#helpINDONESIA

Setiap pagi, yang saya lakukan sehabis bangun tidur adalah berdoa dan setelah itu mengecek handphone saya. Pagi itu, ada 2 email yang masuk. Yang satu dari Kang Goris Mustaqim, yang satu dari Olivia D. Purba. Email keduanya dikirim dengan subject “Call for Collaboration”. Subject tersebut memang kami gunakan dalam berkomunikasi melalui email ke calon tim kami dalam rangka membuat sebuah proyek lingkungan dan email tersebut biasanya di-“Reply to All”.

Begitu saya baca, email-email tersebut menyatakan turut prihatin dan ungkapan untuk menyuport Alanda Kariza yang namanya memang ada di list “Reply to All” email tersebut. Saya langsung bbm Alanda, namun bbm nampaknya sedang lemot pagi itu, maka saya bbm Olivia dan akhirnya ia menyuruh saya untuk membaca blog Alanda.

Saya langsung membuka blog Alanda dan resmilah saat itu blog Alanda menjadi teman sarapan saya pagi itu. Begitu membuka blognya, terus terang saya sangat kaget dengan judulnya “Ibu, 10 Tahun Penjara , 10 Milyar Rupiah”. Saya teruskan membaca kalimat demi kalimat. Sedih. Iya. Apalagi ketika sampai ke bagian terakhir, di mana Alanda menyebutkan bahwa tepat pada tanggal 25 Januari Kemarin, mimpi-mimpinya yang ia telah bangun selama bertahun-tahun hancur bersamaan dengan berita yang menimpa ibunya, ditambah dengan paragraf yang bertuliskan:

“Ini negara yang saya dulu percayai, negara yang katanya berlandaskan hukum. Atas nama Indonesia, saya dulu pergi ke forum internasional Global Changemakers. Atas nama Indonesia, saya mengikuti summer course di Montana. Untuk Indonesia, saya memiliki ide dan mengajak teman-teman menyelenggarakan Indonesian Youth Conference 2010. Indonesia yang sama yang membiarkan ketidakadilan menggerogoti penduduknya. Indonesia yang sama yang membiarkan siapapun mengkambinghitamkan orang lain ketika berbuat kesalahan, selama ada uang. Indonesia yang sama yang menghancurkan mimpi-mimpi saya.”

 

Miris. Prihatin. Sedih. Iya. Pikiran saya lalu terbang ke kenangan setengah tahun yang lalu, ke sebuah bagian lain di bumi, benua Amerika. Saat itu, saya pertama kali berkenalan dengan seorang Alanda Kariza ketika mengikuti Summer Course di US. Cereal dan susu coklat yang menjadi teman sarapan saya pagi itu adalah juga favorit Alanda. Hampir setiap pagi, Alanda selalu sarapan itu. Saya mengenal Alanda Kariza, gadis yang menjadi inspirasi banyak anak muda itu di mata saya sebenarnya sama seperti gadis-gadis yang lain. Ia seumuran adik saya, bahkan lebih muda 3 minggu. Ia tidur di pesawat sepanjang perjalanan Singapore – Japan karena tidak enak badan. Sama seperti cewek-cewek seumurannya, dia curhat tentang cowok yang sedang dekat dengannya dan mantannya. Kami bercerita sampai malam dan ketiduran just like what teenagers do. Ia terngantuk-ngantuk, bahkan hampir tertidur di beberapa kelas pagi. Ia dan kami bisa santai saja padahal belum mengerjakan tugas presentasi negara. Ia bahkan pernah ngambek ketika kami (saya mungkin) tidak mau diajak ke Smithsonian Museum di DC dengan alasan capek, padahal akhirnya kami pergi ke China Town (Maaf, Nda. Aku tau kamu itu BT bgt sebenernya kan? :p)

Namun memang ada hal yang membuat dia berbeda dari gadis-gadis seumurannya. Ia pintar, gigih, dan memiliki semangat yang tinggi. Saya teringat ketika dulu saya pernah menyatakan hal yang sama kepada Alanda tentang Indonesia. Saya kira-kira bilang begini, “Aku nyerah, Nda sama Indonesia. Udah parah banget dan udah nggak ada yang bisa mengubah Indonesia untuk jadi lebih baik. Pengen pindah aja dari Indonesia.” Terlebih lagi pada waktu saya mengatakan hal tersebut, kami sedang mengikuti program Summer Course University of Montana yang otomatis membuat saya membandingkan Indonesia dengan Amerika. Lalu yang ia katakan kira-kira cuma, “Bisa Ce. Kalau bukan anak muda yang mengubah Indonesia, siapa lagi? Pasti bisa!” Kira-kira hanya begitu percakapannya, namun cukup membuat saya terdiam. Karena dalam hati, saya pesimis.

Membaca Alanda menuliskan hal itu tentang Indonesia lah yang membuat saya miris dan sedih. Alanda yang tadinya begitu gigih, cinta Indonesia dan selalu membawa nama Indonesia dalam segala hal yang ia lakukan, sekarang kecewa dengan Indonesia. Alanda yang begitu senang bermimpi dan berusaha membuatnya jadi kenyataan kini merasa mimpi-mimpinya hancur. Kecewa. Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang saya tangkap dari isi blog Alanda.

Begitu mengetahui kalau ternyata blog Alanda ini menuai banyak simpati di twitter, saya tidak heran, karena memang banyak anak muda yang kagum dengan seorang Alanda Kariza karena prestasi-prestasinya. Namun ketika akhirnya muncul hashtag #helpAlanda, saya malah menjadi semakin miris, prihatin, dan sedih. Saya miris, prihatin, dan sedih dengan keadaan yang menimpa Ibu Alanda (tentu saja, selain karena ia merupakan ibu dari teman saya, juga karena selama perjalanan saya dari Indonesia ke Amerika, saya yang tidak pernah menghubungi Ibu saya sendiri karena terlalu cuek, malah Ibunya Alanda yang selalu berbaik hati menghubungi Ibu saya dan memberitahukan keadaan kami), namun kejadian tersebut seperti menyingkap tirai dalam diri saya yang memaparkan kejadian-kejadian serupa di Indonesia yang malah membuat saya menjadi lebih miris, prihatin, dan sedih.

Kasus Ibu Alanda dan kasus blog Alanda mengetuk hati saya untuk mengingat bahwa sebenarnya banyak orang Indonesia di luar sana yang mengalami kasus serupa dan mungkin lebih parah, namun tidak mendapat perhatian dari masyarakat untuk membantu memperjuangkan hak dan keadilan bagi mereka. Banyak Ibu-Ibu Alanda yang lain yang mungkin sudah melakukan berbagai cara namun tetap saja tidak mendapat perhatian apalagi keadilan. Banyak Gayus-Gayus lain yang bisa berkeliaran dengan bebas karena memiliki harta dan kuasa. Membandingkan kasus Alanda yang hanya dengan blog curahan hatinya yang mungkin tidak ada tujuan apa-apa malah mendapat perhatian nasional itulah yang akhirnya membuat saya semakin merasakan ketidakadilan dan kebobrokan yang terjadi di negara Indonesia ini.

Lepas dari segala hal yang sudah diberitakan media massa maupun social media tentang kisah Alanda Kariza dan Ibunya, saya berharap masyarakat tidak lupa dengan kasus-kasus lain yang menimpa Warga Negara Indonesia lain yang seharusnya mendapatkan hak yang sama dan perlakuan hukum yang seadil-adilnya. Saya juga berharap Alanda dan Ibunya diberikan yang terbaik dan memperoleh keadilan yang seadil-adilnya dari Indonesia dan semoga kasus ini dapat menjadi jembatan bagi bangsa Indonesia untuk mendapatkan penegakkan dalam bidang hukum.

#helpINDONESIA mungkin adalah hashtag yang tepat untuk menyatakan protes dan prihatin kita terhadap keadaan negara ini, keadaan negara Indonesia ini.

This is just a small thought of mine. How about yours?

 

Dear Alanda,

Keep strong! For you, for your family, and also for our Indonesia.

Do not EVER give up your dreams. Keep dreaming and make it all come true.

I Love you, sis. *hug*


p.s. If you see the world as the picture of you, you should change yourself before you can change the world. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s