~lanjutan Sebuah Puisi Cinta tentang Lebah

first, look at my older note

It’s been a year since i wrote that poem..

Maaf.
Aku tak bisa berdiam di dahanku semula
Menunggumu selama ini membuatku lelah menoleh ke atas
Kau sudah terlalu tinggi, meskipun aku masih bisa melihatmu
Akhirnya sesekali kau menoleh ke bawah, ke arahku!
Itu membuatku senang, sangat bahagia
‘Aku harus meraihmu. Pergi ke tempatmu,’ pikirku pada suatu hari
Maka aku berusaha menyusulmu
Meski sayapku terluka, sekuat tenaga aku akan mencari segala cara untuk bisa meraihmu
Aku menapaki dahan demi dahan yang berbeda dengan yang kau tapaki dulu
Aku bahkan tak tahu ujungnya di mana
‘Setidaknya aku akan sama tingginya denganmu, setelah itu urusan nanti,” pikirku
Setelah lama kutapaki dahan demi dahan,
aku merasa puncaknya masih saja jauh
Di tengah jalan aku merasa, kini bukan kau lagi sasaranku
Bukan kau lagi yang ingin kutemui
entah apa. aku tidak tahu pasti
Dalam perjalanan, aku menemui sesuatu yang membuatku bisa mengalihkan pikiranku darimu
Ia indah dan menarik
Sesuatu
Bisa terbang
Bisa mengangkatku lebih tinggi dari apa yang aku bayangkan
Kini aku di awan
Aku tersadar
Hei! Aku masih melihatmu!
Kita mungkin sejajar sekarang. sama tinggi
Tapi aku tetap tak bisa meraihmu
Kau tetap jauh
Harus bagaimana?
Aku terkungkung dengan sesuatu yang baru ini
Tapi mataku tak bisa menoleh daripadamu

December 12, 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s