“Kenapa Tuhan Nggak Nyembuhin Papi?”

Papi: Kenapa Tuhan nggak nyembuhin Papi?

Aku: Karena Tuhan percaya sama Papi kalau Papi bisa menghadapi ini.

Papi: Sebenernya Papi udah nggak kuat. Ini Papi kuat-kuatin demi Cella dan Aldo.

Aku: Tuh! Berarti Papi kuat, kan? Tuhan tau, Pi.

Papi: Mau sampai kapan Tuhan begini sama Papi? Mau sampai Papi meninggal, baru Dia bilang ‘OK, Andre sudah nggak kuat.’?

Aku: —diam—

Papi: Kalau bukan karena Cella dan Aldo, Papi udah mau menyerah aja.

Aku: Papi tau nggak? Kadang kita nggak boleh fokus sama masalah yang kita hadapi, tapi lihat di balik itu Tuhan mau apa. Maksudnya, selama ini kan Papi mempertanyakan terus ke Tuhan: kenapa Tuhan nggak sembuhin Papi, Papi salah apa sampai Tuhan kasih penyakit ini ke Papi. Tapi Papi nggak pernah tanya ke Tuhan: Tuhan mau Papi melakukan apa dengan penyakit ini, maksud Tuhan apa. Mungkin Tuhan kasih penyakit ini bukan karena Papi berdosa apa atau gimana, tapi karena Tuhan mau Papi melakukan sesuatu yang orang lain ga bisa lakukan. Tapi itu apa? Itu yang harus Papi cari.

Papi terdiam. Pandangannya menerawang entah ke mana. Aku tidak tau apa yang ada di pikirannya saat itu. Apakah ia sudah menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya atau belum, aku tidak tau.

Sampai setelah ia meninggal, akhirnya aku yang menemukan jawabannya. Bukan untuk Papi, tapi untuk diriku sendiri.
Pertanyaannya bukan lagi “kenapa Tuhan nggak nyembuhin Papi?” tapi “Apa yang Tuhan inginkan dari kami (bukan hanya Papi) dengan panyakit yang Papi derita?”
Dan jawabannya adalah, sama seperti Tuhan mencobai Ayub dengan mengambil semua harta miliknya sampai seluruh keluarganya untuk menguji kesetiaannya, Tuhan juga sedang menguji kesetiaanku pada-Nya. Apakah aku sanggup tetap setia dan bersyukur kepada-Nya dengan segala ujian yang aku hadapi, sampai Ia juga mengambil lagi orang terdekat dalam hidupku, yang kali ini adalah Papi-ku sendiri. Dan ketika aku sanggup, Tuhan memberiku hadiah pertumbuhan iman untuk mempercayai hal-hal yang tidak dapat kusentuh dan kulihat.

Tidak hanya untukku, tetapi juga untuk Mami dan Aldo, penyakit Papi dan kepergiannya merupakan sebuah proses pembelajaran bagi kami di ruang kelas yang dinamakan ‘kehidupan’. Dan gurunya adalah semua orang yang hadir dalam hidup kami.

Bagiku, dengan pemahamanku sendiri tentang Tuhan, melalui apa yang kualami, Tuhan tidak akan memberikan ujian yang lebih besar dari kemampuan umat-Nya. Dan jika Papi meninggal, bukan berarti Tuhan memberikan ujian melebihi kemampuan Papi, tetapi karena Papi sudah lulus ujian. Melalui Papi, ujian tersebut juga diberikan kepadaku, Mami, dan Aldo. Dan sekarang terbukti, kami mampu menghadapi ujian tersebut, namun kami belum lulus. Berarti akan masih banyak lagi ujian-ujian yang harus kami hadapi. Namun yang terpenting adalah bukan hanya mampu menghadapi ujian tersebut, tetapi juga bagaimana melihat ujian tersebut dari berbagai sisi yang berbeda sehingga kita tidak hanya mendapat nilai bagus, namun dapat memahami maksud dari setiap soal yang diberikan. Yang terpenting bukanlah hasil akhir, tetapi prosesnya. Jika sudah begitu, akan lebih mudah memahami soal-soal selanjutnya dan kita akan dengan senang hati mengerjakannya. Dengan demikian, iman dan karakter kita akan bertumbuh.

Ketika Papi sedang koma, saat itu aku yakin Papi tidak akan bertahan sampai besok. Namun, aku tidak terpuruk dengan pemikiran-pemikiran bahwa Papi akan meninggalkan kami, aku tidak akan bertemu Papi lagi, Papi tidak melihat aku wisuda, menikah, punya anak, dan lain-lain. Yang ada di pikiranku saat itu adalah “OK. Papi akan pergi, berarti setelah ini aku harus melakukan apa? Aku hanya tinggal bertiga dengan Mami dan adikku yang baru masuk kuliah. Aku harus belajar mandiri, mengurus ini itu sekarang sendiri. OK. Berarti Tuhan percaya setelah ini Mami yang harus menjadi single parent dan mengurus kedua anaknya. Tapi aku sudah dewasa, aku hampir lulus kuliah, aku harus bekerja untuk bantu Mami dan Aldo. Aldo harus benar-benar berjuang untuk masa depannya dengan tidak menyia-nyiakan kuliahnya. Aku yakin, habis ini akan ada banyak hal besar yang terjadi dan aku yakin itu baik. Karena aku percaya, Tuhan tidak akan mengambil sesuatu dari hidup kita tanpa memberikan sesuatu yang lebih baik. Baiklah. Kalau begitu, aku siap.”
Dan ketika keesokan harinya Papi benar-benar pergi, aku sangat siap. Tuhan memberiku pengertian-pengertian tersebut.

Beberapa bulan kemudian, aku keterima program pertukaran pelajar ke Amerika, aku mendapat pekerjaan tanpa harus lulus terlebih dahulu, Mami memiliki pemahaman yang jauh lebih baik tentang kehidupan dan Tuhan, Aldo tetap bisa mempertahankan IPK-nya di atas 3.30 di saat teman-temannya malah mendapat IPK di bawah 2. Dan semua itu sungguh terjadi. Apa yang aku yakini sungguh terjadi. Tuhan memberikan segala sesuatu yang lebih baik. Di sini. Di hatiku dan di jiwaku. Bukan secara materiil, tetapi hal yang lain. Di luar itu semua.

Jadi, pengalamanku dengan Tuhan, perjumpaanku dengan-Nya, perbincanganku dengan diri-Nya, tidak kudapatkan di ‘rumah Tuhan’ yang biasa mereka artikan sebagai sebuah tempat ibadah atau dengan pemimpin agama apapun atau melalui kitab suci, melainkan di ‘rumah Tuhan’ yang aku artikan sebagai setiap tempat di mana ada dua atau tiga orang berkumpul untuk Tuhan dan dengan siapa saja yang aku temui. Karena Tuhan adalah ‘kehidupan’. Ia ada di mana-mana dan dapat hadir dalam diri siapa saja, kapanpun. Tinggal bagaimana kita mau membuka hati kita, untuk melihat yang tidak terlihat, dan siap untuk disentuh dari hal-hal yang tidak dapat disentuh.

Maka, berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s