Aku Menyebutnya Mimpiku dan Duniaku

Semenjak sekolah menengah pertama, aku ingin sekali mengambil jurusan Psikologi di salah satu universitas Katholik di Jakarta. Aku bertaruh seluruh teman dekatku mengetahui mimpiku ini, sebab setiap kali aku bertemu mereka sekarang, mereka selalu mengungkit-ungkit hal itu, “Ciul bukannya dari dulu mau jadi psikolog ya? Kenapa sekarang malah ngambilnya Komunikasi sih?” atau “Ciul dulu kan paling pinter di antara kita, kenapa sekarang cuma ngambil Komunikasi sih? Kuliah apaan sih itu? Kan gampang bgt! Gw aja ambil kimia, si ini kedokteran, ini optik, ini malah psikologi tuh.” atau “Di LSPR kan santai banget ya kuliahnya? Kayak nggak kuliah kan tuh?” atau “Semua orang mah ngambil kulaih yang susah, ini mah si Ciul ngambilnya Komunikasi doang. Mau kerja jadi apa sih?” atau “Sayang banget orang kayak lo cuma ngambil komunikasi.” blah blah blah…

Jujur, masuk LSPR alias London School of Public Relations emang awalnya cuma karena ada nama LONDON nya. Ketika daftar juga iseng-iseng, tapi begitu memasuki kampusnya yang cuma numpang di salah satu gedung di daerah Sudirman, aku merasa seperti berada di rumah. Nyaman. Aku langsung bilang kepada temen-temen SMA- ku yang pada saat itu mendaftar bareng, “Gw udah jatuh cinta ama kampus ini.” Angan-anganku menjadi Psikolog pun terbang bersama angin.

Ketika benar-benar menjadi mahasiswa Komunikasi, dalam hati aku merasa sedih dan kecewa dengan sikap banyak orang, termasuk om dan tante ku yang kebetulan dosen UI dan Trisakti yang masih saja menyayangkan aku masuk LSPR. Bahkan ketika IP-ku 3,90 reaksi mereka hanya, “Ya pantes aja. Kuliahnya kan gampang.” Belum lagi aku masih harus mendapati teman-teman yang bereaksi hampir sama dengan mereka.

Kekecewaanku makin berlanjut ketika semester-semester awal itu aku menghadapi masa-masa sulit dengan teman-teman sekelas yang bisa dibilang kurang bertanggung jawab dengan tugas-tugas kelompok kami. Dengan sangat terpaksa, aku harus mengerjakan tugas-tugas kelompok itu sendirian. Capek otak, capek badan, capek hati, itu yang aku rasakan pada saat itu. Dan ketika curhat dengan pacar pada waktu itu, komentarnya hanya, “Ya pantes aja. Anak-anak yang kuliah di sana kan anak-anak yang males2, nggak tau mau ngabisin duit Bapaknya kayak gimana, jadi kuliah aja biar dapet gelar S1. Kamu yang udah pilih kuliah di sana, kamu harus bisa hadapin konsekuensinya.”

Cuma papi yang bisa kasih nasihat bijak yang awalnya aku anggep angin lalu, “Cella nggak usah BT. Kalo Cella semua yang kerjain, jadi Cella yang dapet ilmunya. Nggak apa-apa mereka dapet nilai sama kayak Cella karena tugas kelompok, tapi nanti pas udah kerja kan mereka nggak bisa apa-apa. Udah, pikir aja begitu. Cella yang pinter sendiri.”

Aku agak menyesal nggak masuk Psikologi dan memenuhi harapan teman-teman dan saudara-saudara sekalian yang menganggap aku menyia-nyiakan kepintaran hanya dengan mengambil jurusan Komunikasi.

———-

Semester 2, aku mendapat mata kuliah Psychology of Communication yang pada akhir semester aku mendapatkan A di transkrip nilai dengan skor selalu paling tinggi di kelas. Tetapi bukannya semakin ingin kuliah di jurusan psikologi, aku malah kini bersyukur aku masuk LSPR. Ternyata aku bisa mendapatkan mata kuliah psikologi juga di jurusan komunikasi ini. Dan kini aku sadar, mempelajari ilmu komunikasi berarti juga harus bisa memahami tingkah laku orang, dan psikologi adalah ilmu tentang tingkah laku. Yah, meskipun tidak mempelajari secara spesifik mengenai psikologi, at least aku bisa mengerti mengenai karakter orang dari cara mereka berkomunikasi, mengingat motivasi aku mau mengambil jurusan psikologi hanya sebatas ingin memahami orang, bukan menjadi psikolog sungguhan.

———-

Memasuki masa akhir semester 2, aku bingung ingin mengambil jurusan apa. Maka, berkonsultasilah aku dengan Mr. Arnold Paalam. Belum aku berbicara panjang lebar, ia sudah menembak, “Saya melihat kamu dari hati ke hati ya.. Kamu suka menulis ya?”

Aku menjawab, “Iya.” Dalam hati aku teringat mimpiku sejak kelas 5 SD. Bersamaan dengan mimpiku untuk bisa ke Inggris, aku juga bermimpi menjadi seorang penulis karena membaca buku-buku karangan Enyd Blyton.

“Saya liat kamu lebih baik masuk ke Mass Communication.”

Maaakk,, itu sama sekali bukan pilihan. Pilihanku waktu itu PR atau Advertising. “Tapi saya nggak suka teater, Pak. Saya nggak suka tampil2 begitu.”

“Kamu kan bisa aja kerja di belakang layar. Kamu bisa jadi sutradaranya,” katanya.

Baiklah. Keputusanku saat itu: Mass Communication.

———-

Akhirnya, tiba saatnya semester 4. Semester yang kutakutkan karena harus menghadapi teater kelas. Oh no!!!

Pemilihan Producer dan Director pun dimulai. Voting diadakan. Dannnn Taraaaaa! Lidwina Marcella as a Director.

OK. Saat itu aku langsung teringat pembicaraanku dengan Mr. Arnold. Aku beneran jadi Sutradara. Ahe! What a coincidence!

———-

CATS. Teater kelas yang paling diremehin oleh dosen dan kelas-kelas lain. Menurut mereka teater ini sangat susah. “Bahkan anak-anak LSPR Teatro pun nggak berani mainin ini. Kelas lo nekat banget, padahal cuma teater kelas aja,” kata salah satu anak Teatro (Club Teater di LSPR).

Aku tetap berpendirian untuk memainkan teater ini walaupun beberapa teman sekelas mulai kehilangan kepercayaan diri, bahkan mentorku pun menyarankan untuk mengganti judul.

“Jangan gitu dong, kak. Kakak harus support kita. Kakak kan mentor kita. Jangan bikin anak-anak takut. Kita harus tunjukkin kalo kita bisa. Kita harus bisa jadi yang terbaik. tunjukkin ke mereka kalo kita bisa!” kataku dengan optimisme tinggi dan mimpi yang menggebu-gebu. Kata-kata ini juga yang selalu aku ucapkan kepada para pemain dan crew agar mereka tetap bersemangat latihan. Aku menambahkan, “Inget teori the secret. Apa yang kita pikirin akan jadi kenyataan. Tiket kita baru jual langsung sold out dan kita jadi pemenang dalam teater festival. Tunjukkin, mereka salah udah ngeremehin kita.”

3 hari setelah pembukaan tiket booth, tiket CATS benar-benar sold out!

Pada hari H, penonton sampai membludak, rela berdiri di belakang auditorium untuk menonton teater ini. Bahkan Mr Rafael yang pertama kali meragukan teater ini dan sama sekali nggak mau nonton pas GR bilang, “Seharusnya teater ini jadi Teatro LSPR.”

Pada saat Awarding Night, meski terjadi sedikit kesalahpahaman antar-teater-kelas, ternyata CATS masuk 8 nominasi dan memenangkan Special Jury Award. Penghargaan special yang sengaja diberikan oleh juri mengingat mereka sudah tidak tahu CATS harus menang apa. OUTSTANDING, katanya.

———-

Semenjak saat itu, aku makin aktif di kampus. Aku sering mengerjakan tugas-tugas kampus yang berhubungan dengan edit mengedit. Aku belajar sendiri dari kakak kelas karena angkatanku tidak dapat mata kuliah Post Production and Editing. Rasanya ingin masuk LSPR TV karena sudah mulai jatuh cinta dengan dunia editing. Karena satu dan lain hal, aku tidak diterima menjadi anggota LSPR TV. Kecewa sih awalnya, namun akhirnya mimpiku menjadi editor teredam dengan adanya club baru yang aku pimpin, LSPR Climate Change Champions Club (LSPR 4C). Kecemplung. Benar. Aku kecemplung memasuki dunia ‘hijau’ yang sama sekali belum pernah aku ketahui sebelumnya.

Di club baru ini, aku berkenalan dengan WWF dan beberapa komunitas lain yang sama-sama bergerak di dunia hijau. Aku yang tadinya sama sekali nggak peduli lingkungan sekarang malah bisa mulai concern dengan issue ini. Aku mulai dipercaya menjadi pemimpin atau koordinator untuk beberapa kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan. Aku sebagai anak Mass Communication yang seharusnya CV-nya lebih banyak berisi mengenai kegiatan yang berhubungan dengan media massa, ini malah penuh dengan kegiatan lingkungan.

———-

Ternyata mimpiku bekerja di dunia pertelevisian masih belum pupus. Karena tidak dapat mengikuti kegiatan TV di kampus, aku yang punya kenalan di Trans TV karena kegiatan di kelas berharap bisa magang lalu bekerja di sana. Iya! Sejak pertama kali masuk Mass Communication, mimpiku adalah bekerja di Trans TV gara-gara nontonin Ceriwis. Ternyata karena satu dan lain hal lagi, aku malah  magang di Global TV dan mengambil judul Skripsi tentang MNC (RCTI, TPI, dan Global TV). Maksudnya adalah biar gampang karena sudah ada channel.

Pengalaman mengerjakan skripsi itulah yang akhirnya membuat segala mimpiku untuk bekerja di bidang pertelevisian pupus 100%.

Aku memutuskan untuk meninggalkan dunia televisi sama sekali dan fokus ke dunia ‘hijau’.

Ya. Aku memang sudah tidak bermimpi bekerja di dunia pertelevisian, tetapi mimpiku untuk menjadi editor masih belum hilang begitu saja. Ternyata dunia hijau yang aku geluti lebih menarik. Karena aku bekerja di LSPR, maka aku tetap bisa membantu LSPR TV untuk ide-ide membuat iklan televisi mengenai lingkungan.

Melihat LSPR begitu concern dengan issue climate change, aku sangat berharap LSPR 4C bisa menjadi sebuah divisi yang berdiri sendiri. Bukan club lagi.

———-

Dari dunia hijau inilah mimpiku untuk pergi ke luar negri terkabul. Ya! Pengalaman pertama pergi ke luar negri adalah ke Amerika, dibayarin pula oleh US Embassy. Aku sama sekali tidak mengeluarkan biaya apapun. Selama 5 minggu aku belajar di University of Montana, Louisiana, dan Washington DC dalam rangka mengikuti program Study of The United States Institute for Student Leaders on Global Environmental Issues 2010. Awesome and amazing!!! Dua kata itu yang bisa aku tuliskan untuk menggambarkan pengalaman pertamaku pergi ke negri orang. Amerika. 40 jam perjalanan. 5 minggu.

———-

Sepulang dari Amerika, aku bermimpi untuk membuat suatu wadah bagi seluruh pemuda di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke yang memiliki kepedulian terhadap issue lingkungan, tetapi tidak tahu bagaimana harus menumpahkannya. Dengan dukungan penuh dari kampus, maka aku yang  bekerja di kampus sebagai Project Officer for Global Warming dan beberapa teman lain yang dipertemukan oleh WWF berhasil membuat sebuah Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI) yang dapat mengabulkan mimpiku tadi.

Saat ini aku sebagai staff di kampus berjalan berendengan dengan LSPR 4C. Kami masih mengusahakan agar 4C dapat berdiri sendiri.

Kalau mau mengikuti tuntutan otak, aku tidak bisa bekerja berlama-lama di kampus dengan penghasilan yang hanya cukup buat jajanku saja. Tapi ini mimpiku sejak dulu: kerja di kampus dengan lingkungan yang nyaman dan sudah kukenal dan mimpi itu dusah terkabul sekarang. Tapi mimpiku yang lain mengatakan aku harus bekerja di sebuah NGO seperti WWF. Dan baru-baru ini WWF menawariku sebagai volunteer untuk menulis artikel di website nya. Dengan senang hati aku terima!

Mau tau?

Ini juga kan salah satu mimpiku. Menjadi penulis. 😀

***

Yah, aku hidup di dunia mimpiku.

Aku tak akan lagi membedakan yang mana mimpiku dan yang mana duniaku. Aku mengkombinasikan mereka menjadi satu. Aku akan menciptakan mimpiku untuk menjadi duniaku dan aku hidup di dalamnya. 🙂

Advertisements

11 responses to “Aku Menyebutnya Mimpiku dan Duniaku

  1. wahh… ak amazed banget baca nya.. hebat…. 🙂 kdg ak jg bs hilang semangat gt kul, malu dhe sm kamu yang smangat nya tinggi banget… awal smes 1,2 ak sm ky km.. smangat banget kul. skrg ak smes 4.. rada males.. hehe

  2. kakak…. aku seneng banget baca blog kakak yang ini…
    aku kurang lebih dalam keadaan yang sama sekarang ini… aku baru semester 1 di lsp… aku juga suka nulis… seenggaknya aku dapet banget inspirasi dari tulisan kakak…
    impian aku juga sama kayak kakak bisa jadi penulis dan terpikirkan masuk masscom… :))
    im motivated !!

    • Hai Maria.. Makasih ya udah dibaca.. 🙂
      Kamu anak LSPR juga yah?? Waaahh.. Selamat bergabung.. :p
      Ayo, keep writing! And follow ur dreams! Make ur dreams come true! Kadang kita mikir, mimpi kita terlalu tinggi atau nggak mungkin jd kenyataan, tapi kalo kita percaya dan tetap berusaha mewujudkannya, pasti akan jadi kenyataan. Tapi yah itu, mungkin akan sedikit berbeda.. Keep dreaming and live it, but don’t live in ur dream.. 🙂 it’s different. Hehehe..
      See u around!

  3. kakak kenalin aku andis mahasiswa masscomm semester 3 disalah 1 Perguruan tinggi swasta di karet ahh kakak aku aja di tahun pertama ga dpt ip 3,90 (boro2) haha keep spirit I believe someday you will go to the real london kan :p

  4. hi kak Cea, oh jadi ini toh pendiri LSPR 4C omg ga nyangka bgt dgn background kakak ketika masuk lspr. Saya bisa msk ke blog ini krn stelah mencari keyword LSPR Day untuk tugas PR, kebetulan saya mahasiswi lspr semester 1. Dan sebelumnya saya tau Kak Cea juga karena mengerjakan tugas PR tntg LSPR club, dan kelompok kami memilih 4C, dari situ saya harus tau backgroud dari club 4C itu sendiri, dan jadi tau kak Cea juga, tapi ga pernah benar-benar tau siapa kakak sampai saya menemukan halaman blog ini. Saya bener-bener ke-amazed dengan tulisan jurnal kakak yg satu ini,
    membuat saya juga ingin menjadi seperti kakak, kalau memang bukan hal yang salah saya telah memilih LSPR, dan dari LSPR jugalah yg akan membuka jalan untuk aku bisa menggapai mimpiku, sama seprti kakak aku ingin pergi ke luar negeri, fakta bahwa kaka bisa ke luar negeri karena US EMbassy yg bayarin total. Huahhhh, iri klimaks kak. Semoga hal ini juga bisa aku alemin, untuk aku, aku ingin ke London, Inggris. Kakak yg belum kesampean kesana, semoga beneran kesana ya kak! dan klo boleh tau kakak sekarang sibuk apa setelah lulus dan udah ngga kerja di LSPR sbgi staff? Apa menetap menjadi volunteer di WWF?

    Regards,
    Lucy, LSPR Batch XVIII.

    • Hai Lucy! Maaf udah lama bgt aku nggak buka blog. Terima kasih yaa komennya. Makasih jg udah mampir baca2 blog abal2 aku yg udah jarang diurus ini hehehe..

      Saat ini aku punya creative consultant sendiri bareng suamiku dan masih aktif jg jd Pembina di Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI). Skrg lagi ngerjain project bareng US Embassy untuk social media workshop keliling Indonesia sampai akhir tahun 2016 nanti 🙂

      Wah, senang ada anak LSPR mampir di blog ini dan ternyata batch 18?!!! Jd berasa tua deh.. Hahaha.. Good luck ya dgn studi dan cita2mu. Yg penting aktif ikut organisasi dan fokus di organisasi itu. Pasti nanti ada yg ‘liat’ shg bs tercapai cita2 dpt beasiswa ke luar negrinya. Amiiinn..

      Skrg kamu sibuk kegiatan apa di kampus? Ikut club kah? Sudah penjurusan blm ya? Ambil jurusan apa?

      Salam utk dosen2 di sana yaah!

  5. Hi, aku Aka
    aku baru mau masuk LSPR september ini. Aku anak baru, tapi bukan literally anak baru, karena aku udah pernah kuliah D3 dan sekarang ngelanjutin S1 di LSPR. Your post inspired me so much! Emang ga gampang matahin stereotype yg udah lama ada, but it doesnt mean that it’s impossible. Salut sama kamu! Keep doing what you love and thanks for the inspiration 😄😄

  6. Wah kak Cella hebat bgt yaa 👍 Abis baca blognya jd terinspirasi .. Aku juga mau masuk lspr nih kak , bnyak2 posting ttg pengalaman di kampus donk 😉 Aku udh lama mau msk lspr bagian public relation / broadcasting .. Tapi di sana ada beasiswa full gk kak ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s