Mereka Pergi untuk Selamanya

Malam itu, mami menginginkan agar aku dan adikku bermalam di Rumah Sakit untuk menunggui papi yang sudah hampir 2 minggu di sana. Keadaannya makin memburuk. Setelah tadi sore seluruh keluarga besar berkumpul dan mendoakan papi, entah mengapa aku merasa tidak ada harapan lagi untuk papibertahan sampai besok.

Mataku sudah bengkak. Air mata pun sudah habis, tidak bisa menangis lagi.

“Liat deh Cel, papi tidurnya pules ya. Biasanya mami kalo lagi nungguin papi, papi tidurnya gelisah terus, nafasnya nggak teratur. Sekarang udah enakan, mungkin karena tadi abis didoain kali ya,” kata mami sambil memperhatikan papi yang memang terbaring santai di ranjang Rumah Sakit itu. Aku ikut memperhatikan. Iya. Ia tidur nyenyak.

Sebelumnya, ia sempat terbangun memperhatikan kami (mami, adikku, dan aku) satu per satu ketika kami berdoa bersama-sama untuknya. Pada saat itu aku merasa, itulah terakhir kali ia bisa melihat kami. Saat itu aku menangis, tidak sanggup menghadapi apa yang akan terjadi setelah ini. Beban paling berat memang untuk adikku yang pada waktu itu harus memberikan kata-kata pelepasan untuk papi karena kami berasumsi, papi berat meninggalkan kami karena 3 hari lagi adikku berulang tahun. Akhirnya kami memaksa adikku untuk mengatakan sesuatu kepada papi.

“Papi, kalau papi mau pergi, Ado nggak apa-apa. Nggak usah nungguin sampe Ado ulang tahun. Kalau papi nggak tahan dan udah capek, papi boleh pergi,” kata adikku sambil menahan tangisnya di hadapan kami. Papi sempat bergeming meski ia tidak membuka matanya.

Mami dan aku menambahkan kata-kata perpisahan untuk Papi.

Aku tidak meminta apa-apa pada Tuhan. Aku hanya ingat pesan oom-ku untuk membisikkan doa ke telinga papi. Aku yakin ia masih sadar dan bisa mendengar, sebab beberapa jam sebelumnya aku sempat memasangkan lagu-lagu kesukaannya di telinganya dan ia masih bereaksi. Apalagi ketika mendengan lagu I Started a Joke, instrumental by Richard Clayderman. Ia mengerutkan keningnya. Aku berkata, “Papi inget Cella main keyboard, terus Papi nyanyi ya?” Ia mengangguk dan air mata mengalir dari matanya. Hatiku sangat sakit pada waktu itu. Aku tau, aku akan kehilangan dia untuk selamanya. Tidak lama lagi. Aku kemudian memasangkan lagu Memory OST CATS. Reaksi papi sama. Ia mengerutkan keningnya. Ia selalu senang mendengarkan lagu itu, sebab itu adalah lagu Teater kelas yang aku sutradarai. Aku merasa ia sangat bangga dengan pencapaianku sebagai sutradara dalam teater itu. Aku ingin pada saat-saat terakhirnya ia masih bisa mengingat hal itu.

Malam itu aku ingin pulang ke rumah. Kamar Rumah Sakit itu tidak nyaman untukku. Lagipula saat itu aku berfikir, aku harus bisa tidur nyenyak, karena besok akan menjadi hari yang berat. Percaya atau tidak, malam itu aku berfikir papi tidak akan bertahan sampai besok sehingga besok aku harus mengurus pemakaman dan segala sesuatunya.

Aku dan adikku pulang ke rumah. Adikku memintaku untuk membangunkannya pukul 3 pagi karena ia ingin berdoa novena untuk kesembuhan papi. Di dalam perjalanan pulang, ia berkata, “Kak, menurut kakak, papi bakal sembuh nggak kak?”

Aku menjawab, “Nggak tau ya Do. Tapi kakak nggak apa-apa kalau emang papi harus pergi. Soalnya kakak nggak tega kalau papi harus sembuh, tapi nggak total. papi tambah kasihan.”

Adikku berkata dengan optimis, “Tapi Ado yakin papi pasti sembuh.”

Aku terdiam sampai ke rumah.

Kami tertidur. Pukul 3 pagi alarmku berbunyi. Aku membangunkan adikku untuk berdoa, tetapi ia sepertinya sangat mengantuk. Akhirnya aku memutuskan untuk berdoa sendiri. Aku tidak ingat doaku apa, yang pasti aku tidak meminta apa-apa lagi. Aku hanya menyerahkan segalanya kepada Tuhan.

Sekitar pukul 5 pagi, handphone-ku berdering. Mammie. Tulisannya.

Jantungku berdetak kencang seperti orang habis lari.

“Cella, papi lagi dipakein alat pacu jantung…,”

“OK. Cella sama Aldo ke sana ya Mi,” kataku.

Aku segera membangunkan Aldo. Ia buru-buru ke kamar mandi untuk bersiap-siap.

Selagi menunggu adikku, pikiranku melayang, menuju kejadian 4 tahun lalu.

———-

Telepon rumah berdering. Kami sedang tidur bertiga di kamarku (Mami, aku, dan adikku). Mami bangun untuk mengangkat telepon. Entah mengapa saat itu aku tau ada apa. Tapi aku tetap memutuskan untuk tertidur. Aku berharap itu cuma khayalanku atau mimpiku saja. Mimpi yang begitu aku bangun akan langsung hilang. Tapi karena aku tahu, hal itu tidak akan terjadi, aku lebih baik tidur. Meneruskan mimpi saja.

Mami mengelus kepalaku dan berbisik, “Cella yang kuat ya,” katanya sambil menahan tangis.

Aku langsung meneteskan air mata. OPA. Sudah nggak ada.

Aku membangunkan adikku sementara mami bersiap-siap di kamar mandi.

Dari kamarku, aku bisa mendengar mami menangis sambil menggosok gigi. Lucu juga kalau diingat-ingat. Ia menangis, “Papi, papi, papiiii,” cuma itu yang bisa ia ucapkan. Opa bukan papi kandung mami, ia papi-nya Papi, papi mertua mami. Tapi hubungan mami sangat dekat dengan opa, begitupun kami cucu-cucunya, sangat dekat dengan Opa. Opa adalah idolaku sejak kecil. Dan ia, sekarang, telah tiada, untuk selamanya. Tepat satu hari sebelum ulang tahunku yang ke-17 tahun.

Seperti pukulan berat saat itu buatku. Harus kehilangan orang yang menjadi panutanku selama hidupku tepat pada ulang tahunku yang ke-17, di mana pada saat itu aku akan mempersembahkan first cake buat Opa.

———–

Aldo sudah siap, handphone-ku berdering lagi. Mammie.

“Mami telepon lagi, Do,” kataku pada adikku.

“Cella, papi udah nggak ada yah,” begitu suara mami di telepon.

“Iya,” jawabku dengan tenang.

Tanpa mengucapkan apa-apa, adikku langsung memelukku, “Yang kuat ya, Kak,” katanya dengan suara yang agak bergetar.

Aku tak bisa mengeluarkan air mata, tapi rasanya ingin menangis. Aku hanya bisa bilang, “Aldo juga ya. Ayo kita ke rumah sakit.”

Dalam perjalanan menuju Rumah Sakit, aku bertanya pada adikku, tapi akhirnya aku menjawab sendiri, “Do, kenapa kita nggak nangis ya? Mungkin kalau kakak pikir, kalau ada orang yang meninggal dan keluarganya nangis, itu karena mereka mikirin diri sendiri. Takut nggak ada yang begini lah, nanti siapa yang begitulah, kayak dulu Opa meninggal. Kita mikir, nggak ada lagi yang mampir ke rumah bawain kacang, beliin pizza, nontonin kita main kartu. Tapi kalo sekarang kita udah rela papi pergi daripada dia menderita terus ya Do ya.”

Aldo bilang, “Iya kak.”

Kami terdiam lagi. Selama perjalanan yang memakan waktu sekitar 15 menit itu, aku bersyukur. Terima kasih, Tuhan telah memberikan kami pengertian tentang hidup dan kehilangan seperti sekarang. Aku lega karena adikku juga tidak terpukul. Aku lega karena kami sudah rela melepaskan orang yang sangat dekat dan paling berpengaruh dalam kehidupan kami sekeluarga. Aku lega Engkau memanggil Papi kami, melepaskannya dari segala penyakit yang ia derita selama di dunia. Engkau telah membebaskannya. Aku tau, Papi bertemu Opa di sana. Aku tidak tau seperti apa di sana, tapi aku yakin mereka sudah bahagia.

Opa dan Papi. Dua orang hebat dalam keluarga kami. Panutan hidupku adan adikku. Mereka pergi untuk selamanya. Tapi kenangan mereka akan tetapi tinggal di dalam hati kami dan terus mempengaruhi hidup kami sampai kapanpun.

Bagiku, mereka sudah lulus ujian di dunia ini. Aku, dan orang-orang yang masih hidup di dunia masih harus terus berkutat dengan ujian-ujian kehidupan, dan suatu saat nanti, kami juga akan menemui ujian akhir yang harus bisa kami lewati. Kematian bukan akhir dari segalanya. Kematian bukan berarti kita gagal dalam ujian akhir. Mereka pergi meninggalkan kita. Tinggal bagaimana orang-orang yang ditinggalkan menghadapi kejadian itu. Bagiku, kematian merupakan kehidupan baru. Awal baru. Mereka sudah naik kelas. Mereka lulus ujian. Ketika kita lulus ujian nanti, kita bisa bertemu mereka lagi. Tapi aku nggak tau di mana. Di kelas yang tentunya lebih indah dan lebih menarik dari kelas kehidupan yang kita jalani sekarang.

Teruslah berjuang, sahabat-sahabatku! Kita berjuang bersama di dunia selagi masih bisa! Karena nggak ada yang tau kapan kita akan menghadapi ujian akhir, maka torehkan nilai-nilai bagus di setiap mata kuliah yang kita hadapi sehingga dalam ujian nanti kita bisa menghadapinya dengan baik. 😀

———–

“Papi, jangan beratin Cella sama Aldo lagi. Nggak usah mikirin kami lagi. Cella sama Aldo udah gede, papi nggak usah khawatir. Papi udah sukses membesarkan kami sampai kami jadi seperti sekarang ini,” kataku di saat-saat terakhir hidupnya. Setelah mendengar kata-kata itu, mami bilang tidur papi tenang, nafasnya tidak berat dan tidak gelisah lagi.

———–

Terima kasih, Papi dan Opa yang telah memberiku banyak pelajaran dan pemahaman tentang kehidupan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s