2 tahun lalu

Hari ini, 18 Januari 2 tahun lalu.

Di dalam perjalanan sepulang dari kegiatan kampus, aku menelepon Papi ke Handphone-nya. Berkali-kali. Tidak ada jawaban. Mungkin di-silent, pikirku. Aku coba hubungi ke rumah. Berkali-kali. Berharap ia dengar dan mengangkatnya. Tidak ada jawaban juga. Aku mulai khawatir. Kondisi Papi saat itu memang kurang baik, ditambah setelah Aldo balik ke Bandung untuk kuliah semester 2.

Mungkin Papi tidur, pikirku. Ini kan sudah malam. Mami pasti belum pulang.

Tapi biarpun begitu, perasaan was-was masih tetap bergelayutan memberati hatiku. Takut Papi kenapa-kenapa. Rasanya ingin cepat sampai rumah.

Setibanya di rumah, benar. Papi tertidur di kamarnya. Aku membangunkannya perlahan. Ia terbangun. Tersadar, tepatnya, karena saat itu aku mendapati Papi ternyata setengah tidak sadarkan diri.

Ia berusaha duduk di ranjang, namun tubuhnya lemah. Aku cemas dan menelepon Mami. Ia sedang dalam perjalanan. Papi berusaha beranjak dari tempat tidur untuk ke kamar kecil. Ia berjalan perlahan, berpegangan ke tembok. Aku memeganginya. Bahkan untuk buang air kecil sendiri pun saat ini Papi tidak bisa. Shock. Sepertinya tadi pagi tidak apa-apa.

Aku membantunya duduk di ruang tamu, menyuapinya dengan bubur kacang hijau yang tidak bisa ia habiskan. Matanya terpejam sesekali, namun ia berusaha untuk sadar dan mengunyah. Aku mengajaknya mengobrol. Apapun. Maksudnya untuk membuat ia tetap sadar dan makan. Ia menanggapi sesekali. Mengangguk, berusaha senyum, menjawab sambil bergumam. Akhirnya ia menyerah dan memutuskan untuk tidur.

Tak lama mami pulang. Ia kembali membangunkan Papi untuk makan. Sepertinya Mami berhasil membuat Papi menghabiskan makanannya.

Aku setengah tertidur ketika aku mendengar bunyi sesuatu terjatuh dan Mami berteriak. Spontan aku keluar kamar dan berlari ke kamar Papi. Papi terjatuh dari tempat tidur. Keningnya terluka terkena undakan di lantai, kepalanya bocor, darah membasahi lantai banyak sekali.

Aku dan Mami berusaha mengangkat Papi ke tempat tidur. Kami panik luar biasa. Papi setengah sadar dan sepertinya sudah tidak merasakan sakit meskipunn keningnya bolong dan darah mengucur deras.

Aku terus mengajak Papi berbicara sambil menahan tangis. Papi menyahuti sambil setengah bergumam. Mami keluar rumah, meminta satpam memanggilkan taksi untuk membawa Papi ke Rumah Sakit terdekat.

Aku, Mami, dibantu Pak Satpam mengangkat Papi yang sudah dililit selimut ke dalam taksi. Sepanjang jalan kami mengajak Papi bicara dan berdoa agar dia tetap sadar. Jantungku rasanya berdetak kencang mengalahkan suara bicara kami. Ya Tuhan, jangan panggil Papi sekarang!!!!! Teriakku dalam hati.

13 Januari 2 tahun lalu.

Aku sedang di dalam angkot ketika Papi menelepon, “Cel, nanti ga usah nginep di Maribeth deh ya. Pulang aja. Mumpung Aldo di rumah, trus Mami jg lagi ga kerja. Biar ngumpul semua.”

“Yah, Papi. Cella udah janji mau bantuin Maribeth acara ultahnya.”

“Ya udah, terserah Cella deh. Nggak bisa dibilangin.”

“Kenapa sih harus Cella terus yg nyocokin jadwal sama mereka? Kenapa nggak Aldo? Kenapa kalo pas Cella di rumah, Aldo Papi suruh ga usah main??”

“Ya udah. Gapapa deh. Hati-hati ya. Daaaa..”

“Daaa…”

19 Januari 2 tahun lalu – tengah malam

Aku berdiri sendirian di depan Rumah Sakit yang kami datangi. Mereka bilang, Papi sudah tidak ada harapan lagi dan tidak menyanggupi merawat Papi. Dengan perasaan marah, kecewa, sedih, takut, aku dan Mami memutuskan membawa Papi ke Rumah Sakit lain yang lebih baik. Aku ingat kata2 Mami di dalam tadi, “Jangan sedih ya, Cel. Waktu itu juga semua dokter bilang Papi ga ada harapan, tapi ternyata Papi sembuh kan?” Kata-kata itu yang menjadi keyakinan dan kekuatanku malam itu. Namun entah mengapa, tetap ada perasaan ragu menyisip melalui sela-sela benteng pertahananku. Mungkin memang Papi tidak bisa bertahan lagi kali ini.

Aku menelepon Aldo sambil menunggu taksi. Aku memilih kata sebaik mungkin agar dia tidak terkejut aku meneleponnya tengah malam untuk mengabarkan Papi masuk Rumah Sakit. Tapi ternyata Aldo tetap panik. Ia memutuskan untuk pulang besok paginya, tapi aku menahannya dengan alasan yang hanya aku sendiri yang tahu: mungkin nanti Aldo butuh pulang lebih lama kalau memang Papi benar-benar tidak kuat lagi. Jadi lebih baik ia menyimpan jatah bolosnya dulu sekarang.

Mengantar Papi ke Rumah Sakit malam itu merupakan sebuah perjalanan paling panjang dalam hidupku. Meskipun jarak sesungguhnya tidak sampai setengah jam dari rumah, tapi sepertinya memakan waktu seumur hidup untuk sampai ke tempat itu. Segala macam pikiran berkecamuk di otak seperti berebut mendapat prioritas untuk dihiraukan.

Pintu taksi terbuka, gedung Rumah Sakit yang terang benderang menjadi latar belakang suasana saat itu. Ranjang pasien, berikut dengan beberapa orang perawat sudah siap. Mereka mengangkat Papi dan Papi segera dilarikan ke ICCU. Aku dan Mami mengurus administrasi dan segala sesuatunya.

Panik. Mami tidak bisa memutuskan apa-apa. Aku yang harus tetap ‘terjaga’. Saat itu aku bukan hanya harus memutuskan tindakan-tindakan apa saja yang boleh dan bisa diberikan kepada Papi, tapi juga harus memutuskan tindakan-tindakan apa saja yang boleh dan bisa diberikan kepada keluarga kami. Aku melihat Papi di ranjang ruang ICCU. Matanya terpejam dan di tubuhnya dipasangi alat-alat. Aku merasa, Papi berpamitan. Ia mempersiapkan segalanya selama setengah tahun, setelah ia keluar dari Rumah Sakit sebelum ini. Oh, tidak. Salah. Ia telah mempersiapkannya seumur hidupku. 21 tahun sudah cukup baginya.

19 Januari 2012 – tengah malam – jam yang sama seperti 2 tahun lalu

Sampai beberapa jam lalu aku masih berfikir bahwa pesan terakhir Papi padaku adalah: “Jangan boros-boros ah”, tapi ternyata tanpa disadari, pesan terakhir Papi sudah tertanam di alam bawah sadarku: “Mumpung Aldo di rumah dan Mami ga kerja, ngumpul di rumah yuk.”

Saat ini, waktu-waktu bersama keluarga merupakan waktu yang sangat berharga buatku. Tak ternilai harganya. Karena kamu tidak akan tahu sampai berapa lama lagi waktu itu tersisa. Tidak akan ada yang mengira. Jadi, selagi masih sempat, manfaatkanlah 🙂

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

7 responses to “2 tahun lalu

  1. Love this! Ga bs ngomong byk krn sedikit pernah mengalami tapi lebih banyak engga *peluk erat2*. Orang sabar disayang Tuhan krn Tuhan ga akan kasih cobaan yang ga bs kita atasi 😉

  2. Pernyataan terakhir: “…waktu bersama keluarga merupakan waktu yang sangat berharga…”, dan keseluruhan cerita, mengingatkanku untuk terus introspeksi. Seperti signature email sahabatku: “Noto negari miwiti saking rogo lan keluargi.”
    (menata sebuah negara diawali dari raga diri dan keluarga)

    Terima kasih sudah berbagi cerita ya Cea. 😀

    salam,
    +s+

  3. Memang susah utk membayangkannya…. kita sering tidak menyadarinya…. bahwa ‘life is very short’. We always take it for granted…. Padahal, setiap saat, setiap detik, kita bisa dipanggil kembali olehNya ! Seperti yg Cea tulis: Tidak akan ada yang mengira. Jadi, selagi masih sempat, MANFAATKANLAH !! (sorry utk reaksi yg terlambat….).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s