Setelah Menikah, Aku Jadi Tau…

Setelah menikah, aku jadi tau…

Kenapa Mami dulu suka marah-marah ketika ia pulang dan menemukan piring-piring kotor di meja makan atau di cucian piring.
Karena ternyata Mami masih harus mencuci baju yang sudah setumpuk di ember, masih harus dijemur, dan besoknya disetrika, sampai tangganya pegal karena mengucek dan memeras pakaian, sampai tangan dan jari-jarinya kasar karena terlalu banyak kena detergen.

Kenapa Mami dulu suka marah-marah kalau mainan berserakan di lantai atau remah-remah biskuit berantakan di kasur.
Karena ternyata Mami harus membereskan tempat tidur yang penuh remah-remah biskuit, memunguti mainan-mainan di lantai, menata kembali mainan-mainan tersebut di tempat semula, mengelap meja, menyapu lantai, lalu mengepelnya, sampai tangannya kapalan karena menyapu, sampai pinggangnya pegal karena kelamaan berjongkok untuk mengepel, sampai pantatnya sakit kelamaan duduk ketika menyetrika.

Kenapa Mami dulu suka sedih kalau Papi bilang makanannya nggak enak atau kalau aku dan Aldo minta makan di luar.
Karena ternyata Mami sudah susah payah becek-becekan dan bau-bauan ke pasar, mencari bahan pangan yang paling murah namun berkualitas, nelpon Oma untuk menanyakan resep makanan yang kira-kira akan disukai suami dan anak-anaknya, lalu berjam-jam berdiri di dapur untuk memasak sampai rambutnya bau asap, sampai jarinya mungkin teriris pisau, sampai matanya perih karena mengiris bawang merah, sampai tangannya mungkin kena cipratan minyak panas, sampai bajunya kena kecap.

Kenapa Mami dulu suka marah-marah kalau anak-anaknya nggak bisa disuruh tidur.
Karena usahanya untuk membangunkan anak-anaknya untuk sekolah keesokan harinya berarti harus lebih keras.
Karena ternyata selain itu ia masih harus menyiapkan bekal untuk sarapan anak-anak dan suaminya sampai dia harus bangun paling pagi di antara semuanya.

Sebelum menikah, aku belum tau…

Betapa capeknya Mami setiap hari sampai sering minta anak-anaknya pijitin.
Betapa kesalnya Mami kalau anak-anaknya nolak kalau dimintain bantuan.
Betapa sedihnya Mami kalau anak-anaknya ngelawan kalau dibilangin.

Sebelum menikah, aku cuma tau…

Mami selalu bilang, “Nanti Cella tau sendiri kalau udah nikah.”

Sekarang, setelah menikah, aku jadi tau kalau pekerjaan Mami sangat berat. Kalau menjadi istri dan ibu rumah tangga itu pekerjaan yang berat. Salut kepada perempuan-perempuan di luar sana yang masih bisa membagi waktu antara menjadi ibu rumah tangga juga menjadi wanita karir.

Terima kasih kepada mesin cuci, kain pel berteknologi tinggi yang tidak perlu jongkok, dan tentunya para pengusaha laundry kiloan. They makes my life so much easier :))

Tribute to all women out there. You are the real super heroes!

Advertisements

Tuhan Memang Satu, Kita yang Tak Sama?

Sudah lama nggak menuangkan pikiran dan perasaan di blog. Ternyata setelah kemarin sempat ngobrol dengan salah satu sepupu yang kebetulan Ayahnya adalah seorang Pendeta, akhirnya tergugah lagi untuk menuangkannya dalam sebuah tulisan (yang mungkin akan cukup kontroversi) Hehehe…

Kami berbincang-bincang soal agama Islam dan Kristen, sebab awal mulanya saya mencontek salah satu kalimat dari lagu Peri Cintaku yang berisi, “Tuhan memang satu, kita yang tak sama.” Lalu dia berkata bahwa secara garis besar memang kelihatannya Tuhan kita sama, tapi sebenernya beda. Kemudian ia menjelaskan bahwa di dalam agama Islam disebutkan bahwa Yesus tidak disalib, mati, lalu bangkit lagi, melainkan Tuhan membuatnya terlihat seperti itu untuk mengelabui musuh-musuhnya. Di dalam Islam juga terdapat beberapa pendapat yang mengatakan bahwa salah seorang musuhnya diserupakan dengan Yesus, sedangkan Yesus sendiri diangkat langsung ke surga dan musuhnya yang diserupakan tadi adalah orang yang disalib.

Terlepas dari pada itu, saya berkata bahwa yang saya maksud dengan “Tuhan yang satu” adalah Allah Bapa, atau Allah SWT seperti yang disebutkan di dalam Islam.

Kemudian ia pun berkata lagi, kali ini dengan mengutip sebuah ayat Alkitab yang isinya kira-kira begini: “Barang siapa yang datang tanpa melalui Aku, tidak dapat masuk ke Kerajaan Allah.” ‘Aku’ yang dimaksud di sini adalah Yesus. OK. Saya sudah sangat sering mendengar kutipan ayat ini ketika berdiskusi tentang agama dengan beberapa orang (yang tentunya beragama Kristiani). Mungkin setelah membaca tulisan ini, saya akan dicap macam-macam. Sudah sering saya dicap ‘tidak kenal Tuhan’ dan lain-lain lantaran melontarkan pernyataan semacam ini.

 

Beginilah pernyataan saya mengenai Tuhan yang Satu.

 

Beberapa orang (hampir semua orang) yang berdiskusi dengan saya tentang ini biasanya akan selalu mengeluarkan kutipan ayat Alkitab tadi, namun mengapa mereka tidak mengutipnya secara lengkap?

“Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”” –Yohanes 14:6. Itulah kutipan yang benar dan lengkap dari Alkitab mengenai ayat yang mereka maksud tadi.

Beberapa orang (lagi-lagi hampir semua orang) yang berdiskusi dengan saya bersikeras bahwa mereka yang tidak percaya pada Yesus, tidak akan bisa masuk Surga, sementara yang percaya pada Yesus sudah ada jaminan masuk surga karena kita semua Anak-Anak Allah! Lalu surga cuma boleh diisi oleh yang beragama Kristen dan Katolik saja dong? Bagaimana dengan mereka yg beragama Buddha, Hindu, Kong Hu Chu, Shinto, atau bahkan aliran-aliran kepercayaan yang dianut oleh masyarakat adat di seluruh dunia yang tentunya tidak mengenal agama? Pertanyaan lain pun muncul lagi. Bagaimana dengan mereka yang percaya pada Yesus namun selama hidupnya selalu berbuat jahat? Mengatasnamakan Yesus untuk menipu orang, korupsi, terlebih lagi membunuh? Apakah mereka tetap bisa masuk surga?

Mereka biasanya akan berkata bahwa orang jahat yang bertobat pasti akan diampuni dosa-dosanya, karena di Kristen dan Katolik mengenal cara pengampunan dosa. Tidak bermaksud nyinyir, tapi kalau pemikiran dan kepercayaannya seperti ini, enak banget dong jadi Kristen dan Katolik? Habis berbuat dosa, kita mengaku dosa saja, dosanya ulang lagi dari nol (0) dan tetap punya peluang masuk surga.

Saya (yang masih sangat awam dan tidak tau apa-apa dengan ilmu teologi begini) merasa sesungguhnya kutipan ayat Alkitab tesebut sangat baik. Sayang sekali jika ditafsirkan untuk mengecap mana orang yang bisa masuk surga dan mana yang tidak bisa, mana orang yang baik dan mana yang tidak. Merasa seperti itu, saya lalu merenungkannya dan menemukan pencerahan terhadap ayat tersebut. Saya membedahnya menggunakan pendekatan silogisme yang pernah kita pelajari waktu SD di pelajaran Bahasa Indonesia. Mungkin masih ingat. Jika sudah lupa-lupa ingat, baiklah akan saya ingatkan sedikit.

Silogisme adalah proses berpikir yang bertolak dari satu atau lebih premis, yakni pernyataan-pernyataan yang mendahului kemudian ditarik suatu kesimpulan menurut prinsip-prinisip logis, perlawanan dan pendasaran yang mencukupi. Silogisme merupakan jenis deduksi yang banyak digunakan jika seseorang menyusun suatu argumentasi. Yang mau saya gunakan di sini adalah Silogisme Golongan. Pada silogisme jenis ini terdapat dua permis dan satu kesimpulan. Kedua premis tersebut terdiri dari premis umum dan premis khusus atau disebut juga premis mayor dan premis minor.

a. Premis umum menyatakan bahwa semua anggota golongan tertentu memiliki sifat atau hal tertentu.

b. Premis khusus menyatakan bahwa sesuatu atau seseorang adalah anggota dari golongan tertentu itu.

c. Kesimpulan menyatakan bahwa sesuatu atau seseorang itu.

 

Jika dirumuskan:

PU : A = B

PK : C = A

K : C = B

 

Keterangan:

PU = premis umum

PK = premis khusus

K = kesimpulan

 

Contoh silogisme golongan

PU: Semua unggas berkembang biak dengan cara bertelur.

PK: Ayam adalah unggas.

K : Ayam adalah petelur.

 

Nah, kalau dari ayat Alkitab tadi tertulis, “Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.””.

Di sana juga terdapat premis umum dan premis khusus.

Premis Umum: Aku-lah jalan dan kebenaran dan hidup.

Premis Khusus: Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Kesimpulan: Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui jalan kebenaran dan hidup.

 

Jalan kebenaran dan hidup yang dimaksud di sini tentunya adalah segala perbuatan yang baik dan yang benar dalam hidup.

Lagi-lagi, di sini saya tidak ingin berkata bahwa mereka salah dan saya benar. Semua orang tentu memiliki pemikiran sendiri terhadap agama dan kepercayaan yang dianutnya. Mereka mungkin boleh berkata saya tidak mengenal Tuhan karena saya berpikiran seperti ini. Tapi seperti yang pernah saya katakan kepada orang sebelumnya (yang mengatakan bahwa saya tidak mengenal Tuhan karena berpikiran seperti ini), saya lebih baik dicap oleh mereka sebagai orang tidak mengenal Tuhan daripada saya harus mengecap orang lain yang tidak mengenal Yesus sebagai orang yang tidak baik dan tidak pantas masuk surga. Apakah kita pernah menemukan sikap Yesus yang menunjukkan sifat ego, tidak bertoleransi, tidak mengasihi orang lain, dan mengecap orang lain?  Yesus adalah penyataan kasih Allah kepada umat manusia! Bahwa Yesus datang ke dunia bukan membawa agama (Kristen dan Katolik), melainkan perubahan sikap dan perilaku mengasihi sesama manusia.

Saya jadi ingat satu kejadian yang dicatat dalam Alkitab, saat sekelompok orang terkemuka mendatangi Yesus sambil menyeret seorang pelacur. Mereka ingin menjebak Yesus dengan bertanya, “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” Yesus berkata, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya, “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Yohanes 8:2-11)

Lalu, siapakah kita hingga berani mengecap orang lain jahat, bahkan sampai menghukum mereka, jika Yesus saja tidak melakukan hal tersebut kepada seorang pelacur?

 

Bahwa Tuhan datang ke dunia bukan membawa agama.  Agama adalah ciptaan manusia. Sudah lebih dari cukup Agama membawa manusia ke jurang perpecahan, kecurigaan, bahkan kematian.

Mencintai dengan Sempurna

1560606_10203203363304872_207687480_nAda orang bilang, “sesungguhnya cintailah orang yg tidak sempurna dengan sempurna”.

Papi adalah orang yg paling tidak sempurna bagiku. Dari kecil aku selalu berdoa supaya nanti nggak punya suami kayak Papi! Dia orang paling manja yg aku temui, orang paling posesif, paling suka ngeluh, pemarah! ‘Kalau ada istilah Drama King, Papi pasti dpt gelar itu’, pikirku waktu itu.

Namun ternyata, di balik kemanjaannya kepada keluarga, justru ia adalah orang yang paling peka kalau ada salah satu dari kami knp2. Ia akan jadi orang nomor satu yg mengurusi kami kalau kami sakit. Ia yang paling repot nyariin obat, ngompres kepala biar panas cepat turun, ingetin minum obat, nyuruh makan, dan masih banyak hal lain yang harusnya bisa kami lakukan kepadanya ketika ia sakit.

Di balik sikap posesifnya, ia adalah orang nomor satu yg bisa diandalkan. Ia akan melakukan apapun utk anak2 dan istrinya. Ia orang yang paling pertana nelponin kami kalau belum pulang dan paling terakhir mengantar kami kalau kami pergi. Aku tak pernah melihatnya pergi duluan kalau busku belum jalan, atau antar jemput sekolahku belum belok dari gang, atau aku belum hilang ditelan manusia-manusia di ruang check-in pesawat. Ia akan mencium, tapi lalu minta dicium.

Di balik keluhan2nya, ia adalah orang yang palinggggg sabar dan paliiingg tegar yang aku temui. Mungkin ia hanya lupa mengucap syukur. Tp ia berhasil melewatinya sampai akhir.

Ia adalah pemarah yang pemaaf. Ia pecinta yang terluka.

Papi bukan orang yang sempurna tetapi ia mencintai keluarganya dengan sempurna.Mami dan Papi

Hari ini 4 tahun kepergian Papi. 4 tahun lalu, di rumah sakit, Papi yg tdk pernah suka dgn perayaan Imlek tiba2 bertanya, “yah.. Papi masih sempet nggak ya ngerayain Imlek?”. Kami terdiam. Dalam hati mungkin kami tau, Papi nggak akan lama lagi. Imlek masih 7 hari lagi.

Hari ini Imlek, Pi. Selamat tahun baru. Maaf. Cella terlambat mencintaimu dgn sempurna.

Kisah Aldo

Suatu hari Aldo, adikku, bercerita tentang pengalamannya ketika mengikuti Misa di Gereja di Bandung…

“Kak, waktu itu Aldo di Gereja liat orang aneh banget deh. Dia duduk paling depan di pojok. Pas terima komuni dia nggak mau ikutan baris. Malah sampe Pasturnya yg nyamperin dia. Aldo pikir songong banget dia kayak gitu,” ceritanya.

“Terus? Kenapa dia begitu? Lumpuh, kali, Do?” tanyaku, penasaran.

“Enggak. Orang dia bisa berdiri. Ga pake kursi roda atau tongkat. Aldo kan liat.”

“Terus?”

“Pas selesai misa, Aldo ketemu dia lagi, nih pas ngambil air suci. Terus kalo orang-orang mah cuma sedikit kan pake ujung jari, terus bikin tanda salib, eh dia ngeraup pake dua tangan, terus dia cuci matanya.”

“Loh kok? Aneh bgt!”

“Ternyata pas Aldo liat, dia buta, Kak. Matanya nggak bisa melek. Habis cuci matanya pake air suci, dia berdoa…”

Aku langsung terenyuh mendengar akhir cerita si Aldo. Awal mendengarnya aku berpikir, orang itu aneh banget. Dateng ke Gereja tapi nggak mau ikut tata cara Gereja. Udah duduk paling depan, tapi nggak mau ngantri untuk terima komuni, malah nunggu disamperin sama Pastur. Selesai misa, malah ngobok2 bejana air suci buat cuci muka.

Ternyata orang tersebut memiliki alasan sendiri melakukan hal-hal itu. Ia buta, sehingga tidak bisa mengantri untuk menyambut komuni, dan karena imannya, ia membasuh kedua matanya dengan air suci. Mungkin dalam hatinya ia berharap memperoleh kesembuhan.

Mungkin saatnya aku berkaca. Seringkali aku terlalu terburu-buru menilai orang lain yang melakukan tindakan tertentu, apalagi yang tidak sesuai dengan kebiasaan kebanyakan orang atau yang aneh menurutku. Ada baiknya mulai sekarang untuk belajar melihat lebih jauh alasan di balik semua tindakan yang mereka lakukan 🙂

Note:
Misa adalah perayaan ekaristi dalam ritus liturgi Barat dari Gereja Katolik Roma, tradisi Anglo-Katolik dalam Gereja Anglikan, dan beberapa Gereja Lutheran. Di negara-negara Baltik dan Skandinavia, ibadah ekaristi Gereja Lutheran juga disebut “Misa”.

Istilah Misa berasal dari kata bahasa Latin kuno “missa” yang secara harafiah berarti pergi berpencar atau diutus. Kata ini dipakai dalam rumusan pengutusan dalam bagian akhir Perayaan Ekaristi yang berbunyi “Ite, missa est” (Pergilah, tugas perutusan telah diberikan) yang dalam Tata Perayaan Ekaristi di Indonesia dipakai rumusan kata-kata “Marilah pergi. Kita diutus.”

Pengambilan air suci di pintu Gereja adalah untuk mengingatkan kita akan makna Pembaptisan kita (yaitu pertobatan, pengudusan, kehidupan baru di dalam Kristus dalam kesatuan dengan Allah Bapa dan Roh Kudus, dan partisipasi kita sebagai anak- anak angkat Allah di dalam misi Kristus) dan pengusiran roh-roh jahat.

Upacara Komuni dalam umat Katolik adalah roti dan anggur yang telah dikonsekrasi dan dibagikan dalam misa. Dengan demikian, menerima roti/anggur tersebut biasanya disebut “menerima komuni” atau “menyambut komuni” kudus. Istilah “komuni kudus” ini seringkali hanya disingkat sebagai “komuni” saja. – sumber: wikipedia

Dear LSPR 4C, with all my heart, …

3 tahun lalu, tepatnya ketika sedang patah hati, aku lalu mencari-cari kesibukan di luar rumah. Mulai dari nongkrong-nongkrong nggak jelas di kampus sama temen, main ke mall, sampe ikut-ikutan daftar masuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) TV di kampus. Tujuannya bukan biar bisa nyembuhin ‘hati yang patah’, tapi untuk membuktikan kalau seorang Cea bisa jadi ‘seseorang’ suatu hari nanti.

Suatu hari, pengumuman kelolosan masuk UKM TV di kampus keluar dan ternyata aku nggak keterima. Makin patah hati. Rasanya aku bisa ngedit video, deh. Dan posisi yang dicari adalah editor! Kenapa gue nggak keterima? pikirku. Sedih dan kecewa. Ternyata Cea terlalu sombong. Cea bukan siapa-siapa.

Aku mengadu kepada salah seorang dosen di kampus yang memang sudah kuanggap sebagai mama sendiri. Ms. Candy. Ia seorang Filipina. Ia memotivasi aku agar tidak kecewa dan agar aku tidak menyerah. Ia bilang, “we can make a new club if you want and if you’re ready.” Club apa? Aku ga bisa apa-apa selain ngedit video.

Ms. Candy menceritakan tentang keterlibatannya di kegiatan-kegiatan lingkungan dan mengingatkanku kalau beberapa waktu sebelumnya aku pernah ‘dicemplungin’ olehnya untuk mengikuti konferensi lingkungan yang diadakan oleh salah satu universitas swasta di Jakarta. Sepertinya menarik! pikirku waktu itu.

Akhirnya aku mengumpulkan beberapa teman untuk membuat UKM yang nantinya akan bergerak di bidang lingkungan tersebut. Kebetulan ada beberapa yang mau, walaupun beberapa dari mereka pun terpaksa karena nggak enak sama aku. Karena begitu, maka secara de jure dan de facto aku ditunjuk menjadi President Club alias Ketua UKM dadakan. Dadakan disuruh bikin visi misi, dadakan disuruh presentasi, tapi semua mau nggak mau aku jalanin. Tapi aku sama sekali nggak ngerti soal lingkungan! Temen-temenku yang lain pun enggak. Gimana mau bikin visi dan misi? Gimana mau presentasi?

Ms. Candy selalu bilang, ‘You don’t have to understand everything about the environment. You don’t have to have a background in environmental science. You don’t have to be an environmentalist. As long as you want to change the world, you can change it start from little things. Start from your hand. So be part of it! Together we can make a big difference.’ Maka itulah yang menjadi visi misi LSPR 4C saat itu: bring the students together to start doing little things from our own hands because together we can make a big difference.

Saat itu bulan Januari 2009.
Ms. Candy, dosen yang merangkap sebagai ibuku di kampus itu memang orang yang sangat optimis. Dia menargetkan dalam satu bulan ke depan, UKM ini harus launching dan kami harus bikin satu bulan yang penuh kegiatan lingkungan yang dinamakan LSPR Environment Month.

Tapi nama UKMnya apa? Karena Dosenku sering aktif di kegiatan British Council, maka nama UKM ini pun diberikan oleh Direktur dari British Council Indonesia. LSPR Climate Change Champions Club yang kami singkat menjadi LSPR 4C.

Satu bulan? UKM baru mau bikin kegiatan selama 1 bulan dan persiapannya juga cuma 1 bulan??!! Gila! Sekarang kan musim liburan?! pikir orang-orang pastinya. Tapi kami ber-11 optimis kalau hal ini bisa terlaksana! Maka kami mengorbankan waktu liburan kami dengan tetap setiap hari ke kampus untuk ngerjain segala hal untuk Environment Month. Ada yang sibuk ngedesign materi publikasi, bikin Press Release, ngeprint-ngeprint, bikin pin sendiri, ngundang media, nelponin sponsor, bikin konsep acara dan rundown, buka perekrutan volunteer, dan lain-lain. Belum lagi kalaupun kami pulang ke rumah, kami tetap harus bekerja dari rumah via online. Semua kami jalankan dengan senang hati dan sukarela.

16 Februari 2009, resmilah LSPR 4C menjadi sebuah UKM baru di STIKOM LSPR dan selama bulan Februari kami mengadakan kegiatan-kegiatan lingkungan. Semenjak saat itu aku mulai menemukan keluarga baru di LSPR 4C. Jatuh cinta dengan anggota-anggotanya, jatuh cinta dengan kegiatan-kegiatannya, dan lain-lain.

Akan sangat panjang kalau aku menuliskan kegiatan-kegiatan yang telah LSPR 4C lakukan selama 3 tahun ini, jadi aku nggak akan menuliskan itu di sini, karena memang tujuan aku menulis ini bukan untuk itu. Aku menulis ini karena setelah 3 tahun bersama LSPR 4C, dari awal berdirinya dan menjadi President pertama, juga pernah menjadi volunteer karena sedang sibuk magang, sampai akhirnya sudah lulus dan diangkat menjadi staff karena LSPR 4C naik kelas menjadi sebuah divisi CSR di kampus, akhirnya tiba saatnya aku untuk pamitan.

Membuat sebuah komunitas atau klub merupakan hal yang mudah. Tinggal kumpulkan orang-orang dengan visi misi yang sama, maka jadilah. Yang sulit adalah mempertahankannya. Bagaimana menjaga agar orang-orang ini tetap bisa berjalan beriringan menuju satu tujuan, bagaimana membuat agar hubungan ini lebih dari sekadar hubungan profesional.

Selama 3 tahun, LSPR 4C telah membuktikan eksistensinya di dunia kemahasiswaan dan lingkungan. LSPR 4C sudah cukup dikenal dan memiliki hubungan yang baik dengan kampus-kampus dan komunitas-komunitas lain. Hal ini tetap harus dipertahankan, dijaga, dan dikembangkan. Bukan tugas yang mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin. Regenerasi harus terus terjadi. Perubahan itu penting, tapi harus terus lebih baik. LSPR 4C yang nanti aku lihat harus jauh lebih baik dari sekarang. LSPR 4C harus terus hidup dan bertahan dengan segala tantangan yang mereka hadapi, baik sekarang, maupun ke depannya.

Yang terpenting adalah bagiku, LSPR 4C bukan cuma sebuah klub, atau komunitas, atau pekerjaan, tapi merupakan sebuah keluarga. Layaknya sebuah keluarga, LSPR 4C akan terus menempati sebuah tempat khusus di hatiku. LSPR 4C akan saling mengingatkan. Dan layaknya sebuah keluarga, LSPR 4C harus seperti satu tubuh yang tidak akan saling menyakiti satu sama lain dengan sengaja. Akan saling membantu, bekerja sama, menutupi dan menyembuhkan luka.

Good luck, LSPR 4C untuk LSPR Environment Month yang keempat tahun ini.

I will always be proud of you, guys! You’re doing GREAT! Keep sharing and inspiring me. LSPR 4C is not my job. It’s a family. I quit my job, but I don’t quit my family.

Thank you for everything, for all good things and bad things (that are still good) that happened in my life this past 3 year. I’ve learned so many things from you. I grow up here. I built my character from here. I found new family here.

I love you. So much!

Remember, this is not a GOODBYE, dear. This is a NEW HELLO.

Hai!! Aku Cea. Mantan President LSPR 4C tahun 2009, akan menjadi mantan staff juga di LSPR 4C. Senang berkenalan dengan kalian 🙂

Posted with WordPress for BlackBerry.

Sudah Siap Menyambut Earth Hour 2012??

SAHABAT HIJAU seantero Indonesia! Yukk, rapatkan barisan dan bersiap sambut EARTH HOUR 2012: “INI AKSIKU, MANA AKSIMU?”
Sabtu/ 31 Maret 2012, Pk. 20.30-21.30 waktu lokal masing-masing

Berikut beberapa hal yang HARUS kita lakukan:
1) Matikan lampu dan alat-alat listrik yang TIDAK DIPERLUKAN

2) Sign-up di www.wwf.or.id/earthhour
–> Target kita 1juta sign-up tahun ini. Ini penting untuk menghitung kuantitas keterlibatan Indonesia dalam EH kali ini.

3) Ramaikan sosial media mu dengan follow @EHindonesia dan hashtag #iniaksiku dan #earthhour

4) LIKE fanpage Earth Hour Indonesia di http://www.facebook.com/EHIndonesia

5) Sebarkan info ini ke teman-teman lainnya!

Berikut beberapa hal LEBIH untuk kita lakukan untuk memberi dampak lebih:
1) Approach RT/RW/Lurah/Camat/Walikota/bahkan Gubernur kalian untuk dukung EarthHour dengan memberikan surat himbauan kepada WARGA + GEDUNG-GEDUNG PEMERINTAHAN untuk ikut serta mematikan lampu

2) Approach gedung-gedung/sektor BISNIS di sekitar kamu untuk ikut mematikan lampu. Hanya 1 jam, dan itu hari Sabtu. Seharusnya bisaa!

3) Approach SEKOLAH/UNIVERSITAS kamu untuk ikut mematikan lampu. Bahkan kalau bisa, buat sekolah/universitas kamu jadi salah satu pusat kegiatan di lingkungan kamu dengan membuat suatu AKSI KAMPUS (cek youtube EH tahun-tahun lalu untuk lihat aksi kampus seperti apa saja yang sudah dilakukan teman-teman kita lainnya)

4) Approach MEDIA untuk ikut menyuarakan pentingnya partisipasi kita dalam EH!

Informasi lebih lanjut, cek:
www.wwf.or.id/earthhour
https://www.facebook.com/EHIndonesia
@EHindonesia

SPREAD THE NEWS ya, kawan2!
Happy earthhour-ing!! 😀

2 tahun lalu

Hari ini, 18 Januari 2 tahun lalu.

Di dalam perjalanan sepulang dari kegiatan kampus, aku menelepon Papi ke Handphone-nya. Berkali-kali. Tidak ada jawaban. Mungkin di-silent, pikirku. Aku coba hubungi ke rumah. Berkali-kali. Berharap ia dengar dan mengangkatnya. Tidak ada jawaban juga. Aku mulai khawatir. Kondisi Papi saat itu memang kurang baik, ditambah setelah Aldo balik ke Bandung untuk kuliah semester 2.

Mungkin Papi tidur, pikirku. Ini kan sudah malam. Mami pasti belum pulang.

Tapi biarpun begitu, perasaan was-was masih tetap bergelayutan memberati hatiku. Takut Papi kenapa-kenapa. Rasanya ingin cepat sampai rumah.

Setibanya di rumah, benar. Papi tertidur di kamarnya. Aku membangunkannya perlahan. Ia terbangun. Tersadar, tepatnya, karena saat itu aku mendapati Papi ternyata setengah tidak sadarkan diri.

Ia berusaha duduk di ranjang, namun tubuhnya lemah. Aku cemas dan menelepon Mami. Ia sedang dalam perjalanan. Papi berusaha beranjak dari tempat tidur untuk ke kamar kecil. Ia berjalan perlahan, berpegangan ke tembok. Aku memeganginya. Bahkan untuk buang air kecil sendiri pun saat ini Papi tidak bisa. Shock. Sepertinya tadi pagi tidak apa-apa.

Aku membantunya duduk di ruang tamu, menyuapinya dengan bubur kacang hijau yang tidak bisa ia habiskan. Matanya terpejam sesekali, namun ia berusaha untuk sadar dan mengunyah. Aku mengajaknya mengobrol. Apapun. Maksudnya untuk membuat ia tetap sadar dan makan. Ia menanggapi sesekali. Mengangguk, berusaha senyum, menjawab sambil bergumam. Akhirnya ia menyerah dan memutuskan untuk tidur.

Tak lama mami pulang. Ia kembali membangunkan Papi untuk makan. Sepertinya Mami berhasil membuat Papi menghabiskan makanannya.

Aku setengah tertidur ketika aku mendengar bunyi sesuatu terjatuh dan Mami berteriak. Spontan aku keluar kamar dan berlari ke kamar Papi. Papi terjatuh dari tempat tidur. Keningnya terluka terkena undakan di lantai, kepalanya bocor, darah membasahi lantai banyak sekali.

Aku dan Mami berusaha mengangkat Papi ke tempat tidur. Kami panik luar biasa. Papi setengah sadar dan sepertinya sudah tidak merasakan sakit meskipunn keningnya bolong dan darah mengucur deras.

Aku terus mengajak Papi berbicara sambil menahan tangis. Papi menyahuti sambil setengah bergumam. Mami keluar rumah, meminta satpam memanggilkan taksi untuk membawa Papi ke Rumah Sakit terdekat.

Aku, Mami, dibantu Pak Satpam mengangkat Papi yang sudah dililit selimut ke dalam taksi. Sepanjang jalan kami mengajak Papi bicara dan berdoa agar dia tetap sadar. Jantungku rasanya berdetak kencang mengalahkan suara bicara kami. Ya Tuhan, jangan panggil Papi sekarang!!!!! Teriakku dalam hati.

13 Januari 2 tahun lalu.

Aku sedang di dalam angkot ketika Papi menelepon, “Cel, nanti ga usah nginep di Maribeth deh ya. Pulang aja. Mumpung Aldo di rumah, trus Mami jg lagi ga kerja. Biar ngumpul semua.”

“Yah, Papi. Cella udah janji mau bantuin Maribeth acara ultahnya.”

“Ya udah, terserah Cella deh. Nggak bisa dibilangin.”

“Kenapa sih harus Cella terus yg nyocokin jadwal sama mereka? Kenapa nggak Aldo? Kenapa kalo pas Cella di rumah, Aldo Papi suruh ga usah main??”

“Ya udah. Gapapa deh. Hati-hati ya. Daaaa..”

“Daaa…”

19 Januari 2 tahun lalu – tengah malam

Aku berdiri sendirian di depan Rumah Sakit yang kami datangi. Mereka bilang, Papi sudah tidak ada harapan lagi dan tidak menyanggupi merawat Papi. Dengan perasaan marah, kecewa, sedih, takut, aku dan Mami memutuskan membawa Papi ke Rumah Sakit lain yang lebih baik. Aku ingat kata2 Mami di dalam tadi, “Jangan sedih ya, Cel. Waktu itu juga semua dokter bilang Papi ga ada harapan, tapi ternyata Papi sembuh kan?” Kata-kata itu yang menjadi keyakinan dan kekuatanku malam itu. Namun entah mengapa, tetap ada perasaan ragu menyisip melalui sela-sela benteng pertahananku. Mungkin memang Papi tidak bisa bertahan lagi kali ini.

Aku menelepon Aldo sambil menunggu taksi. Aku memilih kata sebaik mungkin agar dia tidak terkejut aku meneleponnya tengah malam untuk mengabarkan Papi masuk Rumah Sakit. Tapi ternyata Aldo tetap panik. Ia memutuskan untuk pulang besok paginya, tapi aku menahannya dengan alasan yang hanya aku sendiri yang tahu: mungkin nanti Aldo butuh pulang lebih lama kalau memang Papi benar-benar tidak kuat lagi. Jadi lebih baik ia menyimpan jatah bolosnya dulu sekarang.

Mengantar Papi ke Rumah Sakit malam itu merupakan sebuah perjalanan paling panjang dalam hidupku. Meskipun jarak sesungguhnya tidak sampai setengah jam dari rumah, tapi sepertinya memakan waktu seumur hidup untuk sampai ke tempat itu. Segala macam pikiran berkecamuk di otak seperti berebut mendapat prioritas untuk dihiraukan.

Pintu taksi terbuka, gedung Rumah Sakit yang terang benderang menjadi latar belakang suasana saat itu. Ranjang pasien, berikut dengan beberapa orang perawat sudah siap. Mereka mengangkat Papi dan Papi segera dilarikan ke ICCU. Aku dan Mami mengurus administrasi dan segala sesuatunya.

Panik. Mami tidak bisa memutuskan apa-apa. Aku yang harus tetap ‘terjaga’. Saat itu aku bukan hanya harus memutuskan tindakan-tindakan apa saja yang boleh dan bisa diberikan kepada Papi, tapi juga harus memutuskan tindakan-tindakan apa saja yang boleh dan bisa diberikan kepada keluarga kami. Aku melihat Papi di ranjang ruang ICCU. Matanya terpejam dan di tubuhnya dipasangi alat-alat. Aku merasa, Papi berpamitan. Ia mempersiapkan segalanya selama setengah tahun, setelah ia keluar dari Rumah Sakit sebelum ini. Oh, tidak. Salah. Ia telah mempersiapkannya seumur hidupku. 21 tahun sudah cukup baginya.

19 Januari 2012 – tengah malam – jam yang sama seperti 2 tahun lalu

Sampai beberapa jam lalu aku masih berfikir bahwa pesan terakhir Papi padaku adalah: “Jangan boros-boros ah”, tapi ternyata tanpa disadari, pesan terakhir Papi sudah tertanam di alam bawah sadarku: “Mumpung Aldo di rumah dan Mami ga kerja, ngumpul di rumah yuk.”

Saat ini, waktu-waktu bersama keluarga merupakan waktu yang sangat berharga buatku. Tak ternilai harganya. Karena kamu tidak akan tahu sampai berapa lama lagi waktu itu tersisa. Tidak akan ada yang mengira. Jadi, selagi masih sempat, manfaatkanlah 🙂

Posted with WordPress for BlackBerry.