“Tuhan Cuma Satu, Kita yang Tak Sama”

“Tuhan Cuma Satu, Kita yang Tak Sama” ini salah satu kalimat yang terdapat di lagunya Marcel yang berjudul Peri Cintaku. Meski lagunya mengisahkan tentang kisah cinta beda agama, tetapi bagiku kalimat ini tidak hanya menggambarkan hal itu. Kalimat ini memiliki arti luas dan sangat dalam.

Menjelang Natal, hari raya umat Kristiani, aku yang tinggal di Indonesia beberapa kali melihat isi pemberitaan media massa mengenai salah satu organisasi massa yang memprotes ornamen Natal yang menurut mereka berlebihan di Mall-mall. Dari pemberitaan itu lalu muncul banyak tanggapan di twitter. Bahkan beberapa dari mereka sampai menuliskan twit-twit tentang perbedaan agama di Indonesia. Menarik.

Bagiku, banyaknya agama di Indonesia menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Kembali ke saat ketika aku di Amerika dan bergaul dengan teman-teman yang berasal dari beberapa negara Asia Tenggara lain yang bahkan tidak punya agama dan mengenal Tuhan, Indonesia merupakan negara yang kaya dengan keberagaman. Selain bahasa dan suku bangsa yang selalu dibangga-banggakan, rasanya keberagaman agama juga layak mendapatkan posisi sebagai sesuatu yang membanggakan. Bagaimana tidak? Di Indonesia ada 6 agama yang kini diakui: Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, dan Konghucu. Selama setahun kita punya hari libur nasional untuk setiap hari raya masing-masing agama. Tak hanya itu, Indonesia juga terdapat lebih dari satu tipe rumah ibadah: masjid, gereja, kuil, pura, wihara. Hal ini merupakan sebuah kekayaan, bukan?

Masalahnya, ketika kita membicarakan mengenai agama di Indonesia, kadang orang-orang sudah keburu memiliki stigma negatif. Mereka keburu membentengi diri. Kenapa? Karena takut. Terutama untuk mereka yang memiliki agama minoritas. Kenapa? Karena adanya history yang tidak menyenangkan. Kenapa? Karena adanya pandangan yang salah tentang perbedaan. Kenapa? Karena lebih menganggap hal ini sebagai perbedaan, bukan keberagaman. Kalau sudah seperti ini, kejadian-kejadian tidak mengenakkan mengenai adanya keberagaman agama ini akan terus terjadi.

Bagiku, cara untuk menyikapinya adalah dengan tidak mudah terprovokasi dengan segala bentuk pemberitaan apapun. Percaya nggak? Semakin majunya teknologi kadang malah mengarahkan kita ke jalur yang salah. Semakin mudah informasi diakses dan disebarkan, jika tidak ditanggapi secara bijak maka akan membawa kita ke jalan yang tidak benar. Pemberitaan di twitter, broadcast message di blackberry messenger, facebook, semua menjadi semakin sangat mudah diakses. Info yang setengah-setengah, tidak akurat, tidak dicek dan ricek kebenarannya dan tidak dapat dipertanggungjawabkan, tidak disaring, namun langsung disebarluaskan menyebabkan orang terjebak dengan informasi yang tidak benar.

Selain itu, konsep TUHAN cuma satu, kita yang membuatnya berbeda sangat berhasil aku terapkan dalam diriku sendiri untuk menyikapi adanya keberagaman agama ini.

Contohnya begini:
Ada seorang wanita yang bernama Anastasia Riola. Ia biasa dipanggil oleh teman-temannya dengan sebutan Tasia, mencerminkan sosok wanita yang lembut. Orang-orang kantor memanggilnya Anastasia, mencerminkan sosok wanita pekerja keras. Orangtuanya memanggil Ola, mencerminkan seorang gadis kecil yang manja. Teman masa kecilnya memanggil Lala, mencerminkan seorang anak yang ceria. Pacarnya memanggilnya Sayang, yang mencerminkan seorang wanita yang dimanja. Anastasia Riola ini memilik banyak panggilan, padahal semuanya ditujukan hanya kepadanya. Sama seperti Tuhan. Ia dipanggil Tuhan, Allah, Yahwe, God, Rabbi, Budha, Sang Hyang Widhi. Mereka yang memanggil Tuhan dengan sebutan tertentu ini memiliki gambaran tersendiri tentang sosok Tuhan yang sebenarnya ditujukan kepada SATU. IA yang entah nama aslinya siapa, namun IA yang memiliki hidup dan seluruh jagat raya ini.

Contoh lain:
Anastasia Riola memiliki banyak kelompok teman. Ketika berulang tahun, teman-temannya merayakan dengan jalan bareng di Mall, lalu orang-orang kantor dengan makan siang bersama di kantin kantor, Orang tuanya merayakan di restoran favorit keluarga, teman-teman masa kecil dengan nonton bioskop, Pacar dengan dinner di tempat yang romantis. Semua bermaksud untuk membangun dan menjaga relasinya dengan Anastasia Riola. Sama seperti ketika kita berdoa di Gereja, menyanyi di Gereja, sholat di Masjid, sembayang di Pura, semedi di Wihara, semua bertujuan untuk membangun dan menjaga relasi kita dengan IA yang memiliki hidup.

Jadi, menurut saya, TUHAN yang kita sebut dengan berbagai nama dan yang kita sembah dengan berbagai cara sebenarnya hanya SATU. Keberagaman ini kita yang menciptakan, disebabkan adanya ketidakpuasan atas pencarian sesuatu yang jauh lebih besar dan kuat dari apa yang kita mampu. Kita menyebutnya Agama, yang kini sudah menjadi tradisi turun temurun dalam cara berbicara dan memanggil Tuhan, yang tertanam di setiap kita.

Mungkin dengan memahami konsep seperti ini, kehidupan umat beragama di Indonesia tidak lagi diwarnai perbedaan dan perpecahan, tetapi menjadi diwarnai dengan keberagaman dan perdamaian.

Kita kan punya slogan Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda namun tetap satu, diversity in unity.. It’s sweet though. Selain itu, bunyi sila pertama tentang Ketuhanan Yang Maha Esa, jangan sampai disalahartikan menjadi ‘hanya Tuhan saya yang ada dan Tuhan kamu tidak.’ Salah total!
:”)

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s