Kisah Aldo

Suatu hari Aldo, adikku, bercerita tentang pengalamannya ketika mengikuti Misa di Gereja di Bandung…

“Kak, waktu itu Aldo di Gereja liat orang aneh banget deh. Dia duduk paling depan di pojok. Pas terima komuni dia nggak mau ikutan baris. Malah sampe Pasturnya yg nyamperin dia. Aldo pikir songong banget dia kayak gitu,” ceritanya.

“Terus? Kenapa dia begitu? Lumpuh, kali, Do?” tanyaku, penasaran.

“Enggak. Orang dia bisa berdiri. Ga pake kursi roda atau tongkat. Aldo kan liat.”

“Terus?”

“Pas selesai misa, Aldo ketemu dia lagi, nih pas ngambil air suci. Terus kalo orang-orang mah cuma sedikit kan pake ujung jari, terus bikin tanda salib, eh dia ngeraup pake dua tangan, terus dia cuci matanya.”

“Loh kok? Aneh bgt!”

“Ternyata pas Aldo liat, dia buta, Kak. Matanya nggak bisa melek. Habis cuci matanya pake air suci, dia berdoa…”

Aku langsung terenyuh mendengar akhir cerita si Aldo. Awal mendengarnya aku berpikir, orang itu aneh banget. Dateng ke Gereja tapi nggak mau ikut tata cara Gereja. Udah duduk paling depan, tapi nggak mau ngantri untuk terima komuni, malah nunggu disamperin sama Pastur. Selesai misa, malah ngobok2 bejana air suci buat cuci muka.

Ternyata orang tersebut memiliki alasan sendiri melakukan hal-hal itu. Ia buta, sehingga tidak bisa mengantri untuk menyambut komuni, dan karena imannya, ia membasuh kedua matanya dengan air suci. Mungkin dalam hatinya ia berharap memperoleh kesembuhan.

Mungkin saatnya aku berkaca. Seringkali aku terlalu terburu-buru menilai orang lain yang melakukan tindakan tertentu, apalagi yang tidak sesuai dengan kebiasaan kebanyakan orang atau yang aneh menurutku. Ada baiknya mulai sekarang untuk belajar melihat lebih jauh alasan di balik semua tindakan yang mereka lakukan 🙂

Note:
Misa adalah perayaan ekaristi dalam ritus liturgi Barat dari Gereja Katolik Roma, tradisi Anglo-Katolik dalam Gereja Anglikan, dan beberapa Gereja Lutheran. Di negara-negara Baltik dan Skandinavia, ibadah ekaristi Gereja Lutheran juga disebut “Misa”.

Istilah Misa berasal dari kata bahasa Latin kuno “missa” yang secara harafiah berarti pergi berpencar atau diutus. Kata ini dipakai dalam rumusan pengutusan dalam bagian akhir Perayaan Ekaristi yang berbunyi “Ite, missa est” (Pergilah, tugas perutusan telah diberikan) yang dalam Tata Perayaan Ekaristi di Indonesia dipakai rumusan kata-kata “Marilah pergi. Kita diutus.”

Pengambilan air suci di pintu Gereja adalah untuk mengingatkan kita akan makna Pembaptisan kita (yaitu pertobatan, pengudusan, kehidupan baru di dalam Kristus dalam kesatuan dengan Allah Bapa dan Roh Kudus, dan partisipasi kita sebagai anak- anak angkat Allah di dalam misi Kristus) dan pengusiran roh-roh jahat.

Upacara Komuni dalam umat Katolik adalah roti dan anggur yang telah dikonsekrasi dan dibagikan dalam misa. Dengan demikian, menerima roti/anggur tersebut biasanya disebut “menerima komuni” atau “menyambut komuni” kudus. Istilah “komuni kudus” ini seringkali hanya disingkat sebagai “komuni” saja. – sumber: wikipedia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s