Saya Warga Negara Indonesia Keturunan CINA

“Amoy.. Amoy..”
“Woi, Cina!”
“Sipit..”
“Dasar Cina!”

Masih banyak lagi kalimat sapaan, ledekan, atau malah cacian yang dulu sering kali menjadi momok bagi kami, WNI keturunan Cina.

Ayah dan Ibu saya lahir dengan nama Cina yang masih 3 kata. Namun peraturan pada jaman mereka lalu mengharuskan mereka mengganti nama dengan nama Indonesia. Kalau bisa namanya yang se-Indonesia mungkin. Malahan Opa saya yang dari Ayah nama Indonesia-nya Achmadi Yahya dan yang dari Ibu bernama Arifin Sulaeman. Kurang Indonesia apa coba?

Menurut cerita Ayah saya, pada jaman itu mereka sulit sekali mengurus surat ini itu. Sering diperhambat birokrasinya oleh pemerintah. Beruntunglah Ayah saya termasuk orang yang punya banyak teman di mana-mana dan kami tinggal di lingkungan betawi yang tidak fanatik. Percaya nggak percaya hal itu disebabkan karena mereka tidak tau Ayah saya ada keturunan Cina karena kulitnya yang hitam. Ditambah lagi Ibu saya yang matanya belo sering kali dianggap Manado. Dan kalaupun pada akhirnya mereka tahu kami Cina, kami sudah terlanjur menjadi bagian dari komunitas mereka.

Adik saya lahir dengan mata belo keturunan Ibu saya dan kulit hitam keturunan Ayah saya. Waktu kecil ia sering disangka orang Batak, maka kami memanggil dia ‘ucok’. 😀 Semenjak itulah, pangilan ‘Cici’, ‘Koko’, ‘ii’, atau apalah yang berbau Cina ditiadakan di rumah kami. Kebetulan Ibu saya adalah anak yang pertama kali menikah di keluarganya. Jadilah akhirnya tidak ada lagi sebutan-sebutan seperti itu di keluarga besar kami. Semua panggil ‘Kakak’, ‘Om’, ‘Tante’, pokoknya yang universal. Malah dari pihak Ayah saya, imlek sudah tidak lagi menjadi tradisi.

Ayah saya paling kesal kalau ada orang yang kenal dia dan keluarganya lalu memanggil dia dengan sebutan ‘engko’ atau manggil Ibu saya dengan sebutan ‘cici’. Ia juga paling wanti-wanti sama kami anak-anaknya untuk tidak mengaku bahwa kami ada keturunan Cina. “Pokoknya kalau ada yang tanya Cella atau Aldo orang apa, ngaku aja orang Manado,” begitu kata Ayah saya dulu, sewaktu kasus 1998 sedang ramai-ramainya. Sampai-sampai Ayah saya menyiapkan kira-kira marga Manado apa yang bisa dipakai untuk menyamar. Hahaha.. Silly, isn’t it?

Yah, tapi begitulah keadaan kami dulu. Ayah saya takut kalau saya jalan sendirian, karena baginya saya masih kelihatan Cina karena sipit dan berkulit putih. Takut dikatain ‘amoy’, takut digodain orang, bahkan takut saya diapa-apain. Makanya ia senang kalau saya berenang, main sepeda, main bulu tangkis sampai kulit saya hitam. “Biar nggak keliatan Cina dan nggak dipanggil Amoy,” katanya.

Dalam hati, saya yang pada waktu itu masih SD sebenarnya sedih. Kenapa sih harus ngaku-ngaku jadi orang lain? Kalau kita Cina, kenapa nggak bilang Cina? Kenapa harus ngumpet2 kalau ngerayain imlek? Kenapa harus was-was ada kerusuhan kalo pas imlek pergi ke daerah Kota atau Kelapa Gading yang banyak orang Cina-nya? Kenapa harus tulis surat sakit untuk minta ijin ke sekolah pas imlek? Kenapa ga bilang aja kalau kita ngerayain imlek?

Lalu muncul lagi pertanyaan-pertanyaan ini: emang apa yang salah sih menjadi Cina? Kenapa barongsai dilarang? Kenapa belajar bahasa Mandarin harus ngumpet-ngumpet? Keadaan semakin parah, sampai-sampai saya bertanya: Kenapa di toko-toko harus ditulis ‘Milik Pribumi’? Bahkan sampai di mobil kami pun, kami pasang tasbih di kaca spion depan. Kenapa toko-toko milik orang Cina dijarah dan dibakar? Kenapa cewek-cewek Cina yang ga ada salah harus diperkosa dan dibunuh? Kenapa saya harus dipulangkan dari sekolah dan diliburkan? Kenapa teman-teman saya pindah ke luar negri?

Lalu tak lama keadaan itu berubah. Ketika seorang Abdurahman Wahid menjadi Presiden. Sebutan ‘Cina’ kini diperhalus dengan sebutan ‘Tiong Hoa’. Imlek pun akhirnya menjadi hari libur nasional. Barongsai boleh bikin pertunjukan dimana-mana dan dinikmati semua orang tanpa harus ngumpet-ngumpet dan takut didemo masa. Bahasa Mandarin boleh menjadi mata pelajaran di sekolah-sekolah.

Lama kelamaan, saya merasakan bahwa sebutan ‘Amoy’ tidak lagi begitu menyakitkan, panggilan ‘koko’ dan ‘cici’ terdengar lebih enak di telinga, bahasa-bahasa Cina seperti: ‘cincai’ atau yang lainnya jadi semakin universal. Mungkin semua disebabkan karena saya merasa orang-orang Cina atau Tiong Hoa kini lebih berbaur dan lebih di’terima’ di Indonesia. Kami sudah tidak begitu takut lagi. Tidak terlalu trauma lagi.

Bagi saya sendiri, ketika sekarang ada yang memanggil saya dengan sebutan ‘cici’, saya selalu merasa ada perasaan berbeda dalam diri saya. Mungkin karena sejak dulu di keluarga saya selalu membentengi diri dengan doktrin ‘saya bukan Cina’, maka ketika sekarang ada yang mengakui saya Cina, saya merasa senang. Merasa bahwa inilah saya yang sebenarnya.

Ya. Saya akui sekarang: Saya Warga Negara Indonesia keturunan Cina. Dan saya tidak lagi takut mengakui hal itu. Saya malah bangga dengan hal ini.

Terima kasih, Alm. Abdurahman Wahid atau Gus Dur, yang telah membuat kami, WNI keturunan Cina menemukan jati diri kami. Juga terima kasih karena telah membangunkan saudara-saudara kami Warga Negara Indonesia yang lain bahwa mereka punya saudara yang pantas mereka hargai dan hormati hak-haknya, yang tidak boleh lagi mereka bedakan karena kami bagian dari mereka. Bagian dari Indonesia.

Bhineka Tunggal Ika. Berbeda-beda, namun satu jua. Unity in diversity. Tidak hanya persatuan dari perbedaan suku, ras, dan bahasa asli Indonesia, tetapi termasuk juga pendatang, seperti: WNI ‘keturunan’.

Selamat Tahun Baru Cina, Indonesia! 🙂

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

16 responses to “Saya Warga Negara Indonesia Keturunan CINA

  1. gong xi fa cai, ^_^
    sama di sini juga, malah di kelas cenderung agak di kucilin krna paling sipit. kdg di bilang ga bisa melihat dgn jelas.. tp masa bodoh, puji tuhan semua sudah biasa saja lama-lama ^^
    :3

  2. Miris juga si bacanya. Tapi semakin lama, semua juga makin beda. Ga maksud apa2. Cuma pendapat aku aja. Kebanyakan orang china skg rasis. Sinis sama orang pribumi.
    Dikasih kebebasan kok malah semakin ngelunjak. Banyak yg ga ngakuin jadi WNI. Mereka lbh suka kalau diakui sbg china. Aku pernah tany ke temn’ku yg china “knp kok org china itu rata2 sinis k orang pribumi?” Terus dia bilang “karena menurut merka orang pribumi itu ga SELEVEL sama orang china”. Setelah pertnyaan yg aku ajuin itu ak jd sensi k org dng ketrunan china. Padahal juga tinggal d Indonesia. Knp,ga pindah aja k china kalau punya sikap kaya gitu. But nice post. I like. ^^ sorry kalau ada kata2 yg nyakitin ^^

  3. beda sama aku kalo aku, sering di kira org cina, padahal tidak ada keturunan cina sama sekali tapi ibu aku org lampung sumatera yang mirip cina putih gitu tapi bukan cina. terlebih lebih aku bisa bahasa mandarin. but i totally enjoy it.

    • Wah, aku malah nggak bisa bahasa mandarin sama sekali dan malah sering disangka orang Manado atau Palembang karena aku nggak begitu sipit. Hehehe.. Thanks for dropping by and share ur story 🙂

  4. semoga saja kedepannya masyarakat indonesia semakin cerdas menyikapi isu rasisme, agar kejadian kelam tahun 98 tidak terulang lagi.. banyak sekali prestasi bangsa indonesia yg diraih melalui warga peranakan,..

    nb: pengen banget bisa kenal sm cici keturunan tionghoa hehehhe

  5. ada sedikit koreksi ya, sebutan cina kurang tepat, karena mengacu ke satu negara yaitu republic of china, dimana dinegaranya sendiri china itu terdiri dari 56 suku, cocoknya disebut untuk orang cina diindonesia itu adalah orang han, kalau dibilang orang cina, malah jadi ga jelas tar bisa saja kita ngakunya orang cina russia, cina korea atau cina kazakh cina turki cina mongol, so jadi cina yang mana????

  6. satu lagi tahun baru china disebutnya Xin Nian Kuai Le artinya happy new year, bukan gong xi fa cai, sampai budeg juga ga bakalan ketemu arti gong xi fa= tahun baru cina.

      • Sekedar ketemu ni blog di google, trus mau share info aja. 新年快乐(xin nian kuai le) itu artinya selamat tahun baru. Sedangkan 恭喜发财(gong xi fa cai) tuh artinya semoga sejahtera. Terus kalau yg biasanya ada gong xi fat choi itu dari Cantonese setau aku.. semoga membantu 🙂

  7. Nice posting. Gue juga WNI turunan Chinese, lahir di Jakarta, tp gedenya di daerah krn ngikut bokap tugas. Baru pas SMA balik ke Jakarta lagi ampe kuliah skarang. Nah pengalaman di sebuah daerah waktu itu, gue agak sebel sama temen2 gue yg juga trunan Chinese yg klo temenan suka bkin kelompok sendiri n g mau berbaur sama temen2 pribumi. Krn dlm keluarga gue, gue diajarin buat gak milih2 temen. Selektif boleh, tp selektif dlam hal kualitas, bukan jadi rasis. Nah, di daerah pun, Bokap sering pndah tugas dr satu tempat ke tempat lain (atau kita terpaksa pindah karena ada konflik antarwarga yg parah) gue itung2, SD ajah gue empat kali pindah sekolah, SMP dua kali, SMA pun dua kali, terakhir pas kenaikan kelas 2 SMA. jadi gue mau gak mau udah terbiasa dengan penyesuaian diri dgn teman2 di lingkungan baru dan dituntut untuk punya kecakapan beradaptasi yang tinggi (cielah bahasa gue :p ). Tapi ini beneran, gue beneran dongkol dan gak tahan di daerah yg terakhir gue tinggalin sebelum pindah ke Jakarta. Gue pindahnya pas kelas 3 SMP di daerah itu, dan sekolah di situ sampe SMA kls 1. Oke, awalnya gue seneng, karena di daerah itu ternyata lumayan byk penduduk Chinese-nya, ramah n nerima keluarga kami (dalam hati gue mikir, wah ada yang sejenis nih. hahaha JK). krn di daerah, SMP yg berkualitasnya cuma satu, agak jauh sih dari rumah, tp gue beruntung krn gue gak jadi satu2nya anak sipit lg di kelas (Horee!). Gue sih fine2 aja, sampai akhirnya gue sadar kok tmen2 gue pada bentuk geng2an gitu yah? Trus geng yang isinya chinese, sendiri.. yg isinya anak2 lokal, sendiri. Nah, gue yg waktu itu statusnya masih murid baru (masih suci dan lugu serta unyu2. Akakaka) otomatis blm punya geng dong.. Maka dideketinlah gue sama personil geng yg isinya anak2 sejenis gue (yg imut2 kyk cherrybelle itu.. Hahaha JK :p). Gue sih OK2 aja, lagian juga ini kan cuma temen main pas istrahat di sekolah, pas blajar kan kita berbaur dlm satu kls. gue sebangku sama anak asli daerah situ, namanya Ita, anaknya baik n jadi sahabat gue jg (biarpun kita beda geng) emang sih pas istrahat kita maennya bareng teman2 se-geng, tp kita berdua sering ngerjain PR bareng, sekelompok bareng, smpe klompok praktek UAS pun bareng (and kita dpt nilai tertinggi lho pas UAS.. Ahaha sombong bgt gue :p ).
    Nah, yg mau gue ceritain, yg kata gue bkin dongkol itu, pas gue masuk SMA. Gini ceritanya, SMA di daerah itu cuma ada 3. 2 Swasta, 1 Negeri. Yg rating favorit waktu itu SMA swasta (salah satu aja, yg Swasta satunya lagi, biasa aja) nah, awalnya gue pengen masuk SMA Swasta yg favorit itu, krn selain muridnya lebih byk, n temen2 gue pada masuk ke sana, SMA itu jg deket rumah (capek bo.. SMPnya dulu jauh bgt -_- untung ajah gak macet) tapi sayangnya, Nyokap masukin gue ke SMA Negeri, dgn alasan SMA Negeri selalu lbh bgus drpd SMA swasta (Oke -_- Nyokap gak boleh dibantah) dan, terjebloskanlah gue ke SMA Negeri itu. (hiks). Nah, di SMA Negeri ini, g ada satu pun temen sejenis (chinese) yg gue temui. Kecuali seorang kakak kelas 2, yg itu pun sepupu gue T.T (oh toloong..)
    Lalu, dimulailah pemahaman ‘stereotype tentang Chinese dari penduduk lokal’ dalam pikiran gue. Masa setahun sekolah di SMA, itu masa pembentukan gue. Temen2 awalnya gak byk ngomong ke gue, entah mereka segan atau benci atau apalah (perlu diketahui, sebagian besar temen gue di sini, sekolah di SMP yg sama) nah, mau gak mau, berusahalah gue yg deketin mereka, biar gue jg ada temennya. Masa gue pulang sendiri naik angkutan umum yg nunggunya harus berjam2? (di SMA, gue gak di antar-jemput lagi kyk SMP, cuma di anterin doang pas pagi, pulangnya gue sendiri, udah gede katanya, malu sama seragam -_- hiks. Padahal kan lebih jauh dr SMP gue dulu) nah, gue berhasil tuh deketin mereka, tp cuma dianggap temen pulang doang, hal2 lain gue gak dianggap 😥 mereka perlu kalau ada tugas sma PR ajah, giliran hang out atau ngegossip gue gak diajak. Hiks. Padahal kan gue juga pengen.. Ngegossip. Eh, salah, pengen temenan sama mereka. Tapi gitulah, awalnya gue gak trima, n gue tanyalah ke mereka, knp gak mau temenan sama gue, mereka sih gak blg ap2, tapi selidik punya selidik, mereka ternyata udah terlanjur terdoktrinasi kalau temen2 Chinese itu sombong2, loyal sama kelompoknya tp pelit sama yg lain, trus suka nganggap kalau temen2 lokal itu gak se-level, makanya gak mau gaul sama anak lokal. OH GOSSHH.. -_- Tau gak, sebenarnya waktu tau itu, gue jadi pengen marah. Marah ke dua belah pihak. Krn gue jadi korbannya 😥 tp apa mau dikata, gue jalanin ajah masa2 SMA itu, sedih sih, gak punya temen kyk sebelum2nya, n ini kali pertama gue ngerasa gagal berbaur. tp untungnya pas naik kls 2 SMA, gue pindah ke Jakarta lg (yeay!) kyknya Tuhan tau penderitaan gue, n bilang : Sudah cukup Nak, sudah cukup kau tau dan belajar.
    Hhhh.. Sampai sekarang, gegara itu, gue belajar tulus menghargai org lain, gak boleh stereotyping. Krn gue udh pnh jadi korbannya. Dan itu gak enak.
    Kalian juga yaah 🙂 semoga kisah gue bisa ngasih pelajaran

  8. Menurut saya, pantas lah kadang pribumi agak sinis dengan orang keturunan cina, karna yg saya liat masih ada ada sebagian warga keturunan cina yg tinggal di indonesia tapi mereka tidak seperti org indonesia, mereka kelihatan lebih menonjolkan Cina nya dibanding indonesia nya baik dalam cara berpakaian dan bergaul, mereka seperti ingin di exlusifkan, khususnya mereka2 yg kaya, apabila mereka punya usaha, rata2 Perusahaan yg mereka miliki tidak ada serikat pekerjanya, jadi mereka bebas memperlakukan para pekerjanya sesuai keinginan mereka, baik mengenai upah maupun jam kerja yg kadang tidak sesuai dengan aturan yg seharusnya, untuk posisi yg penting pun kadang mereka menempatkan keluarga nya walaupun secara ilmu tidak memadai, tapi tidak semua warga keturunan juga begitu masih banyak dari mereka yg membaur di masyarakat tapi rata2 yg bergaul itu mereka yg kalangan menengah kebawah

    Maaf kalo saya agak sinis ke warga keturunan, tapi cuma sebagian ya, gak semuanya :D, karna saya percaya banyak juga suku di indonesia yg dulunya mungkin nenek moyangnya berasal dari dataran cina, itu bisa kita liat dari ciri2 fisik sebagian suku di indonesia, tpi karna mereka telah membaur dengan letak geografis mereka yg sekarang budaya mereka pun juga ikut membaur, berbeda dengan mereka yg baru datang di abad 19 dan 20 mereka seperti ingin menanam patok budaya mereka ditanah air tercinta ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s