another Best Birthday Gifts * a-MAZE-in LIFE

Seiring bertambahnya usia, caraku memandang sesuatu sedikit demi sedikit mulai mengalami pergeseran. Waktu kecil, aku selalu memprotes segala sesuatu yang menurutku tidak baik. Namun hal itu mengalami perubahan ketika saya berusia 17 tahun. Tepat satu hari menjelang ulang tahun saya yang ke-17, yang kata orang merupakan usia anak gadis beranjak dewasa. Mungkin hal ini benar terjadi padaku. Ketika itu, saat anak-anak seusiaku memaknai hari ulang tahunnya yang ke-17 dengan pesta besar-besaran, aku harus memaknainya dengan kehilangan salah satu sosok yang paling berpengaruh dalam hidupku. OPA. Ia meninggal tepat satu hari sebelum ulang tahunku yang ke-17. 26 Maret 2005.

Pagi itu rasanya aku seperti disambar petir. Sekitar pukul 5 pagi, aku mendengar dering telepon rumah yang langsung diangkat oleh Mamiku. Aku terbangun dan samar-samar aku mendengar suara Mami menjawab telepon itu. Jantungku berdetak kencang, seakan tau apa yang terjadi. Mamiku masuk ke kamarku lagi, berlutut di samping tempat tidurku, mengelus rambutku, mencium pipiku, lalu berbisik, “Opa udah nggak ada ya, Cel. Cella yang tabah ya.”

Aku membuka mata lebar-lebar. Otakku berusaha mencerna bisikan mami tadi. Aku duduk di tempat tidurku, sementara Mami membangunkan adikku, lalu ia beranjak ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Aku mendengar suara Mamiku menggosok gigi sambil menangis, “Papi… Papi…”. Lalu sesuatu dalam diriku mengatakan, ini bukan mimpi. Aku mencubit-cubit pipiku sendiri lalu menamparnya. Aneh. Ini sakit. Aku lalu menangis.

Di rumah sakit, di saat semua orang menyesali kepergian Opa yang satu hari sebelum ulang tahunku yang ke-17, di saat semua orang memelukku dan memintaku untuk tabah dan sabar, di saat semua orang mengucapkan rasa ibanya kepadaku, di situlah aku menemukan sesuatu yang lain di balik semua ini.

Tuhan mengajakku untuk melihat sesuatu yang berbeda. Ia memberiku sebuah hadiah istimewa untuk hari ulang tahunku. Ia memberi kepercayaan-Nya kepadaku. Ia tau, aku mampu menghadapinya. Aku tidak bersedih karena Opa pergi di saat aku sangat mengharapkan kehadirannya di hari ulang tahunku. Aku tidak sedih karena Opa tidak lagi bersama kami. Aku bahagia, karena Opa sudah terbebas dari kesusahannya. Lagi-lagi Tuhan memberiku hadiah, Ia melepaskan Opa dari segala penyakitnya.

Iya. Di saat itulah aku merasa sangat berbahagia. Aku menyadari bahwa ini merupakan sebuah hadiah terbaik dalam hidupku. Pas ketika aku harus beranjak dewasa, Tuhan memberiku hikmat itu.

—–

Aku selalu suka bulan Maret. Pasti kalian tau kenapa. Karena bulan itu banyak yang berulang tahun, salah satunya aku sendiri. Tapi selain itu, Mami dan Dosen tercintaku juga berulang tahun di bulan yang sama dan tanggal yang berdekatan. Ulang tahun berarti makan-makan dan hadiah bagi kebanyakan orang. Juga bagiku. Namun ada hal lain yang bagiku lebih penting dari sekadar perayaan dan hadiah berupa barang.

Saat itu merupakan minggu awal di bulan Maret di saat usiaku hampir menginjak 22 tahun. Iya, tahun lalu. Aku mendapat telepon dari Kedutaan Besar Amerika Serikat yang mengatakan bahwa aku keterima summer course di Amerika selama 5 minggu. Ceritanya dapat kalian baca di sini.

Perasaan tidak percaya, haru, bahagia, dan juga sedih bercampur dalam hatiku saat itu. Aku tidak percaya karena hal ini nyata. Terharu karena apa yang aku katakan ternyata benar-benar terjadi. Bahagia karena akhirnya aku bisa ke luar negri. Sedih karena mengingat aku harusnya bisa berbagi kebahagiaan dengan Papi.

Bagiku, mendapat kesempatan untuk pergi ke luar negri secara cuma-cuma bagaikan mimpi di siang bolong. Rasanya tidak mungkin. Tetapi hal ini terjadi. Dan memperoleh kabar bahwa pengalaman berharga ini menjadi milikku merupakan salah satu hadiah terbaik untuk ulang tahunku. Lagi-lagi aku menemukan maksud Tuhan di balik semua yang terjadi dalam hidupku. Ia mengajarkanku untuk yakin dan percaya. Ia mengajarkanku untuk tidak menyerah dan fokus terhadap apa yang aku lakukan. Semuanya akan berbuah manis jika kita menjalankan sesuatu dengan sepenuh hati. Ia lagi-lagi mengajarkanku untuk bersyukur, tentu saja.

—–

Tahun ini, ulang tahunku juga bakal menjadi pengalaman yang berbeda. Banyak orang yang bilang, hati-hati dengan bicaramu karena itu bisa menjadi kenyataan! Aku percaya sekali dengan nasihat itu karena berkali-kali terbukti dan terjadi dalam hidupku. Begitu juga dengan kisah awal mula perjalanan ke Thailand-ku yang bisa kalian baca di sini.

Bukan hanya perjalanan ke Thailand yang aku dapatkan secara cuma-cuma yang menjadi hadiah untuk ulang tahunku yang ke-23 tahun ini, tetapi hal di balik itu. Pasalnya, tepat tanggal 27 Maret 2011 seharusnya aku berangkat ke Thailand. Pagi itu aku bangun pagi-pagi untuk pijat refleksi bersama Mami karena malam sebelumnya (tepatnya sebulan terakhir) aku harus berkutat dengan kegiatan kampus setiap minggu. Setiap minggu harus menginap di kampus dan bekerja sampai malam membuat urat-urat dan otakku tegang. Persiapan ke Thailand pun aku akui ala kadarnya.

Setelah pijat refleksi selesai, aku segera berangkat ke airport sendiri. Tidak ada sesuatu yang janggal hari ini. Aku berangkat dengan senang dan gembira. Yeay!! Aku akan merayakan ultahku di pesawat dan di Thailand! pikirku. Maka bayangan akan hotel dan suasana di Thailand menyeruak di pikiranku sepanjang perjalanan.

Sesampainya di airpot, kedua temanku – Gilang dan Albert sudah tiba di sana. Begitu kami akan memasuki ruang check in, Mamanya Gilang mengingatkan, “Sudah siap ya semua tiket sama passportnya.” Lalu aku langsung merasa seperti ditampar. PASSPORT!! KETINGGALAN DI RUMAH!! Seketika aku panik, begitupun teman-temanku yang lain dan orang tuanya. Kami pergi ke counter maskapai penerbangan yang kami akan tumpangi untuk menanyakan prosedur ketinggalan passport (aneh. apa ada prosedur ketinggalan passport?) Masa bodoh. Yang penting tanya dulu.

Aku sibuk menelepon Mami, tapi tidak diangkat-angkat. Maksudnya ingin memintanya untuk mengantarkan passport. Aku tau agak mustahil untuk sampai ke Bandara dalam kurun waktu 1 jam, sementara Mami pun tidak berada di rumah, melainkan di Depok. Aku masih terus berusaha menelepon Mami dan berdoa supaya teleponnya diangkat.

Di counter pesawat yang akan kami tumpangi, aku bertanya apakah ada kemungkinan pesawat ini delay (karena pesawat ini memang terkenal delay). Aku berdoa sebelum mendapat jawaban dari si mbak-mbak manis yang berada di belakang counter. Ternyata jawabannya mengecewakan. Pesawat tidak delay. Mengecewakan bagiku, tapi tidak mengecewakan bagi penumpang lain. Lalu aku bertanya, apakah ada penerbangan selanjutnya ke Thailand. Lagi-lagi jawabannya mengecewakan. Tidak ada. Lalu pertanyaan berikutnya muncul, apa mungkin kalau aku membatalkan penerbangan sekarang dan mengganti dengan penerbangan besok, tapi tidak perlu bayar lagi. Jawabannya tidak mungkin. Lalu pertanyaan selanjutnya, apa mungkin kalau sekarang aku di check-in-kan dulu oleh dua temanku dan pesawat menunggu sampai passport ku datang. Kata si mbak-mbak manis itu, kami harus menanyakan di counter check-in.

Lalu akhirnya Gilang dan Albert masuk ke counter check-in duluan untuk menanyakan hal itu. Aku masih berkutat dengan telepon yang akhirnya diangkat oleh Mami. Aku langsung memintanya naik ojek untuk pulang mengambil passport dan mengantarkan lagi ke bandara. Mami bersedia. Ia ikutan panik. Lalu aku menyuruhnya naik taksi saja. Kasian.

Albert dan Gilang mengabari kalau pesawat akan menunggu sampai 5 menit sebelum jadwal keberangkatan. Aku berdoa dalam hati supaya Mami bisa sampai tepat waktu. Sekarang hatiku mulai tenang. Aku sudah pasrah. Aku tidak terlalu berharap muluk-muluk lagi. Aku mulai berpikir, kalau memang aku harus ketinggalan pesawat, berarti ada sesuatu di balik ini semua. Lagi-lagi Tuhan pasti ingin aku menemukan sesuatu di balik itu. Sekarang aku belum tau apa, tapi nanti cepat atau lambat aku tau juga.

Mami masih belum sampai meskipun waktu yang tersisa tinggal 15 menit lagi. Bahkan tinggal 10 menit lagi. Lalu aku mengucapkan selamat jalan kepada Albert dan Gilang. Sampai bertemu di Thailand besok malam.

Selagi menunggu Mami, aku menuju counter maskapai penerbangan tadi. Masih bersikeras apakah ada kemungkinan untuk mengganti tiket untuk besok. Setelah kutanyakan, si mbak-mbak itu menjawab, “Maaf Mbak. Karena mbak sudah di check-in-in oleh temannya tadi, jadi tiket mbak ga bisa dialihkan untuk besok. Kalo nggak sih bisa, mbak.”

Aku rasanya mau ngamuk! Tadi dia bilangn mau di check-in-in atau tidak, tiket tetep tidak bisa dialihkan, sekarang dia bilang bisa kalau belum di check-in-in! Aku merasa ditipu saat itu juga. Mau marah, tapi sudah keburu pasrah. Aku berusaha tersenyum yang tak kalah manis kepada si mbak yang tetap manis walaupun jawabannya menyebalkan.

Mami tiba sekitar 10 menit setelah pesawat berangkat. Aku masih tidak mau menyerah. Aneh rasanya pulang lagi ke rumah dengan koper yang sudah siap pergi ke Thailand. Aku mencari maskapai penerbangan lain yang berangkat hari ini. Ternyata ada. Secercah harapan bertemu teman-teman di Thailand malam ini atau besok pagi pun muncul. Namun ternyata harganya 900 US Dollar! TIDAK MUNGKIIIIINNN… Harapan pun pupus.

Mami mengajak aku menginap di hotel bandara. Ia sepertinya tidak mau mengecewakanku meskipun ini salahku sendiri. Namun aku memutuskan untuk pulang dan membeli tiket untuk penerbangan pesawat murah itu besok sorenya.

Di dalam perjalanan pulang, aku bertanya, “Mi, Cella boleh nangis nggak?”

Mami menjawab, “Boleh.”

Lalu aku bersandar di pundaknya dan memaksakan diri untuk menangis. Aku bilang ‘memaksakan’ karena memang sebenarnya aku tidak mau menangis. Atau lebih tepatnya, air mata ini tidak mau keluar meskipun dadaku terasa sesak. Aku menangis. Akhirnya. Aku bersyukur karena aku punya Mami yang begitu mengerti aku. Ia tidak menyalahkanku atas kejadian ini. Akhirnya aku berpikir sendiri. Ini memang salahku.

Sahabatku, Nana lalu mengirim bbm kepadaku dan mengajakku ketemuan. Rumah kami memang dekat, dan aku mau-mau saja. Aku bilang, kita makan bertiga ya, aku, dia, dan Mami. Lalu dia menyetujuinya. Dalam hati, lagi-lagi aku bersyukur. Aku merasa Nana ingin menghiburku dan tidak ingin aku kecewa karena tidak jadi pergi hari ini ke Thailand.

Selama perjalanan itu, aku menemukan banyak hal. Ternyata jawaban dari teka-teki yang Tuhan kasih cepat juga. Aku menemukan bahwa aku memiliki seorang Mami yang sangat pengertian. Aku juga memiliki seorang teman yang sangat perhatian. Terima kasih, Tuhan, bisikku.

Di tempat makan, tempat janjian aku dengan Nana, aku melihat 2 sosok gadis yang aku kenal duduk di salah satu meja. Aku mengintip. Ternyata itu Nana dan Mega – salah satu sahabatku yang lain. Mereka sedang sibuk menyalakan lilin di atas sebuah kue kecil berwarna putih. Mereka ternyata menyiapkan kejutan ulang tahun kecil-kecilan untukku. Kali ini aku menangis sungguhan. Menangis terharu dan bahagia. Ternyata teman-temanku sangat manis. Aku senang sekali hari itu.

Keesokan harinya, Gilang mengirim SMS dari Thailand, ia bilang kalau di sana dingin sekali. Aku heran. Di sana kan udaranya sama dengan Indonesia, tapi kenapa bisa dingin? Namun dalam hati, aku bersyukur lagi, ini jawaban lain dari teka-teki yang Tuhan kasih dengan tidak mengijinkanku pergi hari itu. Aku sama sekali tidak bawa baju tebal. Semua baju musim panas. Kaus dan celana pendek. Untunglah.

***

Lagi-lagi, terima kasih Tuhan atas semua teka-teki yang engkau berikan dalam hidupku. Kini aku melihat hidupku dengan cara yang berbeda. Aku menganggapnya sebuah labirin yang harus kulalui. Aku tau, di tengah-tengah labirin itu ada sesuatu yang sangat indah dan aku harus menemukan jalan ke sana. Memang tidak mudah, namun bukan berarti tidak mungkin. Bagiku, ini adalah a-MAZE-in LIFE. a maze in life which is amazin’ life!!

God bless..

Advertisements

One response to “another Best Birthday Gifts * a-MAZE-in LIFE

  1. Memang ‘pada saat’ suatu hal terjadi, umumnya kita sama sekali tidak pernah memikirkan ‘kenapa/mengapa’ hal ts terjadi. Baru setelah itu… kalo kita menengok kebelakang dan mencoba menela’ah kejadian tsb, kita akan memperoleh jawabannya. That’s a part of God’s secrets, I think…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s