Tuhan hadir dalam diri siapa saja

Hari ini, ketika saya bepergian dengan mami, ia bertemu temannya yang baru saja ia kenal. Di akhir pembicaraan, bapak itu berpesan: “Banyak-banyak berdoa. Tuhan pasti buka jalan. Amin.”

Sepulangnya, saya pulang sendiri ke rumah karena Mami harus pergi ke rumah Oma. Kata-kata Bapak tadi masih terngiang-ngiang terus sepanjang jalan.

Saya melewati jalur yang biasa saya lalui setiap saya pulang kuliah. Jalur yang sama setiap harinya membuat saya sudah sangat mengenal tempat itu. Bagaimana tidak? Jalur itu sudah saya lalui hampir selama 5 tahun. Namun beberapa bulan terakhir ini ada pemandangan yang berbeda di tengah jalan. Sesuatu yang membuat saya berhenti. Bukan hanya berhenti berjalan, namun saya seperti juga ‘berhenti’ dari diri saya sejenak. Seperti dunia tidak lagi berputar di atas kepala saya. Berhenti. Benar-benar berhenti.

Ketika saya harus turun dari satu angkot dan menuju angkot yang lain, di sana lah saya menjumpai sesuatu itu. Lebih tepatnya jika saya menyebutnya seseorang. Seorang kakek pengemis dengan rambut acak-acakan yang sudah memutih ditambah dengan tubuh kurus dan keriput yang dibalut dengan pakaian compang camping. Ia duduk di trotoar di bawah jembatan. Hampir setiap hari saya melihatnya. Awal mulanya saya tidak begitu memerhatikan. Bagi saya, ia sama saja dengan pengemis-pengemis lainnya. Lama kelamaan, ada sesuatu yang membuat saya memiliki perasaan khusus kepada kakek itu. Maka dari itu beberapa kali saya memberinya uang seadanya.

Malam ini, seturunnya saya dari angkot, dalam hati saya benar-benar ingin berjumpa kakek pengemis itu. Entah mengapa tiba-tiba saya teringat dia. Dan ternyata di sanalah dia duduk! Di tempat biasa, di trotoar di bawah jembatan. Saya mempercepat langkah saya dan merogoh uang yang tersimpan di kantong celana saya. Tidak banyak memang. Hanya kembalian dari naik angkot. Saya memberinya kepada kakek itu. Tapi kali ini lain. Biasanya saya hanya memberinya uang begitu saja, lalu saya pergi. Kali ini, entah mengapa ada perasaan yang menginginkan saya untuk menatap wajahnya. Saya lalu menatap wajah kakek itu, juga matanya. Sayu, diterpa cahaya lampu jalanan yang temaram. Lalu tiba-tiba ia berkata: “Alhamdulillah, terima kasih ya dek.” Saya tidak kuat menahan air mata yang kini sudah menggumpal di pelupuk mata. Saya ingin segera beranjak dari tempat itu, namun lagi-lagi, entah ada dorongan apa yang membuat tangan saya mengelus lutut kakek tua yang sedang duduk di bawah jembatan.

Saya pergi. Air mata langsung menetes. Namun kaki saya berat sekali melangkah maju. Rasanya saya masih ingin bersama kakek itu. Duduk di sampingnya. Entah untuk apa. Namun saya putuskan untuk pergi melanjutkan perjalanan saya. Saya tidak ingin ia melihat saya menangis. Kemudian, dunia serasa berhenti berputar. Yang saya pikirkan bukan lagi tentang saya. Yang saya ingat, setiap langkah yang saya ambil menuju angkot berikutnya merupakan sebuah rasa syukur berlebihan kepada Tuhan. Sebuah rasa syukur yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dada saya terasa sesak. Saya menunduk dan mempercepat langkah saya agar orang-orang tidak ada yang melihat saya menangis.

Lalu, pikiran saya kembali kepada kakek itu: rumahnya di mana, apakah ia punya, di mana keluarganya, apakah masih ada, mengapa ia bisa sampai begini? Kemudian pikiran saya beralih kepada keluarga saya: Papi dan Opa saya yang sudah tidak ada, Mami, Aldo, Oma.. Ya Tuhan, saya masih sangat beruntung memiliki rumah untuk tempat saya tinggal, keluarga yang tersisa sebagai tempat mengadu dan melepas lelah.. Ya Tuhan.. Cuma itu yang bisa saya pikirkan kemudian.

Bagi saya, hari ini Tuhan hadir dalam diri seorang kakek pengemis itu. Hari ini Ia menegur saya. Mengingatkan saya untuk selalu mengucap syukur untuk apapun yang terjadi dalam diri saya. Yah! Tuhan hadir dalam diri siapa saja. Ia suka menyamar dan kadang kita tidak sadar. Ia hanya bisa kita lihat dengan cara membuka mata hati lebar-lebar. Si Bapak yang baru saya kenal tadi yang membuat saya membuka mata hati saya.

“Banyak-banyak berdoa. Tuhan pasti buka jalan.”
“Alhamdulillah. Terima kasih ya, dek.”
kata2 tersebut sampai sekarang masih terngiang di telinga, pikiran, dan hati saya. Seseorang yang baru saya kenal berpesan seperti itu. Entah mengapa. Lalu seorang kakek tua yang tidak memiliki apa-apa dalam hidupnya saja masih bisa bersyukur. Sekarang, apa lagi yang harus saya keluhkan dalam hidup saya? Apa lagi yang saya minta? Iya. Ini sudah lebih dari cukup, Tuhan.

Terima kasih, ya Tuhan. Terima kasih, Bapak. Terima kasih, kakek.. Besok kalau kita bertemu lagi, saya akan sempatkan mengobrol dengan kakek. Saya janji, saya tidak akan menangis. 🙂

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s