Terima kasih — dari para wisudawan

Kemarin, 9 Desember 2010, di Hotel Mulia Jakarta merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Wisuda!

Semua mahasiswa hadir dengan toga hitam serta dandanan dan riasan rambut super-cantik dan super-ganteng buat yang cowok. Di balik toga itu, tubuh mereka sudah berbalut kebaya super-indah ataupun jas super-keren. Iya. Wisuda merupakan salah satu moment yang sangat ditunggu oleh setiap orang yang menjadi mahasiswa. Mereka juga masing-masing ditemani oleh kedua orangtua yang pasti super-bangga dengan anak-anaknya.

Semua wisudawan duduk terpisah dari orang tua mereka. Beberapa tempat duduk di barisan depan dipenuhi oleh lebih dari 500 wisudawan yang sudah tidak sabar menanti prosesi jalannya upacara wisuda. Sama seperti aku. Tidak sabar. Senyum tidak bisa terlepas dari bibir. Bertemu teman-teman seperjuangan selama 4 tahun terakhir di bangku wisuda membawa sensasi tersendiri di hati. Akhirnya kita lulus juga!! pasti kata-kata itu muncul dari bibir setiap kami. Senang! Bahagia! Lega! Bangga! Perasaan itulah yang mengisi hati kami hari itu.

Upacara wisuda pun dibuka dengan pidato dari Ketua Universitas yang sangat menyentuh dan berhasil membuatku bercucuran air mata. Isinya mengenai bagaimana hari ini orang tua kami pasti bangga melihat kami sekarang berada di sini. Bagaimana mereka selama 4 tahun bekerja untuk membiayai kami kuliah. Bagaimana mereka sudah sangat mendukung cita-cita kami. Betapa bahagianya mereka ketika kami mengabari mereka kalau kami lulus sidang skripsi. Yang lebih menambah haru adalah ketika sang Ketua menyuruh kami para wisudawan untuk berdiri dan melambaikan tangan kami kepada para orang tua yang duduk di barisan belakang sebagai ucapan terima kasih kami kepada mereka.

Saat itu, semua wisudawan dengan toga hitam berdiri serempak, mengangkat tangan untuk melambai kepada para orang tua. Dan dari barisan belakang, para orang tua berdiri, membalas lambaian tangan kami.

Aku berdiri ragu. Masih tertegun dengan kejadian dua tahun lalu yang tiba-tiba menari di memoriku.


Dua tahun lalu, aku inget, oom ku datang ke rumah setelah anaknya yang berkuliah di tempat yang sama denganku diwisuda. Dengan perasaan bangga seperti yang pasti dimiliki oleh setiap orang tua ketika anaknya diwisuda, oom-ku bercerita kepada Papi mengenai moment ini. Moment ketika anaknya yang sudah berdandan sangat cantik dan mengenakan toga hitam melambai padanya dari bangku wisudawan. Aku ingat kata-katanya begini : “Nanti lo ngerasain sendiri deh, Ndre. Gimana pas anak lo nanti berdiri, ngelambaiin tangannya ke lo. Terharu banget pasti.” kata si oom sambil nggak berhenti-berhenti senyum. Aku dan Papi pun ikut tersenyum, ikut merasakan kebanggaan si oom pada anaknya. Dan aku juga sudah tidak sabar untuk kedatangan saat itu. Papi cuma bilang : “Cella nanti 2 tahun lagi ya Cel..”

Aku berdiri. Menoleh ke arah tempat duduk orang tua. Aku tidak bisa melihat Mami di tengah-tengah kerumunan para orang tua. Apalagi Papi. Jelas Papi nggak ada di sana. Aku mengangkat tanganku. Tapi tidak melambai ke arah orang tua. Aku memalingkan muka, menoleh ke atas langit-langit. Mungkin Papi ada di sana. Aku sibuk dengan tissue dan mataku. Basah.

Ketika namaku dipanggil untuk naik ke atas panggung, menerima ijasah, dan untuk diresmikan sebagai sarjana, aku tersenyum. Sebuah kalimat terucap untuk Papi : “I can’t see u, but I know u can see me.”

Terima kasih, Papi. Selama 4 tahun kemarin Papi yang paling berjasa dalam hidup Cella. Gelar sarjana ini sebenernya untuk Papi. 🙂

Ini merupakan sebuah awal baru, anak tangga baru yang harus aku naiki. Setelah ini akan lebih banyak hal dan tantangan lain yang harus aku hadapi. Semoga bisa lebih membuat Papi bangga di atas sana. Aku nggak bisa lihat Papi, tapi aku tau Papi lihat aku. Maka selanjutnya, aku mau Mami yang masih bisa aku lihat, suatu saat bilang, “Iya. Itu anak saya” sambil tersenyum bangga dan melambai kepada saya.


Terima kasih, Papi, Mami, Mama, Papa, Ayah, Bunda, Abah, Umi, Emak, Babe, Mom, Dad, Bapak, Ibu, atas semua yang engkau berikan kepada kami. Terima kasih banyak atas pengorbanan dan dukungan kalian selama ini. Kami tidak akan berhenti di sini. Kami akan terus membuat kalian bangga.

Dengan cinta,
Para Wisudawan.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

2 responses to “Terima kasih — dari para wisudawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s