Tuhan Memang Satu, Kita yang Tak Sama?

Sudah lama nggak menuangkan pikiran dan perasaan di blog. Ternyata setelah kemarin sempat ngobrol dengan salah satu sepupu yang kebetulan Ayahnya adalah seorang Pendeta, akhirnya tergugah lagi untuk menuangkannya dalam sebuah tulisan (yang mungkin akan cukup kontroversi) Hehehe…

Kami berbincang-bincang soal agama Islam dan Kristen, sebab awal mulanya saya mencontek salah satu kalimat dari lagu Peri Cintaku yang berisi, “Tuhan memang satu, kita yang tak sama.” Lalu dia berkata bahwa secara garis besar memang kelihatannya Tuhan kita sama, tapi sebenernya beda. Kemudian ia menjelaskan bahwa di dalam agama Islam disebutkan bahwa Yesus tidak disalib, mati, lalu bangkit lagi, melainkan Tuhan membuatnya terlihat seperti itu untuk mengelabui musuh-musuhnya. Di dalam Islam juga terdapat beberapa pendapat yang mengatakan bahwa salah seorang musuhnya diserupakan dengan Yesus, sedangkan Yesus sendiri diangkat langsung ke surga dan musuhnya yang diserupakan tadi adalah orang yang disalib.

Terlepas dari pada itu, saya berkata bahwa yang saya maksud dengan “Tuhan yang satu” adalah Allah Bapa, atau Allah SWT seperti yang disebutkan di dalam Islam.

Kemudian ia pun berkata lagi, kali ini dengan mengutip sebuah ayat Alkitab yang isinya kira-kira begini: “Barang siapa yang datang tanpa melalui Aku, tidak dapat masuk ke Kerajaan Allah.” ‘Aku’ yang dimaksud di sini adalah Yesus. OK. Saya sudah sangat sering mendengar kutipan ayat ini ketika berdiskusi tentang agama dengan beberapa orang (yang tentunya beragama Kristiani). Mungkin setelah membaca tulisan ini, saya akan dicap macam-macam. Sudah sering saya dicap ‘tidak kenal Tuhan’ dan lain-lain lantaran melontarkan pernyataan semacam ini.

 

Beginilah pernyataan saya mengenai Tuhan yang Satu.

 

Beberapa orang (hampir semua orang) yang berdiskusi dengan saya tentang ini biasanya akan selalu mengeluarkan kutipan ayat Alkitab tadi, namun mengapa mereka tidak mengutipnya secara lengkap?

“Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”” –Yohanes 14:6. Itulah kutipan yang benar dan lengkap dari Alkitab mengenai ayat yang mereka maksud tadi.

Beberapa orang (lagi-lagi hampir semua orang) yang berdiskusi dengan saya bersikeras bahwa mereka yang tidak percaya pada Yesus, tidak akan bisa masuk Surga, sementara yang percaya pada Yesus sudah ada jaminan masuk surga karena kita semua Anak-Anak Allah! Lalu surga cuma boleh diisi oleh yang beragama Kristen dan Katolik saja dong? Bagaimana dengan mereka yg beragama Buddha, Hindu, Kong Hu Chu, Shinto, atau bahkan aliran-aliran kepercayaan yang dianut oleh masyarakat adat di seluruh dunia yang tentunya tidak mengenal agama? Pertanyaan lain pun muncul lagi. Bagaimana dengan mereka yang percaya pada Yesus namun selama hidupnya selalu berbuat jahat? Mengatasnamakan Yesus untuk menipu orang, korupsi, terlebih lagi membunuh? Apakah mereka tetap bisa masuk surga?

Mereka biasanya akan berkata bahwa orang jahat yang bertobat pasti akan diampuni dosa-dosanya, karena di Kristen dan Katolik mengenal cara pengampunan dosa. Tidak bermaksud nyinyir, tapi kalau pemikiran dan kepercayaannya seperti ini, enak banget dong jadi Kristen dan Katolik? Habis berbuat dosa, kita mengaku dosa saja, dosanya ulang lagi dari nol (0) dan tetap punya peluang masuk surga.

Saya (yang masih sangat awam dan tidak tau apa-apa dengan ilmu teologi begini) merasa sesungguhnya kutipan ayat Alkitab tesebut sangat baik. Sayang sekali jika ditafsirkan untuk mengecap mana orang yang bisa masuk surga dan mana yang tidak bisa, mana orang yang baik dan mana yang tidak. Merasa seperti itu, saya lalu merenungkannya dan menemukan pencerahan terhadap ayat tersebut. Saya membedahnya menggunakan pendekatan silogisme yang pernah kita pelajari waktu SD di pelajaran Bahasa Indonesia. Mungkin masih ingat. Jika sudah lupa-lupa ingat, baiklah akan saya ingatkan sedikit.

Silogisme adalah proses berpikir yang bertolak dari satu atau lebih premis, yakni pernyataan-pernyataan yang mendahului kemudian ditarik suatu kesimpulan menurut prinsip-prinisip logis, perlawanan dan pendasaran yang mencukupi. Silogisme merupakan jenis deduksi yang banyak digunakan jika seseorang menyusun suatu argumentasi. Yang mau saya gunakan di sini adalah Silogisme Golongan. Pada silogisme jenis ini terdapat dua permis dan satu kesimpulan. Kedua premis tersebut terdiri dari premis umum dan premis khusus atau disebut juga premis mayor dan premis minor.

a. Premis umum menyatakan bahwa semua anggota golongan tertentu memiliki sifat atau hal tertentu.

b. Premis khusus menyatakan bahwa sesuatu atau seseorang adalah anggota dari golongan tertentu itu.

c. Kesimpulan menyatakan bahwa sesuatu atau seseorang itu.

 

Jika dirumuskan:

PU : A = B

PK : C = A

K : C = B

 

Keterangan:

PU = premis umum

PK = premis khusus

K = kesimpulan

 

Contoh silogisme golongan

PU: Semua unggas berkembang biak dengan cara bertelur.

PK: Ayam adalah unggas.

K : Ayam adalah petelur.

 

Nah, kalau dari ayat Alkitab tadi tertulis, “Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.””.

Di sana juga terdapat premis umum dan premis khusus.

Premis Umum: Aku-lah jalan dan kebenaran dan hidup.

Premis Khusus: Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Kesimpulan: Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui jalan kebenaran dan hidup.

 

Jalan kebenaran dan hidup yang dimaksud di sini tentunya adalah segala perbuatan yang baik dan yang benar dalam hidup.

Lagi-lagi, di sini saya tidak ingin berkata bahwa mereka salah dan saya benar. Semua orang tentu memiliki pemikiran sendiri terhadap agama dan kepercayaan yang dianutnya. Mereka mungkin boleh berkata saya tidak mengenal Tuhan karena saya berpikiran seperti ini. Tapi seperti yang pernah saya katakan kepada orang sebelumnya (yang mengatakan bahwa saya tidak mengenal Tuhan karena berpikiran seperti ini), saya lebih baik dicap oleh mereka sebagai orang tidak mengenal Tuhan daripada saya harus mengecap orang lain yang tidak mengenal Yesus sebagai orang yang tidak baik dan tidak pantas masuk surga. Apakah kita pernah menemukan sikap Yesus yang menunjukkan sifat ego, tidak bertoleransi, tidak mengasihi orang lain, dan mengecap orang lain?  Yesus adalah penyataan kasih Allah kepada umat manusia! Bahwa Yesus datang ke dunia bukan membawa agama (Kristen dan Katolik), melainkan perubahan sikap dan perilaku mengasihi sesama manusia.

Saya jadi ingat satu kejadian yang dicatat dalam Alkitab, saat sekelompok orang terkemuka mendatangi Yesus sambil menyeret seorang pelacur. Mereka ingin menjebak Yesus dengan bertanya, “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” Yesus berkata, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya, “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Yohanes 8:2-11)

Lalu, siapakah kita hingga berani mengecap orang lain jahat, bahkan sampai menghukum mereka, jika Yesus saja tidak melakukan hal tersebut kepada seorang pelacur?

 

Bahwa Tuhan datang ke dunia bukan membawa agama.  Agama adalah ciptaan manusia. Sudah lebih dari cukup Agama membawa manusia ke jurang perpecahan, kecurigaan, bahkan kematian.

Advertisements

One response to “Tuhan Memang Satu, Kita yang Tak Sama?

  1. Emang susah sekali utk berdiskusi (apalagi ‘berdebat’) soal AGAMA. Seluruh umat manusia di dunia ini mempunyai pendapat/kepercayaan/keyakinan sendiri2. Sebagai umatNya yg sederhana dan kecil ini, saya hanya bisa memberi pendapat bahwa agama/kepercayaan itu sangat private/individual: yaitu hubungan yang HANYA ada antara kita dan Sang Pencipta. Jadi sebetulnya ‘gak ada urusan’ dengan orang lain. Tapi krn ke-ikut campuran orang lain (yang biasanya merasa ‘lebih tahu dan lebih ‘benar’), itulah yang akhirnya membawa manusia ke jurang perpecahan, kecurigaan, bahkan kematian spt yang ditulis diatas. Bravo Cea !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s