Antara Kebahagianku dan Kebahagiannya

Maaf, sedikit drama.. 😀

Nada SMS di HP bunyi untuk ke sekian kalinya. Entah bosan, entah malas untuk membacanya. Aku sudah tau isinya. Pasti Wisnu marah-marah lagi. Maaf. Mungkin bukan marah-marah, tapi ini perwujudan rasa depresi akan cinta.

“Kenapa harus begini? Kenapa kamu giniin aku? Aku salah apa sampe kamu sebegininya sama aku? Kamu kenapa dingin begini? Kenapa kamu ga bs sayang sama aku? Kenapa tiba2? Kenapa harus berakhir begini? Kenapa kamu ga ngasih aku kesempatan?”

Kira2 begitu salah satu isinya. Isinya pertanyaan semua. Kenapa? Kenapa? Kenapa? Aku harus jawab apa? Rasanya sudah setiap kali aku jawab kalau kita nggak cocok. Biar diterusin kayak apa juga pasti ujung2nya begini lagi. Cinta itu nggak bisa dipaksa kan?

“Kamu harus rasain apa yg aku alamin. Kamu harus tau rasa sakitnya kayak apa!”

Ini lagi! Aku tau rasanya. Tau bgt! Aku pernah ngalamin apa yg kamu alamin!

“Apa kamu mau liat aku mati? Aku ga bercanda. Aku akan mati di depan kamu skrg! Kita harus ketemu!”

Semakin drama. Haaaahh.. Aku bisa kok waktu itu mengatasi perasaanku tanpa harus bunuh diri! Oh please, dgn begini kamu ga bakal bikin aku sayang. Jgnkan kasihan, yang ada aku jadi benci sama kamu. Sebagai cowok kenapa kamu lemah banget?? 😦

Aku menangis membaca SMS2nya. Satrio meneleponku. Aku menceritakan semuanya kepadanya. Tapi semakin aku cerita, semakin aku ingin menangis meraung-raung. Aku marah! Bukan pada Wisnu! Tapi pada Satrio!! Pada diriku sendiri! Aku sangat marah!

———-

“Aku mau kita ketemu! Aku ke bandung minggu depan! Aku harus ngomong sama kamu! Aku ga mau kita begini!” kataku di telepon 2 tahun yang lalu.

Satrio tetap dingin. Teguh pada pendiriannya. Hanya bicara sepatah dua patah kata, ia lalu menutup teleponnya.

Aku nggak tau apa yg dia pikirin. Kenapa dia tega bgt begini sama aku? Aku salah apa? Kenapa dia bisa berubah total? Kenapa dia nggak mau kasih aku kesempatan lg untuk berubah? pikirku. Iya! Pikirku tiap malam. Sebelum tidur.

———-

Di Taman Menteng.
Wisnu mengambil tas-ku agar aku tidak bisa pergi kemana2. Ia bicara baik-baik, ia ingin aku seperti dulu lagi. Ia mau hubungan kami baik seperti dulu lagi. Ia mau penjelasan dariku, kenapa aku bisa tiba2 seperti ini.

Aku harus jelasin apa? Aku capek. Aku nggak bisa sama dia. Aku nggak mau. Cuma itu yang bisa keluar dari mulutku. Tapi dia nggak puas. Dia mau tau kenapa! Apa salahnya sampe aku tiba2 begini?

Aku bilang, “ini nggak tiba2. Kita sering begini, tapi kamu terus maksa pertahanin. Aku nggak bisa. Lama2 kebendung dan jadilah kayak sekarang.” Aku sertai tambahan2 mengapa aku nggak bisa sama dia. Kenapa aku mau kita pisah.

Pertanyaan retoris pun dilontarkan kembali, “Tapi kenapa begini? Salah aku apa? Kenapa tiba2? Aku nggak mau ini berakhir begitu aja!” Ia pun melempar kacamatanya, menampar-nampar pipinya sambil teriak-teriak. “Aku harus gimana??”

Tanpa memedulikan perasaanku yang panik karena takut orang-orang di sekitar yang mungkin sudah menoleh ke arah kami, aku memasang tampang untuk tetap cool. Dengan kedua telapak tangan dimasukkan ke dalam jaket, rambut tertiup-tiup angin malam, persis sinetron.

Aku melirik.
Matanya berkaca-kaca. Dia kelihatan sangat kusut.
Aku menahan air mata. Menoleh ke atas. Sate Khas Senayan, Menteng Center, Adorama. Aku membaca plang-plang dan neon box di bangunan-bangunan di depanku untuk mengalihkan perhatian dari perasaanku sendiri. Aku harus kuat.

———-

“Semua udah terlambat! Anggaplah aku nggak sayang lagi sama kmu!” kataku.

“Aku pengen kita coba lagi skrg. Bilang di hadapan aku kalo kamu udah ga sayang lagi sama aku. Liat aku! Aku ga mau kita begini. Aku minta maaf..” rengekku.

“Kamu harus ngerti. Saat ini kita jalan sendiri2 aja dulu. Aku pengen sendiri. Aku nggak tau perasaan aku sekarang,” kata Satrio. “Maaf, aku ngerokok dulu,” lanjutnya. Tanpa perasaan. Ia kembali menghadap laptopnya, menyalakan rokoknya tanpa memerhatikanku.

Bulir-bulir air mata pun tak dapat terbendung. Mutiara-mutiara itu jatuh membasahi pipiku. Panas.

Aku nggak bisa hidup tanpa dia. Gimana caranya aku bilang ke keluarga aku kalau aku putus? Gimana caranya aku ngejalanin hidup aku tanpa dia? Aku nggak bisa. Aku nggak mau! Aku menyesal dgn segala apa yang udah aku lakukan yang menyakiti dia. Tidak mengerti dia. Aku minta maaf. Tapi semua terlambat baginya. Dia tidak mau mengerti.

———–

“Kenapa kamu nggak bisa menyayangi aku dgn tulus? Kenapa sulit banget buat kamu untuk nerima aku?” tanya Wisnu dengan lembut. Aku rasa kali ini kekuatannya habis. Ia lemah. Pandangannya seperti anak kucing minta dikasihani. Aku bisa saja luluh. Tapi tidak! Aku harus menyelesaikan semua ini.

Aku dan dia duduk berhadapan di trotoar. Ia menunduk.

Aku memerhatikannya. Mencari kata-kata yang paling tepat. “Apa kamu sayang sama aku dgn tulus?” tanyaku akhirnya.

Ia mengangguk. Menjawab pelan. “Iya.”

“Kalau iya, kamu pasti mau liat aku bahagia. Kalau memang kebahagiaan aku bukan sama kmu, kmu harus bisa lepasin aku. Kamu harus relain aku mencari kebahagiaan aku sendiri dulu,” kataku dengan hati-hati.

“Tapi apa itu berarti aku harus biarin aku tersiksa begini? Aku nggak bisa tidur tiap malam. Aku tidur subuh, bahkan ga tidur sama sekali. Aku makan 1x aja cukup. Aku nggak siap kehilangan kamu. Mikir kamu bakal menjauh dari aku aja aku ga siap, apalagi harus ngejalaninnya?” katanya.

Aku diam.

———–

Tiap malam aku doa novena tiga Salam Maria. Tepat tengah malam. Kata orang, doa novena dapat mengabulkan permintaan orang, apalagi dilakukan 9 hari berturut-turut pada jam yang sama. Aku minta kepada Bunda Maria agar bisa mengembalikan Satrio kepadaku. Aku nggak siap pisah dengannya.

Ini sudah hari ke-9, tapi belum ada jawaban. Baiklah. Akan kulanjutkan. 9 hari lagi. Aku berharap ada jawaban untuk doaku ini.

Sejak saat putus, tiap malam menjadi mimpi burukku. Aku tidak bisa tidur. Tidak bisa berhenti memikirkannya. Otakku dan hatiku tidak bisa berhenti bekerja. Aku sengsara. Kalaupun aku tertidur, aku berharap esok hari aku terbangun dan masih bisa memanggil Satrio dgn panggilan favorit ku spt biasanya. Masih bisa bersama dia. Aku harap ini cuma mimpi. Mimpi burukku.

Tapi tidak. Tiap pagi aku terbangun dgn rasa sakit di dada. Sakit beneran. Perih. Karena ini bukan mimpi. Oh Tuhan, satu hari lagi harus kuhadapi dgn perasaan ini. Perasaan kehilangan arah, kehilangan tujuan hidup. Aku tak bisa bernafas dengan normal. Tiap kali aku menarik nafas, seperti ada 6 karung semen ikut tertarik bersama tiap tarikan nafasku. Berat. Dan ini sungguhan, bukan berlebihan. Tapi ini yang aku rasakan. Aku tidak bisa makan karena perutku tidak mampu menggiling makanan.

Yang terparah, aku harus berpura-pura bersikap biasa di rumah. Aku nggak mau orang rumah tau kalau aku putus sama Satrio. Aku tidak punya sisa hati untuk menampung perasaan sakit karena ditanya-tanya atau dinasihati. Bahkan tidak punya sisa hati untuk menampung perasaan haru dan sedih ketika dihibur. Mereka tau apa? Pikirku.

Ini sudah hari ke 30, dan aku sudah 30 hari doa novena tiap jam 12 malam. Ini rekor-ku seumur hidup. Aku sanggup doa novena tanpa terputus selama 1 bulan penuh. Bahkan bangun pun sudah tanpa alarm. Sepertinya seluruh jagat raya bekerjasama untuk membangunkanku tiap tengah malam.

———-

“Kalau kamu masih mikirin diri kamu sendiri, gimana hidup tanpa aku, gimana kalo aku nggak ada, itu namanya kamu belum tulus sayang sama aku. Kamu egois. Ketika papi meninggal, bisa aja aku kayak kamu sekarang. Aku depresi. Aku nyalahin Tuhan kenapa manggil papi. Bisa aja aku mikirin diriku sendiri, gimana hidupku tanpa papi, siapa yang ngurusin bayar ini itu, siapa yg bangunin aku lg tiap pagi, siapa yg telponin aku kalo aku pulang telat, ga ada yang begini, ga ada yang begitu. Tapi aku ga mikirin itu. Aku mikir, papi udah bahagia di sana dan aku ga boleh mikirin diriku sendiri. Aku ga boleh egois. Aku rela papi pergi asal dia bahagia,” kataku pada Wisnu.

“Berarti aku akan biarin diri aku tersiksa untuk buat kamu bahagia?” tanyanya.

“Iya. Meskipun itu bikin kamu tersiksa.”

———-

“Lo harus bisa menyayangi dia secara tulus, Ce,” nasihat Andreas waktu aku curhat padanya tentang Satrio. “Maksudnya, di saat lo bisa tersenyum liat dia bahagia, meskipun bukan sama lo, itu baru yang namanya sayang secara tulus. Ketika lo bisa ngeliat barang yg dia suka dan lo mau beliin dia tapi nggak mengharapkan balasan, itu yg namanya sayang secara tulus. Gw yakin lo bisa.”

———

Wisnu mengembalikan tas-ku. Ia berdiri. Mencarikan aku taksi untuk pulang. Saat itu sudah malam, tapi aku bersikeras ingin pulang sendiri sampai akhirnya dia mengalah.

Saat itu aku yakin, meski berat, Wisnu berusaha menyayangiku dengan tulus. Ia membiarkan aku mencari kebahagiaanku sendiri meskipun telah mengorbankan kebahagiaannya.

———-

Setelah beberapa lama dari kejadian putus, Satrio mau bicara baik2 denganku. Kami mengobrol layaknya teman biasa. Saling berbagi cerita ttg hidupku dan hidupnya. Sampai akhirnya….. Aku mendengar dia tertawa kecil. Atau mungkin hanya tersenyum.

Saat itu, aku cuma bisa meneteskan air mata. Dalam hati aku bersyukur, “Ya Tuhan, terima kasih. Ia tersenyum.”

Itu kebahagiaanku. Ia tersenyum. Meski bukan senyum untukku.

———-

Wisnu, terima kasih karena telah begitu baik. Aku memang egois. Aku menginginkan kebahagiaanku sendiri. Tapi akan lebih sangat egois jika aku memaksakan hidupku bersamamu, berharap kamu bahagia, tetapi pada akhirnya tidak karena kita saling memaksakan.

Aku yakin, kamu akan menemukan kebahagiaanmu, seperti aku yang telah menemukan kebahagiaanku setelah berpisah dari Satrio. Dulu, kebahagiaan Satrio adalah kebahagianku. Dan kini, kebahagiaanmu juga akan menjadi kebahagiaanku.

Aku berharap kita menjadi orang yang paling berbahagia di dunia! 😀

Terima kasih,
Untuk kalian berdua yang telah membuatku banyak belajar tentang hidup. Itu sungguh membuat hidupku sangat berarti.

*nama sudah disamarkan* 🙂

**********

Fade to black.
Credit title with back sound Someday from John Legend.

As days go by
and fade to nights
I still question
why you left
I wonder how
it didn’t work out
but now you’re gone
and memories all I have for now
but no it’s not over
we’ll get older we’ll get over
we’ll live to see the day that I hope for
come back to me
I still believe that
we’ll get it right again
we’ll come back to life again
we won’t say another goodbye again
you’ll live forever with me
someday, someday
we’ll be together
someday, someday
we’ll be together
I heard someday
might be today
mysteries of destinies they
are somehow
and are someway
for all we know
they come tomorrow
for today
my eyes are open
my arms are raised for your embrace
my hands are here to mend what is broken
to feel again to walk on the face
I believe there is more to life
oh I love you much more than life
and still
I believe I can change your mind
revive what is dying inside
and someday, someday
we’ll be together
someday, someday
we’ll be together
someday, someday
we’ll be together
we’ll be together
we’ll be together
someday

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

2 responses to “Antara Kebahagianku dan Kebahagiannya

  1. gw ngeliat diri gw di diri wisnu (walopun gw ga se ekstrim itu sih).

    Gw pun ngeliat diri gw di diri lo wkt putus sm satrio (walopun keadaan lo jauh lbh sulit wkt itu dbanding gw skrg).

    Gw yakin gw bs ngelewatin masa2 ini. Gw bahkan g sabar dan pengen nge-skip fase ini.

    Lo aj bisa,,jd gw yakin gw pasti bisa,,begitu juga wisnu.

    Walopun rasany kayak idup tp ga ad nyawany..

    • Iyaaa!!
      Pas bgt kan kisahnya buat lo? Hehe.. Yakin, lo pasti bisa ngelewatin semuanya.. Tapi kalo buat lo dalam masa2 spt ini, soundtrack nya harus Tomorrow OST Annie.. 🙂

      The sun’ll come out
      Tomorrow
      Bet your bottom dollar
      That tomorrow
      There’ll be sun!

      Just thinkin’ about
      Tomorrow
      Clears away the cobwebs,
      And the sorrow
      ‘Til there’s none!

      When I’m stuck a day
      That’s gray,
      And lonely,
      I just stick out my chin
      And Grin,
      And Say,
      Oh!

      The sun’ll come out
      Tomorrow
      So ya gotta hang on
      ‘Til tomorrow
      Come what may
      Tomorrow! Tomorrow!
      I love ya Tomorrow!
      You’re always
      A day
      A way!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s