua di sana. Terima kasih Aldo yang bersedia nyetirin mobil walaupun kita sampe nyasar-nyasar. Yaaa, niat baik memang harus menempuh jalan yang berliku kan? :p Terima kasih juga kepada Papa Radel, Nana Labana, Milton yang memeriahkan suasana dengan petikan gitar dan suara kalian. Terima kasih Are atas jepretan kameranya. Terima kasih Standly dan Gladys yang juga ikutan menyumbang. Terima kasih Saskia yang bersedia nyusul sendiri ke sana. Terima kasih Puput yang walaupun demam tapi tetap bersedia hadir. Terima kasih Fajar yang juga mau dateng sendiri dari rumah. Terima kasih Yashinta, Ayu, Nana, Sisca yang mau dateng dulu ke kampus dan berangkat bareng-bareng. Terima kasih Jessica yang udah dateng on time dan bersedia hadir meskipun dia tau dia nggak kenal siapa-siapa di sana. Terima kasih Maya yang sudah bantuin pagi-pagi. Terima kasih buat semua yang udah ngedoain dan nyemangatin.

Sekali lagi, kalau ditanya kenapa saya lebih pilih Panti Jompo daripada Panti Asuhan, karena saya sebelumnya memang belum pernah ke Panti Jompo dan karena saya tau anak-anak seumur saya pasti akan lebih memilih mengadakan acara di Panti Asuhan. Pasti akan lebih menyenangkan, pikir mereka. Selain itu karena sebenarnya ada alasan khusus di balik keinginan saya mengadakan acara di Panti Jompo. Karena Opa dan Oma saya. Opa merupakan orang yang sangat berarti dalam hidup saya, namun ia sudah tidak ada. Saya masih punya dua orang Oma, yang satu sedang sakit, sementara saya saat ini tidak bisa bertemu dengan oma yang satu lagi karena hal tertentu. Papi saya sudah tidak ada juga dan saya berarti tidak memiliki kesempatan untuk melihatnya tua. Panti Jompo merupakan tempat yang tepat untuk berbagi cinta dan melepaskan kerinduan ini.

Maka ketika sang Suster menyuruh saya memberikan kata sambutan, dengan suara bergetar menahan tangis, saya menjabarkan maksud saya satu persatu yang sebenarnya sudah ada di otak dan hati saya sejak awal saya berniat membuat hal ini. Ini merupakan peringatan satu tahun meninggalnya Papi Januari lalu, ulang tahun Aldo yang ke 20 bulan Februari, ulang tahun saya dan Mami di bulan Maret, 6 tahun meninggalnya Opa di bulan yang sama, satu tahun saya bekerja pada bulan Mei, plus kalau Papi masih hidup berarti kemarin ini Papi tepat berusia 55 tahun. Ini juga merupakan ungkapan syukur atas segala hal, juga ajakan untuk berbagi. Karena mungkin bukan hanya saya saat ini yang harusnya mengucap syukur, tapi juga kita semua yang ada di sini. Mungkin salah satu dari kita ada yang baru saja ulang tahun, baru mendapat kerja, baru bisa membeli mobil baru, baru bisa membeli handphone baru, dan lain-lain. Hal-hal ini mungkin kita anggap biasa, tetapi sebenarnya semua hanya titipan dari Tuhan yang sudah sepatutnya disyukuri. Karena saya yakin, dengan berbagi, tidak akan pernah membuat kita kekurangan. 🙂 Ohya, dan kata-kata pembukaan saya ini lalu terpotong oleh seorang Opa yang tiba-tiba menunjuk tangan. Ketika saya bertanya, ada apa Opa? Sang Opa menjawab, sudah lapar. Maka kami semua tertawa dan kami makan siang.

Terima kasih sekali lagi, Oma dan Opa. Tuhan memberkati. Amin.

Dengan cinta,

Lidwina Marcella

Cucu dari Opa Oma Yahya dan Opa Oma Arifin.

Your Word is Your Prayer — My Thailand Trip

“Cea, aku dapet tiket ke Bangkok 0 rupiah dari Air Asia akhir Maret 2011!!” cerita Angga, jika tidak salah Desember tahun lalu.

“Waaaa.. Kok bisa?? Mau ikut dong, Ngga!!” aku tak kalah antusias.

“Ayo buruan cari tiketnya. Siapa tau dapet gratis juga,” kata Angga.

“Kalo bisa, kita bisa ngerayain birthday bareng Ngga di Bangkok!” aku semakin antusias. Ultahku dan Angga kebetulan pada tanggal dan bulan yang sama. Kami hanya berbeda tahun. Aku 2 tahun lebih tua dari Angga. hahaha…

Buru-buru aku cari komputer nganggur di kampus. Aku klik situs Air Asia dan cari penerbangan dari Jakarta ke Bangkok pada tanggal yang bersamaan dengan Angga. Sudah lama sekali aku ingin pergi ke Thailand, lalu mampir ke Laos, Vietnam, dan Kamboja, menemui teman-temanku semasa ikut program di Amerika tahun lalu. Aku mengusulkan ide ini kepada Angga dan Angga menyetujuinya. Waah, aku semakin semangat!

Ternyata tiket pesawat Jkt-Bkk-Jkt mahal banget! Aku mengurungkan niat untuk membeli tiket saat itu. Aku pikir aku akan menunggu besok-besok atau bulan-bulan depan, siapa tau ada promo lagi. 😀

Lalu aku masuk ke situs jejaring sosial Facebook untuk mengabari kabar ini kepada teman-temanku di Laos, Kamboja, dan Vietnam. Aku bilang, “Guys, I’m planning to go to Laos, Cambodia, and Vietnam next year. Wait for me in the end of March or in the beginning of April.

Mereka sangat bersemangat menyambut kabar dariku. Aku pun semakin bersemangat dan benar-benar merencanakan untuk backpacking ke negara-negara tersebut. Aku harus nabung biar bisa beli tiket dan duit jajanku cukup di sana. Aku mulai tanya-tanya kepada salah satu teman di Laos bagaimana caranya aku bisa travelling dari Thailand ke Laos, lalu ke Vietnam dan Kamboja. Ia sudah memberiku rute-rute perjalanannya dan menurutnya, ongkosnya tidak terlalu mahal dan aku dapat menginap di tempat mereka 🙂 AKU SEMANGAT SEKALIIIII!!

Seiring berjalannya waktu dan kesibukanku, aku nggak sempat lagi untuk nabung. Angan-angan untuk berkelana ke negara-negara Indocina tersebut pun akhirnya sedikit demi sedikit mulai mengendur. Aku yang tadinya bersemangat untuk pergi akhir bulan Maret atau awal April dan janjian bertemu dengan Angga sekarang mulai mengendurkan niat sampai jadi seperti, “ya udah lah, kapan aja boleh, yang penting harus ke negara-negara tersebut.”

—-

Beberapa bulan belakangan, aku sibuk mengurusi kegiatan kampus, LSPR Environment Month 2011. Tiba-tiba, minggu awal bulan Maret, aku mendapat email dari Kemenpora yang mengatakan bahwa aku terpilih menjadi salah satu delegasi yang akan mengikuti Youth Seminar “Empowering ASEAN Youth to Take Care on Global Warming” on 28-31 March 2011 di Thailand!!!!

Awalnya aku tidak menyadarinya, namun ketika aku sedang sendirian, merenung, berpikir untuk mengerjakan hal-hal kampus dan membagi waktu untuk persiapan ke Thailand, aku tiba-tiba sadar, “Ya Tuhan, waktu itu aku pengen banget ke Thailand akhir bulan Maret atau awal April. Sekarang beneran ke Thailand! Pada waktu yang sama!”

Aku bahkan lupa kalau Angga juga sudah book tiket ke Thailand sampai akhirnya dia bilang kalau dia nggak jadi ke Thailand karena dia terpilih masuk program Education Without Border di Dubai pada tanggal 27 Maret! So he will celebrate his birthday in the sky.. 😀 Cool!!

Aku pun memesan tiket ke Thailand tgl 27 Maret dan pulang tanggal 3 April, extend dari tanggal seminar sebenarnya. Maksudnya agar aku bisa mampir ke Laos dan bertemu teman-teman Laos di sana. Sebenarnya ingin cuti lebih lama agar bisa mampir sekalian ke Vietnam dan Kamboja juga, tapi karena aku sudah terlalu banyak pergi-pergi, sepertinya nggak akan diijinin sama kampus. Jadi, aku ajak teman dari Vietnam untuk main ke Laos pada tanggal aku di Laos nanti.

Tapi ternnyata……. cerita belum berakhir sampai di sini. Masih ada kelanjutan yang akan aku tulis di next post tentang pengalaman di airport ketika berangkat ke Thailand,

—-

Aku sangat yakin dengan pepatah ini, “Kata-kata adalah doa”. Dan melalui pengalamanku kali ini, aku ingin berbagi bahwa apapun yang kamu harapkan, yang kamu impikan, yang kamu rencanakan, bisa saja terjadi asalkan kamu memiliki keyakinan untuk hal tersebut. Hal ini sudah terbukti beberapa kali dalam hidupku. I believe that the whole universe will work together to make all things happen for you if you strive to make it come true. Semoga hal ini terjadi dalam hidupmu juga. 🙂

 

best regards,

superCEA.