GOD is never too far!

“GOD is never too far,” begitu balasan teman saya di bbm ketika saya menceritakan kisah saya seharian itu.

Bernyanyi dan menari di depan orang sama sekali bukan hal yang akan saya lakukan di depan umum. Tidak sekalipun. Bahkan untuk dihukum pun, saya tidak akan memilih hukuman itu. Iya. Saya tidak suka tampil di depan orang. Paling tidak, bukan untuk bernyayi dan menari. Karena saya yakin kedua hal itu merupakan pilihan yang tepat jika saya ingin mempermalukan diri saya sendiri. Tapi hari ini lain. Saya bersedia mengunci sang ego rapat-rapat di lemari biar dia tidak malu disuruh menyanyi dan menari di depan teman-teman saya dan orang-orang lain di sana. Iya. Oma-oma dan Opa-opa.

—–

Mengadakan syukuran di sebuah Panti Jompo sudah menjadi angan-angan saya sejak tahun lalu. Tadinya terpikir untuk sekalian merayakan ultah bulan Maret. Tapi berhubung padatnya kerjaan kantor dan lain-lain, baru bisa terlaksana akhir bulan Mei ini. Lalu sang Suster di Panti Jompo bertanya, dalam rangka apa saya mengadakan acara di sana. Saya jawab, dalam rangka syukuran. Lalu ia kembali bertanya, syukuran apa. Lalu saya bilang, ya syukuran aja. Namun sepertinya sang Suster tidak puas dengan jawaban saya. Dan dalam hati saya bertanya, kenapa jika kita ingin melakukan sesuatu, orang lain selalu menanyakan maksud dan tujuan kita melakukan hal tersebut? Mengapa semua hal harus ada alasannya?

—–

Sejak pertama menyampaikan ide ini kepada seorang teman, ia begitu tertarik dan bersemangat untuk membantu, namun menjelang hari H, ternyata dia berhalangan dan tidak bisa hadir. “Tidak masalah sedikitpun, masih banyak teman lain yang akan hadir dan memeriahkan suasana. Bahkan ada seorang kakak penyanyi yang bersedia menyumbang lagu. Pasti akan sangat menyenangkan,” pikir saya saat itu. Saya pun mempersiapkan semuanya. Ternyata semua di luar rencana! Menjelang hari H, kakak penyanyi yang akan menyumbang lagu ternyata berhalangan hadir, beberapa teman yang lain juga berhalangan hadir. Sempat kecewa dan hampir putus asa. Bahkan sampai sempat berniat untuk mengurungkan rencana ke sana. Tapi sepertinya itu cuma niatan si ego. Ia kecewa.

Saya akhirnya menghibur sang ego dengan pikiran-pikiran baik, menyemangatinya dengan pernyataan bahwa sebuah niat baik yang walaupun dilakukan dengan sedikit orang, hasilnya akan tetap baik. Dan itu terbukti. Satu hari menjelang hari H, seorang dosen musik di kampus yang sudah saya anggap sebagai Papa sendiri bersedia mengisi acara bersama seorang teman sekantor saya, Nana. Lalu malam harinya, 2 teman yang baru saya kenal sekitar 1 bulan yang lalu bersedia hadir. Milton dan Puput. Semangat pun tumbuh. Ego senang lagi.

Suasana Panti Jompo Kasih Ayah Bunda di Tangerang menjadi sangat hidup dengan lagu-lagu dadakan yang dibawakan oleh Papa dan Nana. Tak hanya itu, kehadiran Milton menjadi sebuah berkat tersendiri. Ia ternyata bisa diandalkan untuk memimpin doa dan menyanyi!! Dalam hati pun saya berterima kasih pada Tuhan atas semua rencana-Nya. Saya lalu semakin percaya bahwa kalau niat baik yang walaupun hanya dilakukan oleh sedikit orang, hasilnya akan tetap baik. Oma Opa yang berada di sana terhibur. Mereka bernyanyi dan menari bersama kami. Iya. Menyanyi dan menari bersama saya. 😀 Semoga dengan begitu bisa dapat mengobati kesepian mereka selama ini. Semoga.

Ada seorang Opa yang buta dan berusia 94 tahun, ada seorang Oma yang sudah berusia 99 tahun dan masih bisa bicara, ada juga seorang Opa yang masih cukup sehat untuk mengajak –catat: mengajak– kami menari bersamanya, ada lagi seorang Opa yang harus cuci darah setiap minggu, ada 3 Opa yang duduk di kursi roda karena sudah tidak kuat berjalan, lalu ada seorang Oma yang sangat ramah meskipun giginya sudah ompong semua, juga seorang Oma yang terkena stroke sehingga tidak bisa menggerakkan anggota tubuh sebelah kanannya. Masih ada beberapa Oma dan Opa lain yang tidak bisa dijelaskan satu per satu di sini. Yang jelas, berhubungan dengan mereka membuat hatiku… tersentuh. Ya! Mereka yang terlupakan, atau sengaja dilupakan.

—–

Terima kasih kepada semua teman-teman yang bersedia hadir dan membantu hingga acara ini menjadi sukses. Terima kasih juga Mami yang udah bangun subuh-subuh untuk menyiapkan makan siang kami semua di sana. Terima kasih Aldo yang bersedia nyetirin mobil walaupun kita sampe nyasar-nyasar. Yaaa, niat baik memang harus menempuh jalan yang berliku kan? :p Terima kasih juga kepada Papa Radel, Nana Labana, Milton yang memeriahkan suasana dengan petikan gitar dan suara kalian. Terima kasih Are atas jepretan kameranya. Terima kasih Standly dan Gladys yang juga ikutan menyumbang. Terima kasih Saskia yang bersedia nyusul sendiri ke sana. Terima kasih Puput yang walaupun demam tapi tetap bersedia hadir. Terima kasih Fajar yang juga mau dateng sendiri dari rumah. Terima kasih Yashinta, Ayu, Nana, Sisca yang mau dateng dulu ke kampus dan berangkat bareng-bareng. Terima kasih Jessica yang udah dateng on time dan bersedia hadir meskipun dia tau dia nggak kenal siapa-siapa di sana. Terima kasih Maya yang sudah bantuin pagi-pagi. Terima kasih buat semua yang udah ngedoain dan nyemangatin.

Sekali lagi, kalau ditanya kenapa saya lebih pilih Panti Jompo daripada Panti Asuhan, karena saya sebelumnya memang belum pernah ke Panti Jompo dan karena saya tau anak-anak seumur saya pasti akan lebih memilih mengadakan acara di Panti Asuhan. Pasti akan lebih menyenangkan, pikir mereka. Selain itu karena sebenarnya ada alasan khusus di balik keinginan saya mengadakan acara di Panti Jompo. Karena Opa dan Oma saya. Opa merupakan orang yang sangat berarti dalam hidup saya, namun ia sudah tidak ada. Saya masih punya dua orang Oma, yang satu sedang sakit, sementara saya saat ini tidak bisa bertemu dengan oma yang satu lagi karena hal tertentu. Papi saya sudah tidak ada juga dan saya berarti tidak memiliki kesempatan untuk melihatnya tua. Panti Jompo merupakan tempat yang tepat untuk berbagi cinta dan melepaskan kerinduan ini.

Maka ketika sang Suster menyuruh saya memberikan kata sambutan, dengan suara bergetar menahan tangis, saya menjabarkan maksud saya satu persatu yang sebenarnya sudah ada di otak dan hati saya sejak awal saya berniat membuat hal ini. Ini merupakan peringatan satu tahun meninggalnya Papi Januari lalu, ulang tahun Aldo yang ke 20 bulan Februari, ulang tahun saya dan Mami di bulan Maret, 6 tahun meninggalnya Opa di bulan yang sama, satu tahun saya bekerja pada bulan Mei, plus kalau Papi masih hidup berarti kemarin ini Papi tepat berusia 55 tahun. Ini juga merupakan ungkapan syukur atas segala hal, juga ajakan untuk berbagi. Karena mungkin bukan hanya saya saat ini yang harusnya mengucap syukur, tapi juga kita semua yang ada di sini. Mungkin salah satu dari kita ada yang baru saja ulang tahun, baru mendapat kerja, baru bisa membeli mobil baru, baru bisa membeli handphone baru, dan lain-lain. Hal-hal ini mungkin kita anggap biasa, tetapi sebenarnya semua hanya titipan dari Tuhan yang sudah sepatutnya disyukuri. Karena saya yakin, dengan berbagi, tidak akan pernah membuat kita kekurangan. 🙂 Ohya, dan kata-kata pembukaan saya ini lalu terpotong oleh seorang Opa yang tiba-tiba menunjuk tangan. Ketika saya bertanya, ada apa Opa? Sang Opa menjawab, sudah lapar. Maka kami semua tertawa dan kami makan siang.

Terima kasih sekali lagi, Oma dan Opa. Tuhan memberkati. Amin.

Dengan cinta,

Lidwina Marcella

Cucu dari Opa Oma Yahya dan Opa Oma Arifin.

Advertisements

One response to “GOD is never too far!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s