Sebuah Terima Kasih dari Teman Lama

Kemarin, saya pulang bersama seorang teman lama sehabis meeting. Dia teman sekolah sejak SD, tapi tidak pernah jadi teman dekat. Ketika SMP, ternyata dia teman dekat sahabat saya. Selulusnya dari SMP, kami pisah sekolah dan bertemu lagi kira-kira waktu semester 6 ketika kuliah. Ternyata kami punya interest yang sama, di bidang lingkungan, dan kami dipertemukan oleh acara Danamon Young Leader Award 2009: Eco Campus Challenge.

Setelah acara itu pun, kami pisah lagi dan jarang kontak. Baru-baru ini saja kami dipertemukan lagi karena secara kebetulan saya melihat wall dia di teman WWF saya. Saya pikir, what a small world. Maka saya mengajak dia untuk ikutan Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI) yang baru saja ingin kami rintis dan ia sangat tertarik.

Hampir setiap sabtu kami bertemu pas meeting. Kemarin adalah sabtu kedua saya pulang bareng dengannya, karena rumahnya sejalan dengan rumah saya. Selama perjalanan, kami banyak berbagi cerita. Tentang ayah saya yang sudah meninggal dan ayahnya yang sudah lama sakit keras. Yang saya salut darinya adalah, meskipun ayahnya sakit keras sejak 6 tahun yang lalu, ia tetap menjadi anak yang membanggakan, pintar di sekolah, mantan ketua OSIS, beasiswa sana sini, dan hal-hal itu saya ketahui bukan dari bibirnya, tapi dari bibir orang lain. Ketika menjabat sebagai pengurus KOPHI juga ia dapat melakukan tugasnya dengan sangat baik meskipun penyakit ayahnya semakin parah. Dari situ saya banyak tau tentang dirinya, bagaimana dia menghadapi masalah di keluarganya, bagaimana dia melihat hidup.

Ketika teman lama saya itu membayar pas turun dari angkot, tukang angkotnya memanggil dia lagi karena ternyata uang yang dia berikan kurang. Dia yang memang sudah menyiapkan uang bayaran sekarang harus membuka lagi tasnya, mengambil dompetnya, dan saya rasa ia mencari uang seribuan untuk menambah bayarannya tadi. Si tukang angkot masih ngedumel dan marah-marah dengan logatnya yang khas. Saya yang di dalam angkot saja, rasanya kesal dan mau ikutan marah kepada si tukang angkot “Nggak bisa sabar apa? Nggak liat apa dia lagi ngambil duit?” Rasanya pingin bilang ke temen saya “Kamu pergi aja, nggak usah diladenin, nanti aku yang bayar!” Tapi melihat wajah teman saya yang tenang, saya tetap sabar.

Setelah teman saya mengambil uangnya dan membayar ke tukang angkot gendut dan pemarah itu, sesuatu membuat saya tertegun.

“Terima kasih,ya..” kata teman saya itu dengan nada ceria.

Tukang angkot itu pun berlalu pergi dengan saya yang berada di dalamnya terbengong-bengong dan langsung bersyukur.

Ya Tuhan. Terima kasih, ya. Malam kemarin saya mendapat satu lagi pelajaran berharga. 🙂

Terima kasih, ya teman lama.

*peluk*

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s