Perayaan Malam Tahun Baru untuk Alam dan Allah

Kemarin, merupakan hari terakhir di bulan desember dan di tahun 2010. Semua orang sepertinya tidak sabar menyambut malam pergantian tahun. Beberapa teman mengajak untuk mengadakan pesta barbekyu di rumah teman, yang lain mengajak pergi hanya untuk menyambut tahun baru di tengah keramaian kota, namun saya lebih memilih untuk melewati pergantian tahun di rumah.

Lalu tiba-tiba, sebuah pertanyaan muncul di benak saya: “Kenapa malam tahun baru identik dengan pesta kembang api dan gegap gempita terang benderang di tengah malam dan di tengah keramaian?” Kemudian, sebuah pertanyaan lain menyusul, dan mungkin menurut kalian ini sebuah pertanyaan konyol dan aneh: “Kenapa nggak merayakan tahun baru dengan mematikan lampu?” Sebenarnya pertanyaan ini muncul karena terinspirasi dengan aksi Earth Hour – sebuah aksi mematikan lampu selama satu jam pada pukul 20.30-21.30 waktu setempat yang dilakukan oleh seluruh dunia setiap minggu terakhir di bulan Maret dalam rangka menyelamatkan bumi dari ancaman Global Warming.

Maka pertanyaan mendadak itu akhirnya menjadi rencana yang akan saya lakukan dalam melewati pergantian tahun kali ini. Mematikan lampu mulai dari pukul 23.00 sampai — kali ini untuk batas waktu yang tidak ditentukan, gelap-gelapan di rumah, menghabiskan waktu berdua mami, merefleksikan kejadian yang telah kita lewati selama satu tahun kemarin, dan membuat resolusi untuk tahun yang akan datang ini, nampaknya menjadi sebuah pilihan terbaik untuk saya dan mami yang tahun ini hanya akan melewati malam pergantian tahun berdua.

Tahun lalu, Papi masih ada dan kami melewati malam pergantian tahun dengan menonton kembang api dari teras depan rumah. Kebetulan di komplek perumahan saya, banyak keluarga yang rela membakar duit mereka untuk mewarnai kegelapan langit malam. 😀 Semua begitu indah dan semarak kelihatannya. Waktu itu kami tak henti-hentinya mengagumi keindahan langit malam itu. Namun tahun  ini, tidak ada keinginan sedikitpun untuk keluar rumah.

Aku dan mami makan malam gelap-gelapan di ruang tamu. Kami sengaja tidak makan di meja makan, melainkan duduk lesehan sambil makan ayam penyet dan es teler yang kami beli di kaki lima sebelumnya. Awalnya mami protes karena makan gelap-gelapan, namun aku bilang, kali ini ingin merayakan tahun baru dengan cara yang berbeda, tidak mau lagi dengan perayaan meriah, melainkan ingin dengan cara yang sederhana.

Selama ini selalu mengadakan Earth Hour di kampus, merangkai acara dan melewatinya bersama teman-teman. Kali ini aku berhasil mengadakannya di rumah dan bersama keluarga. Yahh, walaupun ini bukan Earth Hour sungguhan. Tapi esensinya bagiku tetap sama. Memberikan bumi jam untuk berisitrahat. Dan tak hanya itu. Sebenarnya aku ingin melakukan ini salah satunya karena aku juga ingin memberikan waktu untuk diriku ‘beristirahat’ dan ingin lebih bisa ‘merasakan’. Benar-benar merasakan apa yang telah aku lewati selama 1 tahun ini. Dan melalui cara ini, apa yang aku inginkan tercapai!

Aku hanya bisa melihat wajah mami samar-samar, kami makan sambil mengobrol tentang beberapa hal. Backsound percakapan kami adalah suara kembang api dan petasan yang sahut menyahut sangat ramai dari luar. Sesekali kilat cahayanya masuk melalui jendela. Aku merefleksikan apa yang saja sudah kulalui mulai dari Januari 2010 sampai Desember 2010. Awal tahun lalu ditandai dengan kepergian Papi ke rumah Allah. Setelah itu banyak sekali kejadian yang terjadi dalam hidupku. Baik dan buruk. Menyenangkan dan menyedihkan. Segala pencapaian dan kegagalan. Apa yang sudah diambil dari diriku dan yang diberikan kepadaku. Semuanya membuatku sangat bersyukur kepada Allah yang Maha Kuasa. Semuanya sungguh luar biasa. Aku menilik ke belakang. Semua yang terjadi tak pernah aku duga sebelumnya. Apa yang kuminta tidak semua diberikan, tetapi apa yang Ia berikan semuanya mencukupi apa yang kubutuhkan.

Tepat pukul 00.00, aku mengucapkan selamat tahun baru kepada mami. Kami berpelukan. Mami mengucapkan pesan-pesannya kepadaku. Yang paling berkesan adalah ketika ia mengatakan: “Semoga Cella sukses, banyak rejeki, bisa dapet jodoh yang baik dan sayang sama Cella…” Aku tak kuat menahan tangis. Ya Tuhan, aku sudah dewasa sekarang. Biasanya mami mendoakan agar aku tidak nakal dan pintar, kini ia mendoakan agar aku sukses dan dapat jodoh. :”)

Setelah itu mami mengajak kami berdoa bersama. Jujur. Ketika kami duduk bersebelahan di tengah kegelapan malam, aku tidak bisa berdoa. Tidak bisa berpikir untuk berkata apa pada Allah. Aku melihat siluet mami berlutut di sampingku. Aku hanya bisa menangis. Menangis haru dan bahagia. Aku memejamkan mata. Otak dan bibirku tidak dapat berkata apa-apa, tetapi hatiku berbicara langsung dengan Sang Pencipta yang aku tidak tahu bicara apa. Yang jelas, air mata itu tak henti-hentinya mengalir dari mataku. Aku bersyukur atas malam kemarin dan malam-malam sebelumnya. Di saat gelap, aku melihat cahaya. Cahaya dari alam dan dari Allah.

Puji Syukur kepada Allah atas segala sesuatu yang Ia berikan, termasuk alam yang Ia sediakan. Untuk tempat aku dan semua makhluk hidup dan berkarya. Janjiku, akan menjaga segalanya. Menjaga alam dan isinya. 🙂 amin.

HAPPY NEW YEAR 2011..

 

Punya pengalaman tentang malah tahun baru kemarin? Kalian bisa share di sini 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s