Eat Pray Love

Baru selesai nonton Eat Pray Love sama temen2. Dari tahun lalu saya mau nonton karena setting-nya ada yang di Bali. Ternyata denger dari beberapa teman, ceritanya memang bagus. Sempat pengen baca bukunya dan hampir dikasih sama Host Family saya waktu di Missoula, tapi saya nggak enak nerimanya dan juga sebenarnya takut nggak ada waktu baca. But it’s OK. Akhirnya sekarang kesampean nonton juga.

Beberapa orang bilang bagus, beberapa bilang biasa aja. Tapi kalo menurut saya pribadi, film ini bagus banget. Ada beberapa hal yang bisa saya pelajari dari sana.

Berkisah mengenai seorang wanita bernama Liz Gilbert yang gagal dalam pernikahannya. Untuk mencari jati diri, ia menjelajah ke tiga kota di dunia. Roma, India (kurang tau di kota apa), dan Ubud Bali. Terlepas dari judul film ini yaitu Eat (tokoh utama menemukan makanan-makanan enak di Itali), Pray (meditasi di India), dan Love (menemukan cinta di Indonesia), pelajaran yang saya dapat dengan menonton film ini adalah bahwa sebenarnya untuk menemukan keseimbangan dalam hidup pertama-tama adalah kita harus berdamai dengan diri sendiri, menerima diri kita apa adanya.

Ketika Liz berada di Roma, ia teringat oleh kekasihnya di New York, di mana pada saat ia mengingat-ingat kekasihnya, ada satu kalimat yang sangat berkesan bagi saya yang kira-kira bunyinya begini: “Kita tahu kalau kita tetap bersama kita akan merasa menderita, tp kita memilih tetap bersama agar bahagia”. Intinya, mereka sadar bahwa mereka tidak cocok satu sama lain dan sering berbeda pendapat. Hal terebut membuat mereka menderita, namun mereka tetap memilih bersama karena itu adalah “area nyaman” mereka. Dengan bersama, maka tidak akan ada perubahan yang terjadi dan mereka terbiasa dengan hal itu.

Lalu suatu hari Liz pergi ke sebuah tempat yang pada masa lalu dibangun oleh Kaisar Agustus. Tempat itu sudah sangat berantakan dan hanya tinggal reruntuhan, bahkan dijadikan tempat tinggal oleh tunawisma. Tentunya pada waktu membangun tempat indah itu, Kaisar Agustus tidak pernah membayangkan kalau bangunan itu akan menjadi seperti sekarang, namun hal itu menyadarkan Liz bahwa kadang kala kehancuran adalah sebuah anugrah. Dengan adanya kehancuran, maka akan timbul pembaruan dan pembangunan untuk sesuatu yang lebih baik.

Yah. Setiap orang harus berani keluar dari area nyaman mereka. Meskipun setelah itu mereka akan mengalami kehancuran, pada akhirnya kehancuran itu pasti akan mengalami pembangunan.

Di India, Liz mencari ketenangan dengan bermeditasi dan mencari keseimbangan dalam hidup. Ia mencari “Guru” orang yang seharusnya mengajari Liz hal-hal tersebut. Namun, bukannya bertemu dengan Guru, Liz malah bertemu dengan seseorang yang awalnya sangat mengganggu dan tidak menyenangkan namun lama kelamaan mereka menjadi dekat. Richard dari Texas. Siapa sangka kalau ternyata orang itulah mengajarkanmu hal yang mungkin selama ini kau cari.

Kita bisa belajar dari siapa saja. Dari Richard, Liz belajar bahwa tidak ada sesuatu yg abadi. Bahkan duka. Dari orang-orang di asrama tempat Liz tinggal, Liz mendapati bahwa kau tidak perlu mencari Tuhan sebab Tuhan berdiam dalam dirimu sebagai dirimu.

Setibanya di Bali, -ini hal yang paling menarik karena sangat dekat dengan saya- saya mendapati bahwa di Indonesia, wanita lah yang paling banyak dirugikan dengan adanya perceraian. Di sini, Liz tidak hanya mendapat cinta dari kekasih barunya, tetapi juga membagi cinta dengan membantu Wayan, wanita Bali yang mengalami kerugian dengan perceraian yang ia hadapi. Ia juga membantu Ketut, guru spiritualnya dengan menyalin (memfotokopin,tepatnya) catatan-catatan yang berisi mantra dan ramuan obat dari nenek moyangnya.

Hal-hal dari Ketut yang saya ingat:
1. Seimbang dalam hidup berarti tidak boleh terlalu banyak “Tuhan”, juga tidak boleh terlalu banyak “setan”
Maksudnya jelas sekali.

2. Setiap pagi, lakukan meditasi seperti yang kamu lakukan di India, lalu siang hari bersenang-senanglah menikmati Bali. Malam hari, bermeditasilah. Tetapi kali ini mudah. Duduk diam sambil tersenyum. Not only smile with ur face, but also with ur mind, and smile with ur liver (he means heart).
Jadi Liz tetap bermeditasi untuk berhubungan dengan Tuhan dan dirinya sendiri, namun tetap bisa berbagi kebahagian dengan berhubungan dengan orang lain.

3. Kehilangan keseimbangan untuk cinta adalah bagian dari keseimbangan itu sendiri.
Ketika Liz berkata bahwa ia tidak dapat melanjutkan hubungan dengan kekasihnya sekarang karena ia merasa kehilangan keseimbangan dalam dirinya dengan adanya perasaan cinta itu, Ketut menasihati Liz hal demikian. Jadi, ketika kita bisa menerima diri kita sendiri dan berdamai dengannya, kita akan siap menerima orang lain, dan itu merupakan bagian dari keseimbangan dalam hidup.

Yah, this is a very good movie, recommended to see.. 🙂

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s