What I Miss about the US?

Waktu kecil, aku sering denger kalimat ini: “Orang Indonesia terkenal sebagai orang yang ramah2”. Sampai sebesar ini aku percaya, walau kadang meragukannya juga gara2 sering menemui orang Indonesia yang judes2. :p

Sepulang dari Amerika, tepatnya dari Montana, aku ditanya oleh salah seorang kenalan di sana melalui comment di facebook, “What do u miss about the US?”

Entah kenapa, nggak sempet mikirin makanannya, nggak sempet mikirin tempat2 apa aja yang udah aku kunjungi, nggak sempet teringat itu semua untuk dikangenin. Yang muncul pertama kali di otak aku, dan langsung nge-link ke hati aku adalah orang2nya. Yah, I miss the people in the US. Maka inilah jawaban untuknya:

“I miss people say hi to each other. I miss when they hug each other, even they help people even if they don’t know each other. Those were what I miss so much. Coz here in Indonesia, we never or rarely hug each other and it’s weird if we say ‘hi’ to people we don’t know. :(“

Aku langsung teringat dengan host parent-ku, Suzanne Sterrett dan Jim Sylvester ketika kami di Butte, Montana. Pengalaman itu sangat berkesan buatku. Saat itu kami habis menghadiri festival budaya di Butte. Karena cuaca sangat tidak baik, maka mereka mengajakku dan  Tay (housemate dari Laos) untuk pulang. Untuk mencapai tempat parkir mobil, kami harus menaiki bus karena saking besarnya area festival itu.

Di tempat menunggu bus, kami melihat sepasang suami istri dengan anak mereka yang masih kecil di gendong. Si ayah sibuk melipat tas gendong, sementara si Ibu sibuk membantu si ayah. Intinya mereka repot banget. Jim dan Suzanne segera membantu, tanpa basa-basi. Tak lama, mereka langsung bercakap-cakap layaknya orang yang saling mengenal sudah lama. Mereka berbincang-bincang mengenai cuaca dan festival. Common talk that everybody can do!

Ketika memasuki bus, tak hanya mereka, tapi satu bus – note: SATU BUS bercakap-cakap kayak satu keluarga lagi reuni. Aku tersenyum. Senang dengan suasana ini.

Pengalaman lain dengan mereka:

Ketika mereka mengajak kami ke Snow Bowl, tempat main ski yang pada waktu itu sedang tidak bersalju karena summer, sepanjang jalan mereka bisa saling menyapa semua orang. Aku bertanya: “Apa kalian kenal orang2 itu?” Mereka jawab: “Tidak. Kami hanya ingin bersikap sopan kepada setiap orang.” Lalu aku langsung berkata: “Semua orang bilang orang Indonesia adalah orang2 yang ramah, tapi kali ini aku mendapati kalau itu tidak sepenuhnya benar. Orang Montana lebih ramah2.”

Lagi!

Yang membuatku rindu dengan US, terutama Montana adalah ketika di bus terdapat tulisan: “khusus untuk manula dan orang cacat”, orang2 yang tidak berhak tidak akan menempati tempat tersebut. Aku berkaca pada diri sendiri. Aku berkaca pada negaraku sendiri. Ternyata mental bangsa kita lebih rendah. Lihat saja suasana kereta api ketika mudik lebaran.. Kita tidak malu menempati gerbong yang disediakan untuk manula dan wanita hamil dan menyusui. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari di jalan, di bus tepatnya, kita tidak segan untuk membiarkan orang tua dan orang cacat berdiri sementara kita sendiri duduk dengan nyaman. Kita hanya bisa membuang muka. Pura2 tidak melihat. Pura2 tidak tahu. Sebenarnya kita malu. Tapi bertahan untuk melakukan hal memalukan tersebut adalah hal yang paling memalukan!

Ketika di US, aku bangga menjadi orang Indonesia. Aku bangga dengan negara kepulauan kita. Aku bangga dengan bahasa dan budaya kita yang beraneka ragam, kaya, dan indah. Aku bangga dengan kekayaan alam kita yang terkenal sampai ke sana. Mereka kenal kopi sumatra, kenal Pulau Komodo, kenal Candi Borobudur. Dan mereka kenal Bali. Yah! Ingat Bali, mereka lalu ingat tragedi pengeboman di sana beberapa waktu lalu yang konon ada campur tangan orang Indonesia juga. Mereka juga kenal Jakarta, yang mereka bilang is one of the worst city in the world because of the rude people and traffic jam so bad! Lalu saat itu juga, saya malu menjadi orang Indonesia.

Ketika aku kembali ke Indonesia, aku sadar. Ternyata aku tidak pernah membanggakan orang Indonesia. Lalu aku merasa, mungkin bukan bangga menjadi orang Indonesia. Aku bangga menjadi orang yang TINGGAL di Indonesia.

Until now, I still keep saying: I don’t love the country, but i love the land of INDONESIA.

i hope we can do better, Indonesia. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s